Berat memang jika aku mengingat cerita kita dahulu saat ribuan hari selama 4 tahun hanya kuhabiskan untuk mencumbui waktu denganmu. Bahkan kado pertama di ulang tahunku darimu masih jelas kuingat walau sudah hancur kulempar dihadapanmu saat dahulu kau kuketahui diam-diam menemui wanita yang kini mungkin sedang memelukmu dengan hangat di bawah dekapan tanganmu yang dulu pernah aku tempati. Namun, cerita ini kutulis bukan untuk mengenang kembali kisah sendu itu, bukan. Bukan sama sekali.

Aku ingin memberikanmu sebuah hadiah melalui ribuan baris huruf yang kuharap dengan izin Tuhan akan sampai kepadamu.

Advertisement

Aku dahulu pernah menanam sebuah pohon kecil, di ladang yang kusebut dengan hati. Bibit pohon itu tak pernah kucari, namun ia datang sendiri dengan keadaannya yang gersang dan kering. Dengan kasih kurawat pohon itu, hingga mulai bersemi daun-daun muda hijau yang menyejukkan mata setiap orang yang memandangnya. Rindang, kamu membawa kedamaian baru di dalam hatiku.

Aku biarkan pohon itu tumbuh semakin tinggi, semakin lebat pula daun-daun yang mengindahkannya, aku sadar aku takut kelak angin besar akan merobohkannya, melukai ranting-ranting kecilnya atau bahkan menggugurkan daun-daun itu. Namun aku yakin, ia adalah pohon yang kuat. Pohonku yang tidak akan goyah hanya karena badai yang lewat bersama angin lalu.

Tahukah siapa pohon itu? Iya dia adalah kamu. Laki-laki yang pernah memintaku berjuang bersama dan menerimamu apa adanya jika cita-citamu sebagai seorang abdi negara tidak terwujud.

Advertisement

Aku, yang saat itu memandangmu sebagaimana dirimu yang dahulu. Dengan tulus ikhlas membawa namamu dalam doa, meminta yg terbaik hingga akhirnya Tuhan memberimu tanggung jawab sebagai yang terpilih.

Dan pohonku telah berbuah, manis…

Tapi aku lupa, aku hanya sibuk merawatmu untuk tumbuh, aku lupa menjagamu. Aku lupa memberi pagar dan batas bahwa pohon ini milikku. Hingga pada akhirnya, saat kulihat buahmu kau bagikan kepada orang lain sebelum aku mencicipinya sebagai petani yang menanammu di kebunku dulu.

Aku, tiba-tiba kau sisihkan.

Aku tiba-tiba kau minta pergi menanam pohon baru. Sedang kamu yang ku pupuk sekian lama sudah mempunyai pemilik baru yang kau pilih untuk bersandar padamu, aku tahu memang aku tidak seperti dia, aku terlalu lelah mengurusimu hingga kulitku legam menghitam demi agar kau mendapatkan cahaya mentari untuk terus tumbuh. Sedang dia sibuk mempercantik di dalam rumah menunggu lengan lentiknya memanen dirimu.

Itulah aku yang dulu, sekarang aku telah menebang kenangmu dari ladang hatiku, sekarang akar-akarmu telah tercabut, serakan serakan daunmu sudah kubakar dengan keikhlasan. Ketulusanku mengenangmu sebagai sebuah pelajaran adalah hadiah yang kuberi di hari pernikahanmu ini, semoga berbahagia dan jangan pernah menjadi pohon yang lemah.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya