Kisah ini terjadi pada masa konflik di Aceh musim kemarau tahun 2000. Seorang penduduk lokal yang diketahui bernama Bang Monek berangkat bertolak dari rumah pergi menuju Lampoh Jirat (wakaf pemakaman) yang tidak jauh dari Mushola.

Bang Monek merupakan dosen termuda di salah satu kampus terkenal di kotanya, Banda Aceh. Ia mengajar mata kuliah fisika. Ia telah menerbitkan beberapa buku yang semuanya best seller. Kecendrungannya ialah hal-hal berbau mistik, karena itu Ia mengoleksi benda-benda antik yang semuanya dibeli via online.

Bang Monek berjalan mengambil langkah. Ia didorong oleh sesuatu yang begitu kuat, sesuatu yang begitu mengakar dalam kepala, yang sudah lama ingin dibuktikannya pada dunia. Dunia yang sedang dikoyak oleh rasa benci dan keserakan. Dunia yang dimandikan darah konflik tiada kesudahan. Sampai, ia langsung menengadah kepala melayang-layangkan pandangan pada pohon-pohon kelapa. Sesaat Ia tersenyum, lalu bergerak maju mendekati salah satunya. Tidak lama, Ia pun sampai.

Matanya menatap tajam pohon kelapa itu. Kemudian Ia menengadahkan kepala melihat lurus ke atas. Ia memperhatikan buah-buah sebesar bola bowling berkarangan sebelah kiri dan kanan. Hijau, bersih, tidak ada Tupai. Matanya kemudian menangkap daun-daun sedang digoyang-goyangkan angin, hijau dan lebat. Mukanya cerah, senyuman terbentuk. Di julurkannya tangan kanan memegang batang pohon kelapa.

“Ini yang terpanjang!”

Advertisement

Dijulurkannya tangan sebelah lagi memegang batang pohon kelapa. Kaki kanan diangkat berbentuk siku kemudian di tempelknya ujung kaki pada batang. Selesai. Kedua tangannya nampak memegang erat-erat batang pohon kelapa tersebut. Dengan segera kaki kiri pun diangkat, menginjak ruas kecil pada batang. Selesai, ia pun sudah memeluk pohon kelapa dengan posisi wajah menempel pada batangnya.

Dari kejauhan ada seorang anak kecil memperhatikan. Ia memperhatikan aksi yang dilakukan oleh orang yang paling disegani di kampung mereka. Anak kecil itu melihat Bang Monek mulai memanjat-manjat pada batang pohon kelapa. Keningnya mengerut. Kemudian ia lari menghilang ditelan tikungan lorong.

Bang Monek nampak begitu kepayahan memanjat pohon kelapa tersebut. Ia berhenti ditengah-tengah. Mukanya masih berposisi menempel pada batang pohon kelapa tersebut. Kedua lubang hidungnya terlihat mengembang, Ia menarik nafas secukupnya. Ia melihat ke bawah, lalu diangkatnya kepala melihat ke atas.


“Bisakah besok saja kita panjat setengahnya lagi?” pikirnya.


Tubuhnya mengeluarkan keringat. Bajunya basah di bagian dada. Ia melihat ke sekeliling, tanpa sengaja matanya menangkap 2 ekor tupai. Kedua tupai itu sedang berlari-lari secara vertikal begitu mudahnya pada batang pohon kelapa lain, di sebelah punyanya.


“Tidak!” gumamnya.


Kali ini Ia menghirup nafas lebih dalam, lebih dalam dan lebih dalam. Kemudian Ia mulai memanjat, kembali memanjat dan memanjat. Dan sampai! Ia berhasil sampai di pucuk, duduk pada salah satu dasar daun menghadap ke utara. Wajahnya sumringah. Tangannya dijulurkan ke depan menyentuh mayang. Dari arah barat angin kembali berhembus, membelainya. Ia memejam kedua mata sambil menghadapkan wajah ke atas. Kali ini senyuman indah terlukis, melebar pada wajahnya.

Waktu berlalu 1 menit. Hampir saja ia benar-benar terlelap. Tiba-tiba suara berisik tupai-tupai yang sedang bertengkar membangunkannya, membangunkan ia dari lamunannya. Tiba-tiba Ia teringat maksudnya. Ia menundukkan pandangan melihat ke bawah, mencari tanah kosong yang belum terisi. Lalu Ia menyimpulkan tinggi pohon kelapa 15 meter.


“Apa yang membuat seorang Ninja dapat mengalah gravitasi?” pikirnya, “kecepatan!”

“Siapa pemilik rekor loncatan tercepat di dunia? Kutu! Apa yang membuat Kutu mampu mendarat setelah melompat 150 kali lebih tinggi dari badannya?” pikirnya lagi, “kaki yang siap … gravitasi hanya ilusi!”


Matanya masih melihat ke bawah. Kedua tangannya memegang pada masing-masing daun, kini tubuhnya berposisi start jongkok. Mukanya tegang, matanya melotot. Pori-pori dahi terlihat mengeluarkan peluh. Sekitar 30 detik berlalu, Ia masih berpikir.

Kali ini mukanya lebih tegang. Keringat mulai mengalir pada wajah. Nafasnya memburu dahsyat. Ia melihat lagi ke bawah, lagi dan lagi.


“Apa yang di dunia ini yang lebih mengerikan dari patah tulang?” pikirnya, “patah hati!”

“Apa yang lebih buruk dari patah hati?”


Bang monek terlihat sedang mengolah data. Sekitar 3 menit berlalu. Ia masih memikirkan jawaban, namun belum ditemukan satu pun yang Ia anggap tepat. Lalu tiba-tiba Ia teringat pada temannya yang mati terkapar 3 tahun lalu di dalam toilet kampus karena menegak racun tikus setelah dilecehkan oleh seorang perempuan hari itu juga. Kemudian Ia teringat lagi nasib sahabatnya yang sekarang berada di Jalan. Kakap, tepatnya Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh karena kasus serupa.


“Tidak ada!” pikirnya, “tidak ada!”


Ia menarik nafas. Tiba-tiba … Ia pun meloncat, lepas landas! Baju dan unjung celananya terangkat mengikuti ritme angin. Matanya melotot. Mulutnya terbuka. 3 meter menuju landing, kedua kaki dijulurkan tegak … “Setegak” yang Ia bisa! 1 meter. kemudian 1 centimeter dan … akhirnya landing. Ia mendarat dalam keadaan “tegak” lalu tersungkur ke belakang. Tiba-tiba terdengar lah suara teriakan