Di hari itu, aku begitu bahagia. Berikhrar janji dihadapan Allah, cinta suci yang selama ini aku nanti. Bersumpah sehidup semati, membimbing, berjalan beriring iman. Kamu, menyematkan cincin ke jari manisku, tersenyum lembut penuh syukur, mengisyaratkan “Aku mencintaimu”. Cahaya camera terpancar tepat di antara dua pandangan, binar merekah menggenggam jari. 

Kamu, sosok penantian yang aku cari, sosok imam yang aku nanti dan harapan terbesar di hati. Tidak pernah ku duga, kamu datang dengan tiba – tiba, menyematkan senyum sapa dan ternyata itu adalah milikku. Ya, satu – satu nya milikku, yang bersedia hadir sampai pergi dalam kematian. Aku bersyukur, kita bisa bertemu.

Advertisement

Puluhan pasang mata menatap haru dan menyaksikan seseorang berkata.

“Allah mempertemukan kita di waktu yang tepat dan bersanding dengan pilihan yang tepat. Tidak heran pula, nampak mata yang meneteskan airnya. Tidak berkecukupan berucap syukur, karena Dia Maha Baik mempertemukan ku dalam suatu keadaan yang begitu di harapkan. Aku benar-benar mencintaimu”

Berbalut gaun biru dongker perak penuh gemerlap, sendal berkilau bak cinderella, melangkah gemulai menuju persinggahan. Kamu, dengan jas biru dongker berlapis aura takwa yang aku cintai. Sebelumnya ku peluk erat-erat tubuh ayah dan berbisik.

Advertisement

“Ayah.. aku sudah menemukan imamku, aku bahagia dengannya. Lepas aku dengan ikhlas ya Ayah, tugasmu cukup sampai disini, tenang Ayah, akan aku gantikan dengan cucu yang lucu.”

Sosok Ayah perkasa dan ku katakan galak, di hari ini satu – satunya pria yang menangis lepas. Tak di hiraukannya lagi, cahaya kamera memantau gerak-geriknya.

Beberapa kali melepas kacamata di sudut pelaminan. Ayah.. yang dulu aku jadikan panutan, sekarang tugasnya sudah lah selesai. Mempercayai sepenuhnya dengan kamu, utusan Allah yang dikirim untukku. Ketika suasana hening, Ayah mengambil alih microphone yang di genggan MC.

“Untuk putri kecilku.. Ayah ikhlas nak, kamu berbahagia dengannya. Ayah ikhlas, tugas Ayah diambil alih oleh suamimu. Patuhilah suamimu, seperti saat bersama Ayah dulu. Bantu dia membangun rumah tangga menjadi istana yang penuh damai. Ayah akan terus mencintaimu, meski sekarang sudah ada yang lebih mencintaimu.”

Masih pada suasana haru, microphone belum berpindah tangan dari genggamam Ayah. Dengan nada yang tidak sekuat biasanya, Ayah kembali bicara.

“Untuk menantuku. Hari ini aku menyerahkan putri kecilku padamu. Hiasi rumah tanggamu dengan sepenggal ayat Al-Quran. Jaga dia selalu, jangan sekalipun buatnya menangis dan kecewa. Jika itu terjadi, temui aku dulu. Nanti akulah yang akan menjemput sendiri”

Bukan menjadi hari lagi, tapi air mata sudah membuang banyak tissue. Seakan basah dan membanjiri banyak pasang mata di hadapanku. 

Dan tiba-tiba “Gubrakk..”

Aku terbangun dan dadaku sangat sesak, menyisakan air mata saat acara tadi. Ternyata ini semua mimpi. Aku yang masih harus bersabar untuk merasakan itu semua. Mimpiku terasa nyata, bahkan air mata tidak sempat aku tinggalkan dalam kebahagiaan itu. Air mata ikut aku bawa ketika aku terbangun. Oke baiklah, kesabaran penantianku belum berakhir.

Untuk kamu, imamku yang hadir dalam mimpi. Apakah itu kamu? Aku berharap itu kamu benar untukku. Seseorang yang selalu aku nanti dalam diam. Temui aku segera, aku ingin memilikimu dengan utuh.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya