”Ojok sok! Sopo koen iku cok? Koen iku arek cilik, gak usah wani-wani nyedeki Gibran!” *Plak*


Masih jelas di ingatan saya, tigas belas tahun silam ketika baru saja selesai masa orientasi sekolah (MOS) di tingkat menengah pertama (SMP), sekelompok kakak kelas paling hits di sekolah mendatangi kelas kami di jam istirahat. Satu dari mereka mencari teman wanita kami (sebut saja si A), menariknya keluar, lalu dia naik ke atas sebuah tempat duduk panjang dari semen di depan kelas, dan meneriakkan kata-kata itu. Sontak, kami yang ada di dalam kelas itu pun tergiring keluar mengikuti mereka. Sejujurnya, arti kata-kata itu sangat kasar bagi kami orang-orang di daerah Jawa Timur. Seperti ini artinya, ”Jangan banyak tingkah! Siapa kamu, *kata makian*? Kamu itu anak kecil, jangan berani-berani mendekati Gibran!” Mereka membuat gaduh.

Advertisement

Dan kegaduhannya membuat teman-teman kelas VII di enam kelas lain yang berderet di satu lorong yang sama dengan kelas kami, berbondong-bondong ingin menyaksikan. Saya ada disana, saya hanya terdiam sebagai salah satu penonton (bystander), dan tak bergeming sedikitpun. Saya merekam dengan jelas bagaimana teriakan mereka menakutkan dua ratusan lebih bocah ingusan yang baru saja bangga dengan kostum barunya, putih-biru. Bukan cuman berteriak, orang yang kami segani dan biasa kami panggil senior ini pun tak canggung mengangkat tangannya dan mendaratkannya ke pipi si A diiringi sorakan anggota geng-nya. Tak cukup hanya itu, para senior yang tak punya belas kasihan ini pun beberapa kali menarik rambut si A bahkan mendorongnya. Menangis dan ya, hanya menangis. Begitulah respons si A.

Sejak saat itu, si A mendadak berubah, dia lebih pendiam, ya, sepertinya karena dia trauma dan ketakutan. Entahlah. Dia tak lagi bersemangat menghabiskan waktunya di luar kelas untuk ke kantin atau sekedar duduk santai di depan kelas ketika jam istirahat ataupun jam kosong. Secara psikologis si A ini mengalami tekanan, dia kehilangan rasa percaya diri dan keberhargaannya, sungguh malang sekali! Meski begitu, kami pun tetap dengan posisi kami saat dan setelah kejadian, yaitu, hanya diam. Kami tidak berani untuk speak up dengan melaporkan keadaan ini kepada Bapak/Ibu guru. Karena pikir kami, jika itu terjadi, kami akan dijadikan bulan-bulanan berikutnya oleh para senior itu.

Egois? Iya, memang terlalu egois dan naif pemikiran remaja di zaman kami saat itu. Pemikiran yang jauh bertolak belakang dengan para remaja di zaman sekarang ini, ya, di zaman milenial. Dimana mereka lebih berani untuk mengangkat bahkan menyebarkan banyak peristiwa dengan mudah sekali melalui media sosial pribadi mereka (di-viralkan).

Advertisement

Lima tahun berlalu, semenjak peristiwa bullying di masa awal putih-biru itu terjadi. Saya akhirnya memasuki masa putih abu-abu, dan telah menjadi seorang senior. Entah apa yang saya pikirkan saat itu, ketika tiba-tiba saya memilih untuk melakukannya. Saya menerobos pintu kelasnya dan, ”Koen pikir sopo koen, heh? Wani koen ngomong ngunu maneh, tak entekno koen! Jek arek umbelen ae wani-wanine nantang senior!” *Brakk* (Kamu pikir kamu siapa? Berani kamu bicara seperti itu lagi, aku buat kamu menderita (ku-habisi kamu). Masih anak ingusan saja berani menantang senior!).  Kasar dan menusuk hati, begitulah makian dan teriakan saya kepada si junior di kelas X.

Beberapa kali saya menggebrak mejanya, lalu riuhlah teriakan dukungan dari beberapa teman yang ikut bersama saya. Hah? Saya melakukannya? Iya, saya sedang melakukan suatu tindakan yang akibatnya sudah pernah saya lihat sendiri. Sebuah akibat yang membuat seseorang menjadi hancur, lemah, dan tertekan. Saya sedang merusak psikologi seseorang. Wake up! Tapi mendadak semuanya menjadi candu, saya tak mampu mengendalikan dan menghentikan diri saya. Sekali, dua kali, dan berlanjut terus sampai saya sendiri semakin terhanyut dengan label seorang senior penuh power, ditakuti, dan terlihat keren. Sekalipun memang bukan aksi bully fisik yang saya pilih, mengingat saya akan lebih suka mengeluarkan kata-kata makian yang menjatuhkan mental seseorang (verbal bullying), tapi saya sungguh menyesal pernah melakukan semua itu. Alih-alih menjadi figur terbaik bagi para junior, saya justru telah meresahkan bahkan menghambat tumbuh kembang mereka dalam mendapatkan pendidikan dan pengajaran.

Saya sungguh menyesal pernah melakukan bullying. Perasaan itu semakin memuncak ketika saya bekerja sebagai wartawan koran lokal di Jawa Timur. Saat itu, saya menemukan kasus bullying terhadap gadis remaja yang belajar di sebuah sekolah kejar paket (sebut saja si B). Gadis ini di bully oleh sekelompok geng senior di kotanya. Tak jauh-jauh dari isu berebut makhluk bernama lelaki jadi alasannya. Video penyiksaannya mendadak viral di kotanya. Dia dipukul, didorong, ditarik rambutnya, bahkan disiram air es. Saat itu, dia tak mampu lari kemana-mana, beruntung seorang lelaki yang berada dalam kelompok pelaku membela dan segera mengamankannya. Sampai malam, ketika video penyiksaannya disebarkan oleh salah satu pelaku di media sosial, si B yang ditinggal ayah dan ibunya lantaran harus menjalani hukuman penjara karena mengedarkan narkoba, memilih untuk segera melaporkan peristiwa yang menimpa dirinya ke kantor polisi.

Saya menjumpainya dengan keadaan yang sungguh miris sekali, dengan beberapa luka di wajahnya. Sang pelaku menuturkan bahwa si B ini adalah wanita nakal yang suka merebut pacar orang, jadi bagi mereka wajar untuk mem-bully si B ini. Terlepas dari hasrat untuk membela si B, tapi saya menemuinya, saya kerumahnya, dan kami beberapa kali nongkrong bareng. Saya menemukan dan membacanya tak lebih dari seorang gadis polos yang berjuang memberi makan adik kecilnya dengan menjadi seorang pelayan di sebuah kafe remang-remang.


Sering digoda? Sudah pasti.


Tergoda untuk menjalin hubungan gelap? Sudah pasti. Semua dia lakukan hanya untuk mendapatkan uang. Dia butuh bertahan hidup bersama adik kecilnya. Terlalu dini menurut saya, untuk remaja 15 tahun ini menghadapi kenyataan bahwa bapak ibunya masuk penjara, dan dia harus bisa memberi makan-merawat adiknya seorang diri. Bisa bayangkan jika kalian, ya, kalian para pelaku, yang harus berjalan memakai sepatunya? Mampukah kalian tetap melanjutkan hidup? Mampukah kalian bertahan di kondisi-posisi seperti itu? Dia harus bekerja dari sore hingga subuh menjelang, keesokan paginya mengurus adiknya untuk bersekolah, dan di siang sampai sore hari harus belajar di sekolah kejar paket. Bisakah kalian menggantikannya? Jangan pernah cepat berespons. Jangan pernah menganggap pemikiranmu yang selalu benar, karena pada dasarnya semua orang akan benar menurut anggapannya sendiri. Dan sejujurnya, perlu untuk dicatat dan direnungkan bersama bahwa, “Kita harus berhenti menghakimi seseorang, karena kita tak pernah berjalan di atas sepatunya.”

Guys, kita ini bukan Tuhan, kita tidak pernah tahu apa sebenarnya yang terjadi di dalam hidup sang korban bully sehingga kita berpikir dia pantas untuk dijadikan bahan bully-an kita. Kita tak pantas menghakimi siapapun dengan omelan, teriakan, bahkan kepalan tangan kita untuk menyatakan bahwa kita lah yang paling benar dalam posisi tertentu. No! Stop it! Itu hanya asumsi. Cobalah untuk menunda berespons cepat, dinginkan hati dan pikiranmu, netralkan semuanya, dan barulah berespons. Marah itu boleh, tapi jangan sampai itu berubah jadi murka yang menghancurkan banyak orang disekitar kalian, orang yang kalian kasihi, bahkan diri kalian sendiri.

Kebiasaan kita adalah, kita sering menularkan asumsi, perasaan iri hati, dan benci kalian kepada orang-orang di sekitar kita. Sehingga, mereka terpancing untuk punya sense of belonging terhadap permasalah kita lalu mereka bergabung untuk berespons cepat dengan melakukan aksi bullying. Sekali lagi, bullying sangat amat tidak keren! Itu adalah jalan yang tak patas dipilih. Masa depan kita akan lebih indah dan berwarna jika kita tak mengotorinya dengan aksi bully-mem-bully. Harusnya yang disebarkan itu semangat, saling mendukung, penuh kasih, dan cinta damai dalam lingkungan pergaulan kalian.

So, dear generasi Milenial, mengapa akhir-akhir ini kita mudah terserang penyakit asumsi, iri hati dan benci? Bukankah hidup saling mengasihi lebih nikmat? Berusahalah berdamai dengan perasaan dan diri kita sendiri, menguasai nafsu untuk menyakiti sesama kita, dan paling penting mulai belajar menghindari berespons cepat, dan menggantikannya dengan berespons benar, plis

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya