Mendoakan Bahagiamu

Kita, akhirnya berada di jalan yang berbeda.

Advertisement

Kau dengan pilihan hidupmu.

Dan aku, dengan jalan hidupku.

Kita, akhirnya memutuskan menyerah.

Advertisement

Menghilangkan ego masing-masing untuk selalu bersama, tapi tak bahagia.

Kita akhirnya mulai lelah.

Memaksakan semua ingin yang tak seiring.

Kamu, pernah menjadi bagian penting dalam hidupku.

Kamu, pernah menjadi nama yang selalu kusebut dalam setiap doaku.

Kamu, yang senyumnya adalah bahagiaku.

Aku, pernah sangat menyayangimu.

Hingga saat kau menyakitiku, aku tetap mendoakan semua kebaikan untuk hidupmu.

Aku, pernah mencintaimu sehebat itu.

Hingga aku lupa untuk mencintai diriku sendiri.

Aku tetap ingin Tuhan memelukmu dengan baik.

Saat ragaku sudah tak mampu ada di sampingmu.

Saat pelukanku sudah tak mampu lagi redakan amarahmu.

Saat bukan aku lagi yang kau lihat di depan matamu.

Saat bukan aku lagi yang ada disana.

Di sudut hatimu.

Berdamai dengan Dirimu Sendiri

Tidak ada manusia yang tak pernah terluka.

Tidak ada manusia yang tak pernah merasa kecewa.

Suka dan duka sudah punya waktu sendiri untuk menyapa.

Tanpa aba-aba.

Terkadang kamu merasa hidup begitu tak adil.

Dia bisa bahagia, mengapa aku tidak ?

Mereka punya segalanya, mengapa aku tak punya apa-apa ?

Tanpa sadar, kau selalu punya keluhan pada Tuhan.

Hingga lupa menyadari segala berkah yang telah Dia berikan.

Mari, berdamai dengan diri sendiri.

Karena terkadang dirimu yang terlalu berekpektasi.

Meletakkan bahagiamu di tangan orang lain.

Memaksa mereka selalu hadir, padahal tak ingin.

Menginginkan bahagia tapi tak ingin terluka.

Semua ada waktunya.

Nikmati saja.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya