Aksara Jingga

Senja yang beredup mengisahkan kisah yang tertinggal.

Advertisement

Kita hanya mampu menyapa dalam hening do'a. Dan memandang bulan dari kejauhan pada langit yang serupa.

Pena yang menjadi saksi. Dalam tiap bait aksara.

Sketsa rupamu mewarnai. Lembaran tiap lembaran pada kertas putih.

Advertisement

Aku melipat hati ini,

Jemari ku tiada henti mengukir tanpa jeda.

Aku melipat hati ini,

Bukan tuk memadamkan pada dunia.

Aku melipat hati ini,

Untuk sesaat sembari menunggu,

Menunggu dirimu,

Dapat menemukan kembali kepingan hati. Menemukan kembali figure forum, bukan maya melainkan nyata. Menemukan kembali kunci hati.

Hati yang dirimu bawa pergi.

Hati yang tertinggal.

Jingga terindah dalam menuai kisah kembali.

Persimpangan Jalan

Waktu bergulir,

Mengurai kembali dalam ingatan.

Waktu bergulir,

Tetapi masih sangat jelas hadir bayangmu.

Waktu bergulir,

Menjelma dalam sanubari.

Waktu bergulir,

Meremuk meredam dalam diri.

Tersadar,

Dirimu telah jauh pergi. Dirimu telah berlalu.

Tinggal bayangan semu menjelma pada simpang tersembunyi.

Pernah kita merajai saling mengisi. Berjuang tiada jemu. Melangkah dipersimpangan penghujung jalan yang entah sampai kapan dapat bersua.

Dan diri ini masih setia menanti disini, agar semesta menyemogakan dirimu kembali.

Tiada batas kesabaran ini menggenggam menyelimuti dalam relung hati.

Anggun Gerardine/@anggungerardine

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya