Rasanya Menjadi Minoritas di Tengah-Tengah Masyarakat Eropa

Ingin berkuliah atau kerja di Luar Negeri? Sudah siapkah menjadi minoritas?

Orang-orang yang pernah tinggal beberapa minggu, bulan atau tahun di luar negeri, especially di negara dengan mayoritas non-muslim pasti mengerti hal ini. Menjadi minoritas bukan hal yang mudah tentunya, dalam arti baik menjadi minoritas mengajarkan kita untuk bertoleransi dan belajar menerima keadaan yang berbeda dan penuh ketidaknyamanan. Beberapa mungkin merasa dipersulit dengan keadaannya yang berhijab.

Advertisement

Seorang teman yang tidak akan saya sebut namanya, yang juga sedang bersekolah di luar negeri, namun bukan di negara yang sama, bercerita bahwa dia kesulitan menemukan flat yang mau menerima dia yang berjilbab dan muslim. Bahkan katanya kalau naik bis, tempat duduk sebelah dia selalu kosong. Selain itu, beberapa temannya juga merasa dikucilkan dalam beberapa tugas kelompok. Teman berbeda negara yang berbeda jurusan di satu fakultas juga bercerita dia pernah meminta izin untuk sholat di salah satu ruangan, namun dia tidak diperbolehkan melakukan hal itu karena ruangan tersebut harus secepatnya dikunci.

Alhamdulillah, saya sendiri tidak pernah dilarang (karena belum pernah izin untuk sholat di ruangan), biasanya lebih memilih sholat di bawah tangga darurat, atau semacamnya. Dan orang-orang yang melihat tidak pernah melarang, bahkan pernah ada seseorang, a really nice girl, yang menunggu saya selesai sholat lalu kemudian lewat untuk naik tangga. Pernah juga sholat di bus saat perjalanan pulang ke dorm. Dilihat banyak orang? masa bodo saja. Tentu saja banyak orang yang menatap tajam dari ujung kaki sampai ujung kepala, lambat laun akhirnya saya memilih untuk mengabaikan dan tersenyum jika ada yang menatap.

Masalah lain adalah terkait makanan halal yang bukan sekadar 'asal bukan babi/pork dan alkohol'. It is not that simple. Daging ayam, sapi atau kambing yang halal adalah yang disembelih atas nama Allah atau setidaknya yang menyembelih haruslah muslim, karena nama Allah ada di setiap muslim. Lebih baik berhati-hati untuk memakan daging ayam yang kita tidak tahu kebenaran penyembelihannya. karena makanan haram dapat menghalangi proses terkabulnya doa. Lebih baik bertanya langsung darimana daging tersebut didapat dibandingkan bertanya-tanya. Walaupun ada beberapa sumber yang mengatakan tidak apa-apa memakan daging pemberian yang kita tidak tahu kehalalannya selama mengucap basmalah, namun berhati-hati lebih baik. Wallahualam bisshowab. 

Advertisement

Salah satu cara mengatasinya adalah dengan memasak sendiri, memasak sendiri pun kadang harus teliti dengan bahan-bahan yang digunakan, terkadang ada coklat yang mengandung alkohol, es krim yang mengandung minyak babi atau skim dari babi, pastry instan yang mengandung alkohol, dan lain-lainnya. Harus berhati-hati karena beberapa emulsifier berasal dari babi. Salah seorang teman menyarankan aplikasi halalbuddy untuk mengecek kehalalan bahan-bahan makanan terutama emulsifier.

Masalah lain yang muncul adalah keterbiasaan dan ketahanan dalam istiqomah. Banyak yang akhirnya memutuskan untuk memakan daging apa saja yang penting bukan babi, atau sholat dijamak di satu waktu walaupun sudah menetap karena keterbatasan ruang gerak selama berkuliah. Setidaknya, di kampus saya, di University of Szeged, masih terdapat masjid walaupun letaknya agak cukup lumayan dan hanya dibuka pada saat jam-jam sholat saja. Bertahan dalam kondisi lingkungan yang jauh dari agama dan perlahan-lahan mengikis keimanan adalah sulit. Menolak ajakan teman untuk sekadar makan atau minum menjadi hal yang biasa. Kadangkala harus rela terpisah sendiri karena harus menghilang untuk mencari tempat sholat. Walau sebenarnya mereka pun pengertian, bahkan rela menunggu saya untuk sholat. Beruntunglah mereka yang memiliki komunitas islam di kota mereka tinggal. yang bisa menjaga dan menguatkan mereka. Bukannya di Hungaria tidak ada, ada tentunya, tapi hanya berada di ibukota, Budapest. Di kota tempat tinggal saya kuliah, Szeged, sayangnya belum ada. 

Dan yang terakhir, yang sekarang selalu dirindukan adalah suara adzan. How I miss listen to adzan's voice. Saya pernah merasa terganggu dengan adanya adzan dulu, Naudzubillahi min dzolik. Tapi sekarang saya malah ingin mendengarkannya supaya merasa tenteram dan damai. Saya juga kangen kajian, ceramah dan berkumpul bersama teman-teman baik yang selalu mengingatkan. Tapi saya tetap bersyukur, saya tahu Allah sudah merencanakan yang terbaik dan menjaga saya untuk terus berada di jalannya. Disini saya juga banyak bertemu teman-teman islam lain dari berbagai negara terutama middle-east countries, walaupun tata cara ibadah kami berbeda-beda tapi kami terikat erat karena kami 'minoritas'. Hal positif lain yang tidak pernah saya lakukan selama di Indonesia adalah setiap bertemu teman yang menggunakan jilbab di jalan atau di kampus, kami saling mengucapkan salam dan berjabat tangan, bahkan disaat kami belum mengenal dan baru pertama kali bertemu disini. 


It is a relief when I see women wear hijab here and they always called me as sister. It is nice to have sisters from all over the world.




Bagaimanapun, saat kamu bersiap untuk pergi ke luar negeri dan tinggal lama disana, sepertinya hanya akan ada dua kemungkinan, apakah iman kamu akan meningkat atau justru menurun. Kamu juga harus bersiap dengan berbagai hal yang berbeda yang bisa saja berlawanan dengan prinsip yang kamu pegang.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE