Ibu, Engkaulah Pelitaku

Terukir jejakku sejak Ku dalam ruh kandungmu.

Advertisement

Terlahir aku memijak gempita indahnya dunia.

Melalui ragamu yang menitip dalam ruh darahku.

Melalui tangan lembutmu aku dapat berjalan tuk pertama kali memijak langkah dibumi.

Advertisement

Terangkum ceritaku ditiap lembaran cerita hidupku yang mengalir dengan sentuh kasih pengorbananmu.
Trangkum ceritaku dalam nama yang engkau sematkan dalam do'a. Mengalir do'a disetiap tengadah yang dimunajatkan.

Terima kasih Ibu, tak mampu terungkap dalam tiap pena yang kuukir, kurangkai sedemikian sederhana bercerita.
Karena kasih yang Engkau beri tak lekang oleh masa, Engkau wanita terhebat yang ku kenal pertama kali di dunia ini.
Kasihmu sepanjang usia tiada tara.

Teriring mengiringi do'a-do'a indah dan kebaikanmu di setiap hembusan nafas.
Di setiap langkah yang bergerak tuk menjadi panutan dan penuntun. Do'amu yang terkasih sungguh sangat berarti bagiku Ibu. Engkau bak mutiara berkilau nan berharga di kehidupanku. Surgaku terletak pada restu dan keridhoan darimu.

Dan aku mulai membuka lembaran per lembaran dengan membaliknya perlahan dalam album kenangan masa belia.
Semua masih tertata tersimpan sesuai letaknya.
Derai kasihmu, pengajaranmu, senantiasa mendampingi raga dikala hampa nan ceria.
Menjadi sandaran yang setiap kali kurindukan teduh kasih dalam dekapmu Ibu.
Tercurah penuh kasih lembut segala yang engkau perjuangkan tanpa pamrih.

Ibu terkasih,

Engkau adalah pelita yang tak tergantikan.

Ada dan tiada dirimu penuh pengajaran dalam tegar.

Penuh senyuman nan teduh. Mendukung di setiap langkah. Penuh kehangatan dalam menghadapi segala yang terjadi.

Tercurah seluruh kasih ini untukmu duhai Ibu…

Melegakan saat kulantunkan do'a untukmu duhai Ibu…

Melunturkan seluruh lara saat ku dekapmu…

Terima kasihku, Ibuku pelitaku yang terkasih…

Selagi bumi dipijak dan masih bernafas…

Ku kan senantiasa bahagiakanmu…

Semoga Tuhan mengaruniakannya.

Sahabat Pena

Kamu terjeda di antara jarak nan jauh.

Namun kita tetap saling memahami dan mengenal satu di antara yang lainnya.

Jarak tak menjadi penghalang untuk kita tetap bersuara, meskipun dari kejauhan.

Tak terasa tersirat waktu yang selama ini kita kabarkan bersama. Dalam pena yang bercerita.

Darimu diri ku menuangkan tiap kisah yang dilalui. Dirimu pun serupa. Begitu banyak makna terpendam yang tersurat.

Kisah kita semasa belia hingga beranjak dewasa dengan seiring menumpuknya kesibukkan hari.

Kita selalu menyempatkan untuk sekedar bersalam bertatap jauh bertitip kabar menyapa hangat.

Keluguan yang sedari dahulu kita luangkan di tiap senda gurau. Rindu sekali rasa ingin bertemu.

Masa putih abu-abu itu ialah masa yang sangat indah.

Kita bercerita di bawah terik bersama, meneduh saat hujan mereda untuk kembali berjalan bersama.

Sahabatku…

Di kala suka menghampiri, senantiasa setia dan saling merasakan pabila satu di antara kita merasa pilu.

Dalam menghadapi dukapun kita tetap bisa saling berbagi dan mengisi.

Meski dalam jarak tempuh yang begitu jauh, namun tiap lembaran yang tersurat menjadi saksinya.

Anggun Gerardine/@anggungerardine

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya