Tentang Pembawa dan Hujan


Menangislah…

Advertisement

Selagi bumi masih bisa tuk menampung.

Seberat apapun luka, dia pasti akan jatuh, hanyut bahkan hilang,

bersama dengan tumbuhnya harapan yang baru.

Advertisement

Menangislah…

Selagi mentari tak bosan tuk mengeringkannya.

Menangislah…

Selagi senja masih bisa tuk kau temui, di langit sore ini.

Meskipun tertutup awan gelap itu, senja tetaplah jarak dimana rasa lelah kan beristirahat meski sejenak.

Hujan.. Kapan kau akan datang?

Aku lelah menutupi terlalu lama sendiri.

Bantu aku tuk menghapusnya segera,

jika ini hanya akan menjadi luka kesekian kalinya.

Hujan..

Jangan berhenti terlalu cepat.

Selain aku, ada seseorang yang juga menunggumu.

Aku tahu bukan aku yang mengirimkanmu tuk menghapus lukanya juga.

Tapi doaku yang kupercaya kan membawamu kesana.


8 Oktober


Sore itu, tetesan air datang bertubi-tubi, tak terkira,

membuatku tuk tepikan sejenak perjalanan jauhku.

Tak berpikir akan dinginnya malam itu,

kulihat jam tanganku, pikirku kan adanya rasa khawatir disana dan menanyakan.

Semoga..

Kulanjutkan lagi menembus pukulan jatuhnya air dikepala.

Inginkan cepat sampai disana tuk bawa karya sederhana.

Kudekap dan kulindungi.

Akhirnya sampailah. Kulihat ponselku saat itu.

Kaupun ternyata menghubungiku.

Terima kasih, maaf jika saat itu buatmu khawatir.

Aku sampai.

Tapi aku tak tahu,

jika perbincangan pulangku malam itu akan jadi akhir,

dimana aku kan berhenti mengagumimu.

Kau buatku tuk berani menembus kedinginan malam itu tuk berbicara panjang pertama kalinya denganmu.

8 Oktober terima kasih untuk selalu ingatkanku.

Era Chori Christina

@erachori

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya