Rindu yang sudah terlanjur membeku di tepian malam itu, bersama kamu tak lagi ada, bersama rindu tak lagi temu, aku tak lelah menunggu ditemui olehmu, hanya saja ingin bersama kamu dengan sejuta rasa indah saat dulu yang kau janjikan dengan manis.

Aku tidak ingin mendeskripsikan kamu lebih buruk dari biasanya, karena seburuk-buruknya kamu adalah baik untukku, seburuk-buruknya kamu adalah pernah memperbaiki aku, aku rindu setengah mati adanya malam ini, apalagi ditemani hujan yang deras seluruh Indonesia. Langitpun menangis malam ini, apalagi hatiku yang sedang menghirup hujan seakan menghitung hari yang merindui kamu.

Advertisement

Aku yakin kita tak akan lagi bertemu, aku yakin kau tak akan lagi menjadi tamu dihatiku, karena kau sudah milik orang lain, karena kau sudah milik dia yang mendapatkanmu setelah aku, bukannya aku tak ikhlas, hanya saja aku mengenang masa itu yang dulu. Aku tidak ingin memilikimu lagi, karena aku sudah membenci kamu saat ini. Ku fikir benciku lebih besar dari pada rinduku, ternyata aku salah. Setiap sisi rindu mengalahkan kebencian itu.

Jika suatu saat kita bertemu dalam keadaan baik, aku harap jangan pernah kau tanyakan lagi tentang kita dua tahun yang lalu, hatiku sudah menua tentangmu, hatiku sudah menua tentang rajutan kisah kita dulu, jangan lagi ada baper saat saling menatap, anggap saja, tatapan itu adalah teman bahkan pura-pura tak saling kenal.

Teman seperjuangan yang masih dianggap baik, yang masih dianggap sebijaksana mungkin, jangan lagi ada kata saling menyakiti, kekasih. Aku sudah tak sanggup meniru adegan malam itu, aku terlalu sakit dan kau terlalu cuek. Aku terlalu baper dan kau terlalu munafik, jikapun aku harus memilih pergi mungkin aku mengaku kalah, aku tidak menganggap diriku akan memenangkan cinta, aku hanya tidak ingin pulang dengan tangan hampa. Rindu yang membeku terlampir basah, menyahut kenangan, berdesir tak ingin kembali, menyeruak dalam doa sejati, berkata dalam hati dan berhembus nafas dalam kalbu yang suci.

Advertisement

Jangan lagi katakan "Hai" kepadaku, karena aku sudah tak ingin lagi sok akrab denganmu, sudah tak ingin lagi sok manis padamu, aku sudah benar-benar terlalu sakit dalam hal diabaikan olehmu malam itu, terima kasih pernah menjadi sayang, dan terima kasih juga pernah menjadi benci.

Sepenggal puisi senja malam itu ku tulis untukmu, karena yang aku tulis senja sore tadi tentang senja aku dan kamu, yang pernah kita temui berdua sore itu, dua tahun yang lalu. Jika manusia dan seorang wanita diciptakan dengan tulang rusuk, maka kamu diciptakan dengan tulang apa? Tulang punggung yang sok kuat itu?

Ah, berhentilah dengan bergurau kata kuat, karena sekuat-kuatnya kamu dihadapanku, kau tetap mellow dalam hal mencintai dan disakiti wanita, namun ingatlah satu hal, orang sekeras kepala kamu, adalah orang yang hanya mementingkan dirimu sendiri dibandingkan kau mementingkan orang yang mencintaimu dan orang yang kamu cintai.

Tutuplah terus hatimu untukku, jangan kau buka kembali hanya untukku, bukalah untuk wanita yang memperjuangkan kamu dalam hal apapun, dalam hal rindu dan sayang yang belum tentu sedalam aku, aku tak perduli hal itu, kau kejar dia sampai kau dapatkan, karena kau bukan type pria dikejar, karena semakin kau dikejar wanita kau akan semakin pergi begitu saja, bahkan tanpa senyuman, bahkan tanpa alur cerita yang berending bahagia, bahkan juga, alur kisah yang indah dari masa lalu.

Sudah cukup ya malam ini, kau gantungkan cintamu dengan tangis yang kau sembunyikan dariku, aku tahu. Mungkin kau tidak menyatakannya dihadapanku, mungkin aku tidak sepadan dengan rasa pilumu yang kau rasakan itu terlalu sakit, aku juga.

Sekelibat mata memandang perih saat pertemuan, sekelibat mata memandang angan saat itu, kau menyerupai orang lain, kau membawa dia dalam harapan besar dapat membahagiakan kamu, kau mencoba memperkenalkannya padaku, ah sudahlah. Aku tak perlu berkenalan dengannya, aku sudah kuat dalam hal menyakiti, aku sudah terlalu kuat dalam hal disakiti, aku tidak layak untuk membahagiakan orang sepertimu, aku hanya ingin kau pergi jauh dalam duniaku, atau aku yang akan pergi jauh, lalu mundur perlahan untuk tidak ditemui lagi olehmu.

Manja, aku memang manja. Keras kepala, aku juga keras kepala, maka dari itu sampai sekarang kau menyuruhku untuk pergipun aku tidak akan pergi, sampai sekarang kau menyuruhku untuk melupakanmu saja, aku masih belum bisa melupakan, bagaimana dengan kamu yang sebenarnya sudah bahagia. Aku tidak setuju jika kau kini bahagia tanpaku? Aku tidak yakin.

Seyakin yakinnya kamu dalam hal membahagiakan diri sendiri, aku tidak yakin kau bahagia dengannya. Jangan tanyakan aku sedang apa, aku sudah pasti sedang tidak baik. Jika suatu saat kau menangis, mungkin itu karena aku tidak meyakinkan kamu bahagia tanpaku, jika suatu saat kau banyak masalah, itu karena kau belum menyelesaikan masalah padaku saat perpisahan, bilang pada orang tuamu aku rindu.

Bilang pada adik sepupumu, aku sangat rindu, dan bilang sama nenekmu, aku membutuhkannya, dan katakan juga pada seluruh keluargamu, aku sudah tidak ingin menemui kamu dan ditemui kamu, jangan lagi ada dihadapanku, harapanku adalah kita sama-sama saling melupakan, walau tidak habis fikir, aku dan kamu bukan hanya saling melupakan, namun berusaha untuk saling tidak mengenal. Perihal aku dan kamu pernah ditemukan dalam keadaan sangat sayang, hingga menghilang dengan disayangkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya