Bagaimana Tahun 2020 Ala Kamu?

Refleksi di tengah pandemi

Masih bertahan di sebuah hubungan yang kamu tau udah mentok dan udah ga bisa diapa-apain lagi? Gimana resolusi tahun barunya? Masih konsisten? Masih bertahan  di pekerjaan yang suasana kerja yang udah ga sehat dan bikin kamu ngegeret badan dari tempat tidur setiap harinya? Masih nyalahin orang-orang dan keadaan atas kondisi hidup mu sekarang? Udah belajar jujur belum sama diri sendiri? Udah bisa berdamai dalam sunyi di tengah pandemi yang membatasi hidup dari segala sisi?

Advertisement

Tahun 2020 mungkin jadi tahun yang sulit untuk kita semua. Kita nggak bisa kontrol kondisi eksternal kita, tapi kita selalu bisa kontrol bagaimana kita merespon. Nggak bisa kemana-mana dan nongkrong sama teman-teman? Mungkin waktunya kita untuk berefleksi dan berkomunikasi dengan inner self yang selama ini sudah terlalu lama diabaikan karena tuntutan hidup dari segala arah. Gaji dipotong atau kena pengurangan karyawan? Mungkin ini waktunya mengeluarkan sisi kreatif atau cita-cita terpendam dan terabaikan kita, misalnya untuk buka usaha kuliner atau mulai bikin konten sosmed lebih konsisten dan serius. Ga yakin punya skill yang bisa dijual untuk mulai sesuatu yang baru? Tanya Google dan mulai riset. Menurutku sih hari gini nggak ada yang nggak bisa dijawab Google, ya kecuali kalau kamu nanya kapan jodohmu datang.

Kamu mungkin bisa bilang, “gampang emang kalau ngomong doang”. Trust me been there done that. Sebelum banyak orang di-phk karena budget perusahaan terbatas efek dari pandemi, aku mengundurkan diri karena hatiku udah nggak nyaman di tempat aku bekerja waktu itu? Sudah punya rencana? Tentu tidak. Nekat memang, tapi aku belajar untuk tidak mengabaikan suara hati aku yang berteriak-teriak kalau ada sesuatu yang “nggak pas”. Seiring berjalannya waktu aku belajar kalau my overall well being is my top priority. Rekan kerja dan atasanku ga ada yang percaya waktu mereka bertanya “kerja di mana setelah ini?” “gatau” ya memang aku beneran nggak tahu. Aku memutuskan untuk mengalir bersama kehidupan. Takut? Oh jelas. Ada masanya aku mulai panik saat tabungan menipis dan tagihan minta dibayar. Tapi semesta selalu punya jalan. And life unfolds perfectly before me (I believe in Law of attraction btw).

Panik dan takut dapur nggak bisa ngebul? Itu perasaan yang wajar dan aku ngerti rasanya (aku support kebutuhan orang tuaku semenjak aku masuk dunia kerja). Ego manusia itu memang takut dengan stepping into the unknown, nyaman dengan comfort zone. Apakah comfort zone membuat manusia bisa berkembang? Tentu tidak. Ada sebuah kutipan yang bilang kalau melakukan hal yang sama berulang-ulang tapi mengharapkan hasil yang berbeda, itu gila. Kalau kita mau ada yang berbeda dengan hidup kita, mungkin bisa dimulai dengan cara berpikir yang berbeda atau melakukan hal yang berbeda dalam banyak aspek hidup kita.

A ship is always safe at shore, but that is not what it’s built for (Einstein). Seperti Columbus yang nggak akan menemukan “daratan baru” kalau dia nggak mengambil resiko dan stepping into the unknown. Aku percaya semua manusia punya potensi untuk berlayar dan menemukan “daratan baru”nya masing-masing seperti Columbus. Tapi apakah setiap manusia mau mengambil resiko untuk meninggalkan zona nyamannya? Biar itu hati kita masing-masing saja yang menjawabnya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

suka kopi, musik dan jalan-jalan

CLOSE