Reaksi Berbeda Padahal Aksi Sama, Apa Iya Boleh?

 Kenapa ya reaksi orang bisa berbeda atas aksi yang sama yang dilakukan oleh orang yang berbeda? Sekali lagi, kenapa reaksinya bisa berbeda? Padahal, sudah jelas aksi yang mereka lakukan sama. Kalau memang disebabkan oleh soal kualitas, tentu itu lumrah karena reaksi yang timbul dipengaruhi oleh selera dan standar kriteria tiap orang yang tidak sama. Namun diluar dari faktor itu, apa iya boleh dianggap lumrah? Kalau reaksi yang ditimbulkan karena f(x) lain yang sifatnya mengenai harkat, martabat, status sosial, dan sebagainya yang melekat pada diri seseorang, itu termasuk tindakan pandang bulu. Contoh dari sebuah realita yang ada diantara kita, seorang X dan seorang Y giat berkonten di sosial media, mereka mengikuti tren dalam karya-karyanya. Suatu ketika, si X dan Y ini sama-sama mengupload konten yang berjenis sama yakni sebuah tarian jenaka. Meskipun, keduanya sama-sama melakukan gerakan yang sedang tren di sosial media, namun reaksi yang ditimbulkan sangat berbeda. Aksi si X dipenuhi pujian, sedangkan aksi si Y dihujani oleh hujatan.

Advertisement



Lalu kenapa bisa berbeda? Tentu banyak persepsi atas pertanyaan itu, karena setiap orang punya selera, dan pola pikir  yang berbeda. Namun saat kolom komentar sosial media keduanya disoroti, barulah dapat dikorek penyebab permasalahannya. Rupa-rupanya, masalah fisik yang dinilai jomplang lah yang menjadi sebab perbedaan reaksi yang muncul dari aksi yang sama dari kedua orang tersebut, dari kolom komentar sosial media mereka itu dapat terbaca jelas bagaimana si X dielu-elukan karena fisiknya yang menawan dan menyegarkan mata. Sedangkan si Y dihujat hanya karena fisiknya dinilai tidak mendukung atas konten yang dibuatnya. Perlu ditekankan, perbedaan reaksi tersebut bukan karena kualitas dari karya yang mereka buat tapi karena menyorot perbedaan fisik diantara keduanya.

Lantas, bagaimana? Apa iya seseorang boleh diperlakukan berbeda karena keadaan fisiknya? Coba tanyakan pada hati nurani, apa tindakan membedakan seseorang hanya karena sesuatu hal itu dapat dianggap benar dan diperbolehkan. Lalu coba pikirkan bagaimana perasaan seseorang itu. Bila sulit, coba posisikan diri  kita dengan posisinya, apa kita sanggup?. Setegar apapun orang itu, dia tetap punya pikiran dan perasaan. Tidak ada yang baik-baik saja saat menghadapi gejolak tajam di hidupnya, walaupun kadang ada yang terlihat nampak biasa saja, namun itu belum tentu menjelaskan kalau perasaannya sekuat baja karena mungkin saja itu karena dia pandai menyembunyikan perasaannya.

Advertisement

Sudah tentu, permasalah pandang bulu ini tidak melulu disebakan oleh masalah fisik saja. Banyak dimensi lain di kehidupan ini yang sama kusutnya. Kita semua pasti tidak asing dengan kasus bedanya perlakuan (pandang bulu) atas seseorang di mata hukum, sosial, pendidikan dan lain sebagainya. Sedih menyebutnya kalau tindakan padang bulu ini masuk dalam budaya di kehidupan masyarakat dan dipandang sebagai hal yang lumrah. Bukankah tindakan itu melukai nurani kita semua, lantas untuk apa mengulangi kesalahan yang sama. Kita semua beradab dan menolak membenarkan tindakan yang mengoyak nurani itu.



Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE