Dalam lembar kehidupan yang lain berdiri seorang anak remaja tanggung. Perempuan cantik. Usianya berkisar 16 Tahun. Sendri menyusuri ruang demi ruang rumah yg baru saja di beli orang tuanya. Tempat ini, cukup besar jika hanya dibuat rumah. Maka ia susuri satu per satu ruang yang ada. Bau plester semen dan keramik-keramik yang baru saja terpasang terasa menyengat.

Rumah ini bekas bangunan tua yg tak terpakai, dan baru saja di renovasi untuk di jadikan rumahnya… Karin, dan puluhan anak lain. Ya. Itu adalah rumah yatim piatu. Rumah bersama keluarga Indah. Adalah satu-satunya panti asuhan dengan sistem yang sangat baik di kota ini. Karin beruntung menjadi salah satu anak angkat dari Ibu Indah. Ia memperlakukan semua anak secara adil. Bahkan dia tidak pilih kasih antara anak kandung dan anak angkatnya. Mereka semua membaur. Disini, semua anak mendapatkan pendidikan minimal sampai tingkat sekolah menengah.

Advertisement

Semuanya. Kecuali Karin. Karin memiliki sedikit keistimewaan. Ibu Indah bilang ia spesial. Bukan. Bukannya tidak menyekolahkan Karin, sudah 3 sekolah dasar yg pernah di jajakinya. Namun Karin cenderung stress dan minder karna olok-olok teman-temannya. Kemudian Ibu Indah mengambil inisiatif untuk secara pribadi mengajari Karin sendiri saja di rumah. Membesarkan hatinya. Tidak penting teman, kalau tidak bisa membangun mental Karin dan membuatnya tumbuh dengan kepercayaan bahwa dia manusia aneh.

Atau lebih buruknya, manusia pembohong. Sejak kecil Karin sering melihat hal yang tidak di lihat orang lain. Bukan hantu.. Bukan juga hal-hal yang bisa membuat orang takut atau tunggang langgang. Mungkin sebatas orang berjalan, orang yang sedang bekerja, anjing menggonggong, cicak, atau hal kecil seperti tetesan air. Karin sering melihat bayang-bayang seperti itu. Ia cukup mampu membedakan mana yang nyata mana yang tidak.

Namun tetap saja saat ia kecil, sulit tidak menyebutkan hal-hal itu pada orang-orang di sekitarnya. Mereka semua, hampir semua.. Menyebut Karin memiliki gangguan jiwa. Tidak dengan Ibu Indah.. Ia bilang Karin spesial. Banyak orang yang yang tidak spesial iri padanya. Maka Ibu Indah meminta karin tidak menceritakan dengan siapapun, nanti mereka iri dan mengatakan hal yang dapat menyakiti hatinya. Beranjak dewasa…

Advertisement

Karin mengerti Ibu Indah hanya membesarkan hatinya. Apapun itu, kini Karin menerima pandangannya sebagai anugerah. Walau ia masih belum mengerti. Apa sebenarnya yang ia lihat selama ini. Karin berjalan menyusuri satu persatu ruangan rumah baru mereka yang super besar. Ada ruang kamar yang jauh lebih luas dari kamar-kamar di rumah sebelumnya. Ibu Indah mengambil langkah tepat saat ia menjual rumah lamanya di pemukiman tengah kota yang padat. Kini ia membeli rumah luas ini sebagai gantinya.

Walau agak di pinggir kota, namun dengan adanya stasiun kereta cepat di dekat daerah itu. Jarak bukan masalah. Ada salah satu ruangan yang terdengar agak ribut. Ada suara-suara aneh seperti siaran radio yang tidak terlalu jelas. Karin tau pastilah itu hanya suara bayangan yang biasa di lihatnya. Tapi tetap saja ia penasaran. Kemudian ia membuka pintu ruangan itu. Kosong.

