[PUISI] Wahai Januari, Aku Pulang

Ketika sebuah lagu mampu menjadi pengobat hati


PULANG


Advertisement

 

Aku pulang kemaren

Hari inipun aku juga bisa pulang

Bersantai di dalam kamar

Memulai kegiatan dengan memandang smartphoneku

Yang benderang dari balik layar kecilnya

 

Advertisement

Aku sudah terbiasa 

Terdiam, senyap lalu pengap

Padahal ini kotaku sendiri

Rumah dimana aku tumbuh besar dan tinggal

Sayang, aku kadang merasa tersesat dan sesak

 

Biarpun begitu keesokan harinya 

Aku akan kembali membaur

Dalam keramaian dan senyuman ramah penghuni kota

Harusnya aku bahagia

Tapi realitanya tidak

Aku bagaikan awan

Mengambang tertembus hujan

Ingin ku jeda sesaat

Tapi Tuhan tak memberi isyarat

Katanya ini bukan waktuku

Nanti akan tiba saat kapan aku pergi dan menghadap

Tapi hatiku tak jua tenang

 

Aku kalut

Amarahku membuncah

Kubingung kemana harusnya aku pulang

Mulai tak ada tempat yang membuatku nyaman

Waktuku terbuang hanya untuk bekerja

Rasanya semuanya sia-sia

Yang kuhadapi hanyalah kegagalan

Bukan gagal materi tapi perasaan

 

Lalu kudengarkan lagu itu

Yang membuatku berpikir panjang

Hindia – Secukupnya

Katanya aku berhak bersedih 

Katanya aku berhak mencari pelarian 

Katanya aku berhak patah hati

Tapi secukupnya

 

Karena kita semua pernah gagal

Pernah terpinggirkan

Pernah putus asa

Tanpa alasan yang bisa kita katakan dengan mudahnya

Nanti ada waktunya kita bisa mendapatkan jawaban

Atas segala pertanyaan yang  selama ini hanya berputar-putar

Yang nanti akan muncul ujungnya

 

Tenangkan lah dirimu

Ambilah sedikit tisu

Bersedihlah secukupnya

 


WAHAI JANUARI


 

Kenapa kau datang terlalu cepat ?

Aku sedih harus menyadari

Begitu banyak resolusi yang hanya menumpuk tanpa terwujud

Padahal awalnya aku begitu ambisius

Aku menggebu-gebu menulis banyak keinginan

 

Kini saat kau datang

Aku jadi merana

Menyadari begitu banyak waktuku 

Digunakan untuk hal yang sia sia

Padahal dalam satu tahun ada 365 hari

Lalu kenapa dalam ratusan hari 

Aku masih berada dititik ini?

 

Aku merasa mengabaikan harapan dan mimpi-mimpiku yang tinggi

Akulah yang menyebabkan

Semua harapanku sirna

Tapi aku tak segan menyalahkan keadaan

Mencari alasan agar tak disalahkan

 

Aku harap tak tenggelam dalam kekecewaan 

Lupa bangun dan terpurung dalam keputusasaan

Padahal esok akan selalu siap menyambutku dengan hangat

Tanpa mengeluh bahwa dulu aku pernah gagal

 

Aku harap diriku yang kecewa itu lekas sadar

Bahwa ini bukanlah akhir

Melainkan awal dari perjalanan

Menemui titik terang ditengah kegelapan

 

Jadi

Hei Kau ! Diriku yang di sana

Termenung dalam sedih

Bangunlah segera! Jangan nyaman di zona sendumu

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Malu menujukkan paras Berani menjual kata-kata Tak ingin alay sendiri Akhirnya membagi rasa dalam puisi

CLOSE