Apakah kamu tergabung dalam sebuah grup di media sosial seperti Whatsapp ? Grup yang dihuni oleh orang-orang yang telah menjadi bagian dari masa lalumu. Seperti grup alumni SMP, SMA/SMK atau grup alumni universitas.


Awal tergabung dalam grup memang seakan memberi sebuah harapan baru. Berharap bisa membangun komunikasi satu di antara lainnya lebih baik lagi, menambah keakrabanmu dengan mereka yang dulunya tidak saling mengenal, saling berbagi informasi, bercanda tawa di grup, bahkan bisa jadi berharap membangun sebuah komunitas yang solid dengan adanya grup Whatsapp, dan tentunya diikuti harapan-harapan lainnya.

Advertisement

Tapi terkadang, harapan tersebut harus dikalahkan dan tersingkir oleh keegoisan para penghuni grup lainnya yang sibuk dengan obrolan mereka dan anggota lain yang saling mengenal dengan akrab. Para penghuni yang hanya mementingkan obrolan kelompok yang sepaham dengannya hingga mereka lupa bahwa ada penghuni lain yang ternyata ingin membangun komunikasi yang terabaikan hanya karena mereka bukan orang yang sangat dikenal.

Tidak hanya itu, banyak contoh lain yang bisa kamu liat dalam grup media sosial jika kamu mau memperhatikan. Begitu banyak anggota grup yang juga ingin bersuara, namun karena suara mereka nggak dianggap penting, bukan bagian dari mereka yang saling kenal begitu akrab. Suara mereka terabaikan, seperti satu detik waktu yang jarang menjadi pusat perhatian kecuali bagi orang-orang tertentu saja.

Bisa jadi juga, ketika mereka bersuara. Suara mereka tak pernah benar karena tak sepaham dengan mereka yang saling mengenal, hingga pada akhirnya suara-suara mereka hanya dianggap sebuah kesalahan yang harus diabaikan.

Advertisement


Karena keakraban pertemanan membuat segala sesuatu menjadi sebuah kebenaran, sedangkan yang tak akrab hanya mendapat bullyan saja dan dianggap salah, sekali pun itu sebuah kebenaran.


Beberapa hal di atas yang terkadang menjadi pemicu mengapa mereka akhirnya harus keluar dari grup yang semula dibuat untuk bisa menyatukan sebuah kehidupan yang sempat terurai karena perpisahan dan keadaan. Jika keadaannya seperti ini, lantas apa yang sebenarnya harus dilakukan saat membentuk sebuah grup di media sosial?

Sebenarnya sangat sederhana untuk bisa membangun sebuah grup yang layak untuk semua penghuninya. Perlakukan mereka sama rata tanpa ada kesenjangan keakraban dan kesenjangan status sosial yang sering menjadi sekat yang begitu jelas di antara sesama penghuninya. Dengarkan suara mereka sama halnya mendengarkan suara-suara mereka yang dikenal begitu akrab.

Jika memang ada perbedaan saat membangun komunikasi di grup. Terimalah perbedaan itu dengan lapang dada, bukan dengan seenaknya mencela perbedaan yang ada. Apalagi hanya karena sebab ketidakakraban antara satu sama dengan yang lainnya. Hal itu sangat tidak layak untuk dilakukan.


Setiap manusia sama, ingin diperlakukan layaknya mereka yang kau kenal. Namun, tetap dengan perlakuan yang objektif, bukan subjektif agar terjadi sebuah keseimbangan kehidupan.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya