[CERPEN] Perpisahan Tidak Selamanya Buruk

cerpen keluarga

"Kamu yakin, nggak papa kalau aku ambil beasiswanya?" tanyanya.

Advertisement

"Iya, nggak papa ambil saja. Ini cita-citamu untuk bisa kuliah lagi di Eropa," jawabku meyakinkan.

"Tapi kita baru menikah. Aku ga mau meninggalkan kamu. Nanti kamu sama siapa?" tanyanya kembali.

"Ini demi cita-citamu, kan. Aku dukung kamu. Aku tinggal sama orang tuaku saja, ya. Aku ngapain di sini kalau sendirian nggak ada kamu," jawabku sambil menguatkan hatiku sendiri.

Advertisement

"Lalu untuk punya anak, bagaimana?" tanyanya dengan nada khawatir.

"Kita tunda saja. Yang penting kamu," jawabku menenangkannya.

Advertisement

Kami yang kala itu sedang makan malam di sebuah restorang kota Bandung hanya bisa saling menguatkan.Sebelum menikah, aku tahu bahwa calon suamiku sangat mengingikan untuk studi lagi di Benua Biru. Cita-citanya yang sudah ada jauh sebelum dia mengenalku. Aku yang kala itu mengetahuinya sangat mendukung keinginannya karena aku tahu bahwa keinginan dirinya untuk mengejar ilmu hingga tahap doktoral.

Saat menikah, aku sudah tahu bahwa hal ini akan terjadi cepat atau lambat dan aku hanya bisa mendukung walau akan sulit ke depannya. Kami yang kala itu baru menikah selama delapan bulan harus memilih antara menolak tawaran tersebut atau menerimanya. Kami tahu ada taruhan besar ketika menerima tawaran beasiswa. Kami harus terpisah benua dan menunda banyak hal. Dia yang sempat berpikir untuk mundur dan aku yang masih ngotot menerima tawaran tersebut membuat kami berdiskusi lama. Tidak mudah mengambil sebuah keputusan, namun karena hal ini sudah ada jauh sebelum kami saling kenal maka aku sebagai istri akan mendukung apapun cita-cita suamiku. 

Setelah berdiskusi cukup panjang maka diputuskan bahwa dia mengambil tawaran beasiswa dan aku kembali ke kota asal kami, Surabaya. Kami urus semua kebutuhan untuk memperlancar kepergiannya. Mulai dari surat-surat, pakaian yang harus dibawa, izin karena dirinya adalah seorang ASN (Aparatur Sipil Negara), perpindahan tempat tinggal hingga kesiapan hati yang terus dikuatkan.

Tiba saat kepergiannya. Aku berusaha menguatkan hatiku dengan tidak menangis di Bandara Juanda. Dia diantar oleh kedua orangtua kami. Aku hanya bisa diam dan berdoa agar semuanya baik-baik saja. Hati siapa yang tidak sedih ketika pasangan suami istri baru menikah harus terpisah karena salah satu harus mengejar mimpi. Satu sisi, aku tahu bahwa ini adalah mimpinya dan kami sudah sepakat untuk terpisah sementara. Diiringi isak tangi orang tuanya, dia berangkat ke benua biru. Terselip doa dalam hati, "Tuhan, dirinya adalah milik-Mu. Aku kembalikan lagi pada-Mu dan tolong jaga dia di manapun dirinya berada dan lancarkanlah kuliahnya."

Hari-hari pertama, merupakan hari yang berat. Kami sudah terbiasa berdua harus terpisah jarak yang sangat jauh dan perbedaan waktu. Komunikasi kala itu tidak seperti saat ini. Kami hanya bisa berkomunikasi maluli Yahoo!Messenger atau Skype dengan sinyal yang tidak terlalu baik. Saat bersama kami nyaris tidak pernah ada pertengkaran dan ketika berjauhan sudah mulai ada pertengkarang kecil. Hal ini dikarenakan sulitnya berkomunikasi. Perasaan rindu dan sepi selalu hadir tiap harinya. Dirinya yang selalu khawatir mengenai keadaanku dan sulitnya beradaptasi dengan lingkungan yang benar-benar baru. Sedangkan aku yang mengkhawatirkan dirinya yang harus melakukan semuanya sendiri sekaligus menenangkan keluarganya yang ada di sini.

Hingga tak berasa waktu berjalan satu tahun. Selama satu tahun itu dia tidak pernah pulang karena memang tidak ada ketersediaan dana. Uang yang dikumpulkan untuk menutupi hutang yang sebelumnya digunakan untuk biaya keberangkatannya. Kami masih baik-baik. Memang ada perdebatan untuk masalah-masalah sepele karena memang banyaknya kendala untuk berkomunikasi tapi kami mampu melaluinya.

Menjelang tahun kedua, dirinya pulang ke Indonesia. Dia mengatakan bahwa dia sudah tidak betah terlalu lama berpisah dan dia butuh menyegarkan kembali otaknya untuk persiapan tesisnya. Kami akhirnya bertemu, setelah lama memendam rindu. Kami bulan madu, karena sebelumnya kami tidak sempat untuk berbulan madu. Kami mengalami hari-hari penuh kemesraan. Tiga bulan penuh kami menghabiskan waktu bersama menikmati waktu berliburnya sebelum dia kembali lagi ke Eropa. Saat dia kembali lagi ke Eropa hati kami sudah ringan karena kami melewati hari-hari penuh kebahagiaan. 

Dari sini kami belajar bahwa menikah tidak harus selalu bersama dalam hal apapun. Dengan terpisah sementara kami bisa belajar bahwa untuk menggapai sesuatu memang ada yang harus dikorbankan dan akan menghasilkan hal indah pada akhirnya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE