Aku mungkin tak sehebat senja, yang membiarkanmu mengenang hebatnya jingga disore hari. Tunggu sebentar! Bukankah senja hanya datang dikala langit cerah? Bukankah senja menghilang jika langit memunculkan awan hitamnya? Oke. Mari kita alihkan untuk tidak membahas senja. Pun, berharap jadi senja untukmu itu tak mudah. Terlalu naif jika datang lalu kemudian menghilang berganti menjadi malam yang hening *bunyijangkrik*.

Aku mungkin tak sehebat hujan, yang membiarkanmu mengingat kenanganmu bersama hal-hal yang membuatmu bahagia dan tak jarang membuatmu bersedih. Bukan genangan yang sedikit saja bisa membanjiri tiap-tiap sudut kota. Kenangan dan genangan memang beda tapi bukankah keduanya sama-sama memberikan sesak? Sesak didada. Ah, rindu itu curang. Semua peristiwa tidak jarang dikaitkan dengan rindu. Lupakan saja. Manusia memang tak sehebat itu.

Tapi, bukankah kita terlalu naif jika semua hal harus kita kaitkan dengan rindu dan kenangan? Hal kecil saja bisa membuat manusia menjadi bahagia. Bagaimana tidak? Yah, contohnya aku yang terlalu naif… Mengingatmu saja sudah membuatku bahagia apalagi ketika pesan singkatmu tertera pada layar handphoneku *tring*. Tentang voice note yang beberapa kali kau kirimkan.

Entahlah, semua yang kau lakukan begitu membahagiakan. Tak jarang senyummu begitu mengusikku. Tawa renyahmu begitu mengganggu gendang telingaku. Suaramu bernyanyi membuat hatiku berde-tak menentu. Bukankah ingatanku begitu baik? Ah, aku saja yang terlalu berlebihan mengingatnya. Tentang senyumku yang kau biarkan berlalu. Tentang senja dan hujan yang tak jarang bersinggungan. Tentang rindu berkalang kenangan. (annisamiftahuljannahw) Makassar, 09 februari 2017

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya