Aku mencintainya…

Terlepas dari bagaimana ia selalu memintaku untuk menunggu kepastiannya, kadang aku berpikir, andai dia tau.

Advertisement

Apakah cinta hanya bersinggah di hatiku seorang ?
Apa hanya aku,yang terlalu berharap pada banyak ketidakmungkinan yang ada pada hubungan kami ?

Dalam sesaat senja selalu berbisik padaku, melalui sepoi angin yang menggores di telingaku agar aku memperhatikannya. Angin membuatku sadar dalam lamunan saat ini, bahwa sekarang aku hanya duduk sendiri tanpa bersama dia.Angin seraya mengolokku bahwa bodohnya aku yang terus menanti, sesuatu yang tak pasti.

Seringkali aku tertawa, mengingat begitu percaya dirinya aku dulu yang mengganggap 'kami' sebagai pasangan sejati. Dulu, kukira, aku memiliki pria terbaik yang memberiku ketulusan juga kasih sayang. Aku percaya bahwa dia tak akan pernah menyakiti hati bahkan meninggalkanku.

Advertisement

Aku jatuh cinta padanya. Sangat sangat mencintainya. Aku selalu menguatkan hatiku, dan menjadikannya sebagai tujuan hidup yang ingin kumiliki. Aku terlalu percaya diri hingga tak pernah berfikir bahwa ia akan bersamaku selamanya.

Aku selalu mempercayainya.

Mempercayai semua ucapan, dan lukisan indah di mata cokelatnya yang tergambar saat bersamaku.
Dalam sujud sepertiga malamku, kuikut sertakan dia dalam daftarnya. Kudoakan keselamatannya, kuharapkan kesukses-an pada dirinya, juga kudoakan kesetiaanya padaku.
Mengingat aku yang bagaimana selalu menyangkal tentang kebenaran adanya 'sakit hati' .
Kufikir , sakit hati adalah 'kemustahil-an' yang akan terjadi pada kisah cintaku. Dengan alasan, aku dan dia adalah pecinta yang saling dan akan selalu mencintai. Kini, aku tau itu fakta terjadi.

Lucu bukan ?
Aku begitu bodoh dalam hal ini, dan dia begitu pintar dalam membohongi hati

Saat ini aku mencoba tak mengingatnya, semua janji indah dan kenangan yang dilaluiku bersamanya. Aku mencoba mempercayai kenyataan bahwa aku dikhianati dengan begitu sakit, dengan cara meninggalkanku tanpa alasan bahkan ‘maaf’. Dan, Aku mencoba belajar bagaimana untuk menjaga hati.
Mungkin, aku sudah sampai di dermaga penantianku. Aku sudah sampai diujung kata 'sabar' yang selalu kusiapkan untuknya. Cukup sudah belajar darinya, tentang bagaimana , kita yang harus menakar rasa cinta dan percaya pada seorang kekasih. Ia tak berhak kutangisi, ia tak berhak kutunggu lagi, bahkan tak elok. Aku sudah terlalu lama hingga terlupa ada bahagia di luar sana.

Untuknya, kuharap ia taHu betapa berharapnya aku pada kesetiaannya. Terima kasih, untuk sekian, aku mencintainya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya