"Hei…Bisakah aku berbicara denganmu?"


Pada malam yang telah aku lewati, entah mengapa setiap mendengar melodi itu terlintas "kamu" dalam benakku. Ya, namamu. Ketika alunan musik itu mulai terdengar sampai di telingaku, ingin rasanya aku menceritakan bahwa aku ingin bersenda gurau bersamamu, ingin berbincang setiap apa yang telah aku lewati. Namun aku tak sanggup. Aku tak mampu mengalahkan perasaanku ini. Bagaimana tidak aku hanya menyimpan dalam setiap lembaran kertas itu. Bintang adalah seorang teman yang aku ajak untuk berdiskusi setiap malamnya. Lalu aku bertanya kepadanya, apakah aku harus tetap menyimpan ini hingga nafas tak bersama dalam ragaku? Aku tak mampu untuk melewati ini semua dalam diamku.

Hingga pada suatu hari saatnya yang telah dinanti. Malam itu, entah mengapa detak jantungku berdegum dengan kencangnya. Dan ternyata ku dapati sebuah pesan darimu. Ini rasanya aneh, hmmmm… yaaa aneh sekali. Aku tak tahu harus berucap apa. Aku bertingkah kegirangan. Yang aku bisa lakukan agar aku tak nampak seperti wanita yang kegirangan, aku berusaha membalas pesanmu dengan pesan singkat. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Hingga aku tak mendengar suaramu, tak satu pesanmu ku dapati. Aku merenung di sela-sela senjaku. Aku berjalan menyusuri lorong-lorong gelap dan sunyi. Perasaannku gelisah, gundah, dan aku tak tahu bagaimana aku mencarimu. Aku telah kehilangan jejakmu.

Sudah bertahun-tahun tak ku dengar berita tentangmu. Aku berpikir dan merasa setidaknya yang bisa aku lakukan adalah mencari tahu di mana keberadaannmu, bersama siapa dan ku dengar bermacam-macam cerita tentangmu. Jika ada kabar yang datang mungkin akan membuatku marah, ada yang membuatku bahagia bak sawah di ladang dipenuhi rintikan air yang turun dari langit, ada yang membuatku cemburu buta. Aku mengagumimu, namun aku tak cukup pantas mengucapkan itu semua. Aku melihat seseorang datang menghampiriku.

Ternyata dia adalah seorang teman yang telah aku rindukan kehadirannya. Dia berbisik aku merindukannmu sahabatku. Aku terpenganga mendengar kata-kata yang dia bisikkan kepadaku. Lalu aku merangkulnya setelah aku mendengar apa yang telah ia katakan. Saat itu ingin sekali aku dapati kabar dan berita tentang seseorang yang ku simpan dalam memoriku. Namun aku enggan untuk mengatakannya pada dia. Tapi aku mencoba meminta beberapa nomor kawan yang masih aku ingat dalam memoriku. Dan aku mendapatkan nomornya (dia yang kucari).

Advertisement

Hari telah berlalu setelah beberapa hari aku bertemu dengan seorang sahabat lamaku. Aku melakukan hal-hal bodoh. Membuka tutup kunci pada layar telepon genggamku. 5 menit sekali kucoba untuk membuka kotak pesan. Berulang kali aku tulis pesan namun tak pernah kunjung aku kirim. Dengan tekad yang kuat aku kumpulkan keberanian untuk mengirimkan sebuah pesan kepadanya.


"Hai! Selamat malam Roman. Apa kabar? aku temanmu. Aku adalah teman kecilmu."


Entah harus berapa menit dan berapa lama aku terus menunggu balasan pesan darinya. Akhirnya selama 10 menit berlalu. Telepon genggamku berdering kembali yang aku harapkan ini adalah balasan pesan darinya. Dan ternyata itu benar. Betapa senang dan bahagianya dia membalas pesanku.


"Hai! Selamat malam. Kabarku baik. Oh yah? siapa yah? tak ku dapati nomormu di dalam kontakku." Bagaimana dengan kabarmu?


Pesan yang ku dapat darinya sangatlah membuat hatiku bahagia. Tak ku buang waktuku dengan sia-sia, lalu aku bergegas untuk membalas pesan darinya.


"Ya, karena aku baru mendapatkan nomor teleponmu. Aku. Tasya. Apa kau masih mengenalku? Sebelumnya terima kasih telah membalas pesanku. Dan kabarku sangat baik".



"Ahhh. Tasya… Senang sekali bisa mendengar kabar darimu".



"Terima kasih :) (wajah penuh dengan senyuman)".


Setelah malam itu telah berlalu. Malam-malam lainnya yang ku tunggu adalah sebuah pesan darinya. Tak kunjung ku dapat pesan darinya. Saat itu aku ingin mencoba membuka beberapa sosial media. Aku tak bermaksud untuk mencari tahu tentangnya, namun ketika aku lihat berandaku tak sengaja aku melihat jajaran paling atas terdapat namanya. Dan yang aku lihat membuat sedikit kaget. Ternyata pria yang ku kenal selama ini, yang namanya ku simpan namanya baik-baik ternyata kini ia telah bersama pujaan hatinya. Ku dapati seluruh pesan pada halaman miliknya banyak hal-hal yang tak pernah aku bayangkan. Saat itu aku tak tahu harus berbuat apa? pilu hatiku ketika melihat itu semua. Namun apalah daya ini, aku tak mampu melakukan banyak hal. Lalu sesegera mungkin aku menutup monitor.

Terlintas dalam benakku dan ku bersenandung.


"Aku dihadapkan dalam pilihan. Aku mencintai kamu sangat. Kamu berjalan bersamanya. Selama kamu denganku . Begitu rumitnya dunia hanya karna sebuah rasa cinta. Jadilah aku kamu dan dirinya berada didalam dusta yang tercipta. Mengapa kah harus kurasa sepentingkah itu kah cintamu. Kita berawal karena cinta, biarlah yang mengakhiri".


Kini aku tahu, bahwa selamanya mencintai seseorang jika hanya satu orang saja yang berjuang maka tinggalkanlah. Hancur hatiku berkeping-keping hingga aku meneteskan air mata. Perasaan ini telah ku simpan selama bertahun-tahun. Kiranya sudah sepuluh tahun ku simpan dengan sangat baik dan rapih. Tapi ya sudahlah, aku harus menghapus dalam memoriku.

Setelah sekian lama dia tak mengirimiku sebuah pesan. Aku merasa dia telah mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Aku tak mengizinkan diriku untuk mengganggu dan merusak hubungan yang telah mereka jalin. Tapi entah mengapa, pada malam itu telePon genggamku berbunyi.


"Hai, bagaimana kabarmu? Apakah kamu punya waktu kosong? mari kita luangkan waktu bertemu sudah lama sekali kita tak bertemu dan berbincang. Sambil berbincang kita bisa memesan dan meneguk kopi di Kota penuh kenangan ini, hihi 🙂 "



"Hai. Kabarku baik (berkaca dan menitihkan air mata). Kapan? Aku akan menghubungimu secepatnya",


Ada kabar burung yang datang padaku bahwasanya mereka berdua telah berpisah. Dan mungkin saat itu adalah waktu yang membuat hatinya hancur. Setelah ia berpisah dengan sang kekasihnya, dia mencoba menghubungiku terus menerus. Dan ternyata mungkin itu adalah salah satunya dia tak pernah mengirimiku pesan lagi setelah aku mengubunginya malam itu. Lalu beberapa hari setelahnya aku memberi kabar kepadanya. bahwa aku menyetujui untuk bertemu.


"Hai, Selamat sore Roman. Aku memutuskan untuk menyetujui idemu. Kita bisa bertemu malam besok di Indie Kaffe jam 19:00pm. Sampai jumpa".



"Hai Malam Tasya. Oke, terima kasih atas jawabannmu. Sampai jumpa besok".


Setelah aku memberinya kabar. Hal lain yang aku takutkan dia akan menceritakan semua hal tentang dirinya. Dan aku sudah tak mau mendengar cerita apapun tentang dia termasuk dengan kekasihnya. Keesokan harinya jantungku berdebar dengan sangat kencang. Karena hari ini aku akan menjumpai dirinya, aku harus bersiap dan menyiapkan mental blok ku. Sebenarnya aku dipenuhi rasa takut, rasa sendih namun sedikit rasa bahagia.


"Hai, selamat malam. Kamu Roman ya? Aku Tasya. Maaf aku telat 1 menit, dalam perjalanan aku mendapati sedikit kemacetan"



"Haiiii (dengan wajah yang sumringah) Tasya.. Tidak apa-apa aku juga baru sampai sini 3 menit lalu. Silahkan duduk".


Malam kian larut, bintang semakin banyak terlihat di atas lagit itu. Entah bagaimana perasaan ini. Ternyata pradugaku benar. Lalu dia bertanya padaku tentang hubunganku dengan seseorang. Saat itu aku hanya bisa terdiam, menarik garis senyum di wajahku dan bergumam dalam hati.

Pada saat mengakhiri perjumpaan malam itu, satu hal yang aku lakukan yaitu memberikan senyuman terakhir sebagai seseorang yang pernah berharap atas cintanya untuk dapat ku miliki dan sebagai pengagum rahasia. Dan ku ucapkan kepadanya untuk rasa terima kasih telah membagikan waktu dan kisahnya.

Semua terasa berat, hingga tak mampu aku memikul dan membawanya. Aku memutuskan untuk mengakhiri rasa yang aku simpan dengan baik menjadi fatamorgana. Kau tak perlu tahu bahwa selama ini aku menyimpan rasa dan harapan yang besar. Rasanya aku tak perlu lagi menyimpan namamu dalam setiap langkah dan memoriku. Selamat tinggal.