Awal yang cukup rumit hingga memutuskan untuk hadir di tengah kerumunan ini, berbagai polemik fisik hingga hati menyertainya selalu. Mengikuti tapi seolah tak mengikuti, mungkin argumen yang tepat untuk mewakili setiap rasa bahkan asa yang terjadi di awal keputusan. Hingga akhirnya tertuju untuk mengiringi kawanan kawan hingga detik ini.

Dalam perjalanan nampak semakin terasa, berat beban menjadi panutan walaupun kadang diri tak bisa dipanut. Menjadi sosok yang mengharuskan mendengar dan memahami setiap detak dan nafas dari setiap individu yang tak banyak namun sangat berarti untuk segala proses. Tak mudah memang, layaknya mereka yang memikul tanggungjawab pun demikian dengan diri ini yang dipercayai untuk mengelola mereka yang disebut volunteer.

Banyak proses yang terlewati hingga detik ini, beragam kisah telah ditorehkan entah yang menggembirakan atau bahkan mengecewakan sekalipun.

Lelah? Sejujurnya iya. Bukan hanya karena kawanan ini, namun memang setiap manusia selalu memiliki kerisauannya masing-masing. Bahkan mungkin kerisauan untuk memilih melanjutkan atau berakhir pada tawaran tertinggi dalam profesi, dan ternyata saya masih di sini hingga detik ini. Memilih mengiringi daripada memperkaya kantong sendiri, sebab sadar hati ini melampaui sadar pikir. Merasa telah banyak diberi oleh-Nya, lalu mengapa tak berbalik memberi-Nya.

Tak banyak memang, hanya mampu memberikan waktu. Namun, mereka yang memberikan waktunya tak ayal juga memberikan kehidupannya. Dan mungkin hanya itu yang bisa dilakukan untuk semakin berkawan dengan-Nya. Sederhana? Tidak juga.

Advertisement


Memberikan hidup bukan sekedar memberikannya lalu pergi entah kemana. Memberikannya berarti ikut merawatnya, pun juga merawat setiap kisah yang terkandung di dalam kawanan ini.


Memulainya dengan ketidakberdayaan bukan berarti harus mengakhirinya dengan keputusasaan, beberapa kawan saling menguatkan beberapa yang lainnya mulai menertawakan. Namun sesungguhnya semua dapat disyukuri, sesederhana mensyukuri masih bisa menjadi objek candaan atau bahkan umpatan. Tak perlu menangis tak perlu bersedih, adakah mungkin hidup mereka sedang dirundung kegelisahan. Sementara itu kita menjadi obatnya, meski kadang sakit mulai terasa. Namun nyatanya masih bertahan, meski dengan langkah gontai dan compang-camping.

Menjadi pemimpin kawanan memang tak semudah kelihatannya, bahkan ketika kawanan itupun seragam dalam satu nyawa. Biarlah kawan, proses ini yang akan membentuk kita.


Ditempa, ditempa, dan ditempa, hingga akhirnya terbentuk menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti, yang jauh lebih berhati, yang jauh lebih bernyali.


Sementara waktu terus berganti, biarlah kisah ini menjadi kenangan dan pelajaran untuk menjadi manusia sejati. Menguatkan di kala bimbang, menyejukkan di kala gelisah, dan mengobati di kala terluka. Mengingatkan hati untuk semakin berhati, meluangkan mata untuk melihat segala, memekakan telinga untuk mendengarkan, serta menajamkan logika untuk memutuskan yang terbaik dari yang terbaik.

Tak ayal menjadi pemimpin tak lebih dari menjadi seorang pelayan, melayani dengan kepenuhan hati serta sikap diri. Santai saja kawan.