Rasa Berat Hati Karena Harus Tinggal Berjauhan dengan Keluarga dan Tak Bisa Merasakan Kehangatan Rumah

Saat ini sudah memasuki tahun kedua bagi kita semua untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri ditemani virus Covid-19. Tak peduli seberapa matang usiamu, rasa rindu pasti dialami oleh setiap anak di perantauan. Rasa berat hati karena harus tinggal berjauhan dengan keluarga dan tak bisa merasakan kehangatan rumah akan menambah rasa rindu, apalagi di momen istimewa seperti lebaran.

Advertisement

Bersamaan dengan itu pula, Imam Jafar tidak bisa merasakan ketupat, opor, dan sambal goreng kentang buatan ibunya. Ya, 2 tahun terakhir ia harus pergi merantau untuk bekerja. Di umurnya yang sudah menginjak 24 tahun, ia merasa sudah memiliki kewajiban untuk mencari uang sendiri, dan di sinilah ia, bekerja lapangan di pedalaman Pulau Kalimantan yang jauh dari tempat keluarganya berada.

Pria asal Bandung ini memilih mematuhi peraturan larangan mudik dan tidak mau mengambil resiko terkena virus Covid-19 untuk yang kedua kalinya. Ya, pada bulan Januari lalu, ia telah merasakan sulitnya isolasi mandiri tanpa sanak saudara akibat terpapar virus Covid-19.

“Waktu itu sudah libur dan mau pulang, di bandara di tes dulu, ternyata positif. Karena ga percaya, sampai di tes 2 kali, dan hasilnya tetap positif”, ujar Imam.

Advertisement

Ia pun segera mencari hotel terdekat untuk melaksanakan isolasi mandiri, karena tidak bisa pulang dan keluarga di rumah pun tidak bisa menjemput. Berada di tempat yang jauh dari keluarga dan kerabat dalam keadaan sakit di rasa sangat melelahkan. Makan, mencuci, dan membeli keperluan lain harus dilakukan seorang diri. Untungnya ada layanan ojek online yang bisa membantu.

Tak peduli seberapa matang usiamu, rasa rindu pasti dialami oleh setiap anak di perantauan. Rasa berat hati karena harus tinggal berjauhan dengan keluarga dan tak bisa merasakan kehangatan rumah akan menambah rasa rindu, apalagi di momen istimewa seperti lebaran. Itulah yang dirasakan oleh Imam saat merayakan lebaran sendirian untuk yang kedua kalinya.

“Cuma bisa ketemu lewat video call aja”, ujarnya.

Di saat-saat seperti inilah kita baru bisa menghargai makna sebuah kehadiran. Tentunya bertemu langsung akan jauh berbeda dengan hanya bertemu secara virtual. Hal itu pun dirasakan oleh keluarga Imam di Kota Bandung.

“Lebaran tahun ini masih sama seperti tahun lalu, tidak komplit”, ujar Nirma, Ibu dari Imam.

Ia menambahkan bahwa saat ini rasanya semakin sulit untuk berkumpul bersama keluarga inti secara utuh. Seiring dengan bertambahnya usia anak-anak dan semakin banyaknya urusan yang harus mereka tanggung, membuat Nirma rindu masa-masa dahulu sebelum ada pandemi.

Menurutnya kesehatan keluarga adalah yang terpenting. Jika harus berkumpul namun ternyata malah beresiko terpapar virus, lebih baik lebaran berjauhan seperti ini. Apalagi tak ada yang bisa menjamin keadaan di perjalanan akan aman dari virus Covid-19.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE