Gadis Di Seberang Kota


Untuk kamu yang di seberang sana,

Advertisement

Gadis yang senyumnya saya amati dari kejauhan,

Bertahan dalam lengkungan bibir tipis, yang saya sebut: manis

Apa kabar?

Advertisement

Pertanyaan aneh yang saya lontarkan, padahal pun kita belum pernah berpapasan.

Untuk kamu yang di seberang sana,

Kita berkenalan dengan cara yang amat sederhana

Tanpa pertemuan, tanpa tatap muka

Hanya dengan barisan pesan teks di layar datar dan atap langit yang berisi bintang yang sama.

Untuk kamu yang di seberang sana,

Kamu menyadarkan bahwa saya tidak hidup sendirian

Ternyata ada makhluk indah yang Tuhan ciptakan,

bukan saja untuk menemani, namun juga melengkapi.

Untuk kamu yang di seberang sana,

Saya tak tahu alasan kenapa ada perasaan seunik ini

Manusia memikirkan manusia lain

Sepanjang hari dalam lamunan,

Apa yang sedang kamu kerjakan?

Apa yang sedang kamu pikirkan?

Saya tak tahu.

Yang jelas saya tahu, Tuhan menitipkan itu agar kita bisa saling mengasihi, saling menyayangi.

Omong-omong, apa sayangnya kamu sudah dimiliki?

Untuk kamu yang di seberang sana,

Yang menerima saya sebagai teman, teman dari kejauhan

Saya harap kita bisa mengenal lebih jauh di sisa perjalanan

Mungkin terus sebagai teman, atau.. bisa saja kan, menjalin pertalian?

Manusia tidak pernah tahu

Ke mana arah hatinya berlabuh.

Untuk kamu yang di seberang sana,

Yang tak pernah bertemu tapi terasa bersama sepanjang waktu

Yang perjumpaannya hanya dalam lelap

Yang saat bangun menyisakan rindu yang amat sangat.

Kamu yang di seberang sana,

Yang saya harap masih sendirian,

Tunggu saya..

Yang akan menyeberang juga.


Jatuh Cinta Sendirian, Dari Kejauhan


Suatu pagi yang cerah, di kursi taman yang dikelilingi bunga, seorang gadis terheran saat pemuda asing mendekat dan tersenyum padanya.

Dalam hati, si gadis bertanya-tanya, "Siapa gerangan pemuda ini?" namun Ia memilih tak acuh dan kembali pada puluhan surat tak bertuan yang berbulan-bulan terakhir sering diterimanya. Misterius. Tanpa nama. Hanya bertuliskan 'Gadis di Seberang Kota'.

"Saya hanya sedang melihat-lihat, nona," ujarnya tiba-tiba, sedikit mengagetkan.

"Kota ini punya taman yang indah, penduduknya ramah-ramah," sambungnya sembari duduk di ujung-jauh kursi yang sama dan tersenyum memandang si gadis.

Lagi-lagi, sang gadis tak menghiraukan.

"Ada hal yang mungkin seseorang belum ketahui," ujar si pemuda.

"Bahwa mungkin saja dua orang diperkenalkan karena suatu alasan. Alasan yang masih misteri. Alasan yang mendatangkan kegundahan setiap hari."

"Bahwa mungkin saja ketidaksengajaan hadir membawa kesan yang bertahan berbulan-bulan, bertahun-tahun dan kemudian tumbuh menjadi perasaan yang utuh."

Meski bingung menerka maksud si pemuda, sang gadis mulai mendengarkan.

"Mungkin saja seseorang mengamati dari kejauhan setiap hari, berharap jika pertemuan nyata bisa terjadi"

"Sebab mungkin saja bagi seseorang melawan jarak dan menempuh waktu hanya untuk menjemput sesuatu yang dinamainya: rindu."

Sang gadis mengerutkan dahi, "apa maksud pemuda asing ini?" gumamnya dalam hati.

"Mungkin saja seseorang memimpikan semesta yang berhari-hari mendung kelak terbangun saat mentari terbit menyambut dengan tersenyum"

"Namun.. mungkin juga ini membuat seseorang semakin tidak mengerti.."

"Sebab, bagaimana mungkin seseorang tiba-tiba hadir, memecah keheningan ruang yang dihuni oleh hati yang sedang sendiri?"

"Hanya karena barisan pesan teks yang dikirim dari ribuan mil tiba dengan membawa arti tersendiri."

"Apa mungkin seseorang terlalu cepat menyimpulkan arti? Atau terlalu banyak menaruh hati?"

"Lagi-lagi, mungkin ini yang belum seseorang ketahui.."

"Mungkin saja…,"

"Hey, cantik!" suara muncul tiba-tiba dari belakang kursi, memotong perkataan si pemuda asing– bedanya,  suara ini familiar bagi si gadis. Pemuda yang dikenalnya, tersenyum membawa seikat bunga.

"Hey," sahut sang gadis.

"Sudah lama menunggu? Aku bawakanmu sesuatu," sambil mengecup kening si gadis dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Si gadis tersenyum.

Di kursi yang sama, si pemuda asing berdiri mengemas bawaannya, bergegas pergi dan meninggalkan sebuah kertas beramplop merah-muda bertuliskan 'Gadis di Seberang Kota — Hari ke-672'. Pemuda itu menjauh, tersenyum dan bergumam,

"Yah, mungkin saja…"


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya