Tentang Perpisahan yang Susah Payah Dihindari, tapi Nyatanya Justru Terasa Sedekat Nadi

perpisahan yang dihindari

“Kamu bisa lari, tapi kamu tidak bisa bersembunyi “

Advertisement

Saya pun sepertinya, kalau melihat judul di atas. Membayangkannya saja sudah sesakit apa kepala saya, entah kamu pun ngerasainnya juga gimana yah kalo berbicara tentang kepisahan. Namun yang jelas, perpisahan itu nyata dan bukan hal yang bisa kamu hindari, meskipun kamu memohon pada siapapun dimuka bumi ini. Jika kamu harus berpisah, maka perpisahan lah jalannya

Saya tahu, Tuhan menciptakan semuanya itu berpasang pasangan. Bukan tentang ciptaannya saja, bahkan sebuah kata pun ada pasangannya, seperti buka dan tutup, hitam dan putih, terang dan gelap, sedih dan senang. Seperhatian itu ya? Karena itulah yang akhirnya menjadi pertanyaan saya sampai saat ini, “Kenapa harus ada pertemuan jika emang ujungnya adalah perpisahan?"

Saya sebisa dan semampu saya terus mencari jawaban dari pertanyaan ini, kenapa semuanya harus ada perpisahan? Apakah dengan perpisahan, manusia diuji untuk sejauh mana bisa merelakan? Kenapa Tuhan menguji kita dengan hal yang sulit? Katanya Tuhan tidak akan menguji kita sampai batas kita sebagai makhluknya?

Advertisement

Ada satu hal yang tergiang dalam benak saya. Manusia sangat takut sekali dijumpai oleh sebuah perpisahan. Mungkin karena kebersamaan dan kehangatannya, manusia jadi tidak ingin berpisah. Saya pun menyadari bahwa saya takuti adalah bagaimana saya menyikapi sebuah perubahan setelahnya. Yang tadinya biasa jadi tidak terbiasa, yang tadinya apa-apa bersama sekarang sendiri. Beda ya rasanya, mungkin itu yang saya takuti.

Namun semakin ke sini, saya makin mengerti bahwa memang ada perlunya kita harus dipertemukan dengan sebuah perpisahan. Saya sadar, saya tidak bisa mengenggam semuanya dalam kepalan tangan saya. Saya tau, akan sesedih apa rasanya. Tapi untuk sesuatu hal yang baik, akan saya terima dengan senang hati walaupun seberat apapun bayarannya demi satu tujuan, yakni kebaikan

Advertisement

Saya mencoba menjabarkan tahapan di mana sebuah perpisahan itu amat sangat menakutkan untuk sebagian orang. Saya pernah ada di masa ketika orang-orang mendoakan saya “ langgeng ya“  atau “ bahagia terus ya“. Ujung-ujungnya mah sama aja. Berpisah dengan segala hal. Banyak sih, enggak tentang perasaan saja. Kadang pertemanan dan masa-masa indah lainnya. Bahkan, untuk hal yang menyenangkan sekalipun kita dipaksa untuk berpisah di dalamnya.

Sebuah lagu The Script yang judulya Six Degree of Separation membuka mata saya bahwa perpisahan memang buruk. Meskipun begitu, akan selalu ada harapan baik di dalamnya untuk tumbuh. Berikut ini, salah satu lirik bagus yang saya akan jelaskan bahwa perpisahan bukal hal yang buruk buruk amat ternyata.


(First, you think the worst is the broken heart


Di tahap ini, saya akan bertanya tanya dalam benak. Kenapa ini harus terjadi? Kenapa saya harus berpisah dengan hal baik atau yang menyenangkan yang saya terima? Apa segitu tidak layaknya saya mendapatkan ini semua? Tahu kan rasanya berpisah dengan apapun itu gimana? Patah hati ini membuat seakan akan bumi ini berakhir untuk hal yang buruk.


What’s gonna kill you is second part


Ini tahap yang berat, karena patah hati inilah yang membuat diri kita mengutuk semua hal buruk yang terjadi. Seakan-akan kitalah tersangka yang tidak dapat termaafkan. Karena di tahap ini, harapan dan impian yang sudah dibangun. Runtuh seruntuh-runtuhnya


And the third, is when your world split down the middle


Di bagian ini, kita ngerasa kalau dunia itu rasanya berat banget. Padahal ini adalah adaptasi baru dengan dunia baru, ketika  kita mulai semuanya dari bawah yang tanpa harapan dan arah yang jelas dan harus berangkat dari luka dan patah hati karena perpisahan itu sendiri.


And fourth, you’re gonna think that you fixed yourself


Kuncinya kontemplasi, harus banyak renungan yang kamu ilhami agar bisa bangkit di tahap ini. Sebab, kamu butuh orang lain untuk menguatkan kamu dan mendorong kamu untuk bangkit lagi dari patah hati kamu. Perbaiki semuanya, jadikan retrospeksi adalah patokan dalam hidupmu. Supaya hal yang telah membuat kamu jatuh, seperti harapan, impian dan angan angan bisa kamu kejar raih lagi. Berangkatlah dari luka dan jadikan itu hal yang kuat agar kamu bisa tumbuh.


Fifth, you seem them out with someone else


Kamu akan merasakan, kamu saat ini lagi menopang diri kamu sendiri. Tidak ada beban berat yang dipikul pada saat itu, akan aneh emang. Yang biasanya bareng-bareng. Kamu berjalan sendiri tanpa siapapun di kanan dan kiri tubuhmu.


And the sixth, its when you admit. You may have f*** up the little


Ini tahapan penting, sebuah pengakuan dan kejujuran. Saya sadar telah melakukan beberapa kesalahan yang akhirnya menjadikan perpisahan menjadi tidak bisa terhindarkan. Meskipun demikian, saya mau belajar dan mencoba untuk memperbaiki dan tidak mengulanginya lagi di waktu mendatang. Pasti di tahap ini semuanya akan lebih hati-hati lagi agar tidak terjadi patah hati lagi.

Setelah semua kata bijak yang terucap dari sekitaran saya, saya pun mencoba memahami ternyata untuk menjadikan segala sesuatunya menjadi lebih baik. Bahkan saya harus merelakan sesuatu yang baik dalam hidup saya, sesuatu yang saya raih setengah mati akhirnya hanya diikhlaskan untuk hal yang lebih baik lagi untuk saya dapatkan.

Memang sulit, tapi percaya saja Tuhan selalu ada rencana baik yang menyenangkan untuk kita. Tunggu saja dan selalu berprasangka baik sama Tuhan ketika semuanya belum terjawab satu satu pertanyaan kita. Kalau kita bisa berprasangka baik sama manusia, masa kita enggak bisa melakukan hal yang sama ke Pencipta kita?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pemain bola yang selalu mulai dari posisi bangku cadangan. hobi menggerutu jika melihat peluang bagus terlewatkan dan berkata " kalo gua pasti masuk tuh "

Editor

une femme libre

CLOSE