Belum ada perabot di ruangan ini. Tandanya belum di tentukan apa fungsinya nanti. Karin melangkah masuk dan berkeliling. Jemarinya menyentuh tembok halus.. Berjalan menyapu keliling ruangan. Sreeeeeeek pintu ruang tiba-tiba terbuka. Ternyata bukan pintu ruangan itu. Suara itu berasal dari bayangan. Sesuatu yg tidak nyata. Seorang anak lelaki memasukkan kepalanya kedalam dan melongok memandang seisi ruangan. Ia tak melihat karin, tapi karin melihatnya. Kemudian anak itu membuka pintu seutuhnya…

Masuk ke dalam ruangan setelah sedikit mengibaskan sandalnya, membuang bekas tanah becek. "hey, liat sini masih ada ruangan yang bersih". Seru anak tersebut. Dua anak lain berebut masuk ruangan itu. Laki-laki dan perempuan. Dilihat dari postur tubuh mereka, seumuran. Namun lelaki yang baru masuk memiliki postur tubuh sedikit lebih besar, dan kekar. "wuiiiiih bisa jadi markas baru kita ini" seru anak lelaki yang lain. "ga ah.. Jauh banget dari rumah" anak perempuan ikut menyaut. "elleh macam anak cewek aja kau" balas anak lelaki kekar itu lagi.

Anak perempuan itu mengambil ancang-ancang menendang dan buk.. Kena tepat di pantatnya. "sialan kau daus busuk". Seru anak perempuan itu. Sambil berdiri tegak setelah melayangkan tendangan telak. Kemudian mereka bertiga tertawa. Karin berdiri saja di tengah ruangan. Mengamati, mendengarkan.. Tidak ada yg tau keributan ini. Tidak ada yang merasakannya. Hanya karin sendiri. Tidak bahkan ketiga anak yg sedang asyik bermain. Karin tidak tau apakah mereka nyata atau tidak. Tapi karin melihatnya. Cukup nyata baginya. Bosan. Karin melangkah keluar ruangan. Saatnya makan siang. Menjelang malam, sebenarnya Karin ingin beranjak ke halaman depan menikmati desira angin sambil membaca sebuah buku.

Halaman mereka cukup luas. Ada taman, dan bangku ayunan. Pasti asyik jika menghabiskan waktu hingga mentari terbenam. Namun suara-suara di ruangan tadi kembali mengganggunya. Apa lagi yang kali ini tiga anak itu lakukan. Penasaran, karin kembali kesana. Mulai membuka pintu dan memasuki ruangan. Kenapa suasananya agak seram kali ini. 3 anak itu, seperti sedang melakukan ritual. Ada benda seperti jelangkung di tangan mereka. Astaga.. Karin melotot, itu memang jelangkung. Ada kertas putih lebar di letakkan di bawah.. Bertuliskan abjad dari A hingga Z.

Pastilah itu media komunikasinya. Apa yang akan di lakukan anak-anak ini. Karin agak panik, apakah penglihatannya kali ini akan menjurus ke sesuatu yang horror? Ia mencoba tenang dan mengambil nafas dalam-dalam. Kembali mengamati. Tidak.. Tidak ada hal-hal horror terjadi sudah berkali-kali tiga anak ini membacakan mantra dan mereka tidak mendapati jelangkungnya bergerak sendiri atau semacamnya. Karin menghembuskan nafas lega. Dasar anak-anak. Ada yg spesial dari penglihatannya kali ini. Kenapa berlangsung lama sekali.

Biasanya hanya berselang puluhan detik, kemudian bayang-bayang itu akan menghilanh dengan sendirinya. Namun kali ini, sudah 5 menit lebih dan ia masih melihat ketiga bocah itu dengan jelas. Karin ingin mencoba sesuatu. Ia mendekat dan duduk bersanding dengan mereka bertiga. Ia mencoba menyentuh salah satu dari mereka. Tapi gagal. Tembus saja. Seperti dugaannya.

Kemudian Ia mencoba jalan mondar mandir menembus badan anak-anak itu. Tidak ada perbedaan. Namun kemudian… "awww" seru karin, kakinya seperti menyandung sesuatu. Secara bersamaan, ketiga anak itu melotot memandang satu sama lain. Jelangkung mereka bergerak senriri. Karin pun bingung. Apakah mungkin. Kemudian karin mencoba duduk diantara ketiga bocah itu.

Perlahan… Ia dekatkan jemarinya ke batang kayu yang menjadi badan jelangkung itu. Berhasil. Karin berhasil. Memegang jelangkungnya. Ia tak mampu menyentuh ketiga anak itu, namun ia berhasil memegang jelangkungnya. Untuk pertama kalinya. Karin berhasil beringgungan dengan dunia yang dulu dianggapnya tidak nyata. Umtuk pertama kalinya. Karin merasakan apa yang ia lihat, bukan bayangan semata. Bersambung…

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya