Dengan logika sederhana, cinta mengungkap keajaiban-keajaiban yang menakjubkan. Mengubah tiada menjadi ada, sulit menjadi mudah, sakit menjadi sembuh, gagal menjadi sukses, mengubah apapun menjadi seperti yang anda mau. Anda cinta membaca dan selalu terobsesi mengetahui segala sesuatu? Mempunyai curiosity yang sangat kuat?

Pengetahuan merupakan kekuasaan. Tanpa pengetahuan, kekuasaan anda tidak memiliki daya pengaruh. Oleh itu, hiasi hidup ini dengan menjadi seorang maniak pengetahuan, haus informasi, humble, agar proses pembelajaran tidak terhambat. Pengetahuan bukan hal yang datang secara mendadak, melainkan sebuah mata rantai dari kebiasaan-kebiasaan, pengalaman hidup, dan perenungan yang mendalam.

Para pemimpin harus memantapkan dirinya dengan berbagai pengetahuan. Mereka tidak boleh hanya tertarik dengan know how, tapi juga dengan know why. Jangan hanya tertarik pada pengetahuan teknis, tapi juga dengan pengetahuan yang bersifat falsafah. Pemimpin tidak boleh hanya belajar pengetahuan empiris tetapi ontologis untuk merasakan ke dalam suara hatinya. Pengetahuan empiris dan scientist lebih memusatkan perhatian kita pada dunia materi, tetapi tanpa pengetahuan yang mengajak pada kebijaksanaan, pengetahuan kita akan menjadi kasar bahkan bernuansa arogansi yang merusak.

Pemimpin tidak sama dengan boss. Seorang pemimpin harus mampu tenggelam dalam dunia yang batin, agar mendengarkan suara hatinya yang paling jernih. Kejernihan hanya berada pada saat kita mengheningkan seluruh aktivitas, termasuk aktivitas berpikir. Aktivitas badaniah seringkali sangat melelahkan dan membuat saraf-saraf batin kita berkarat dan sulit menemukan wajah batin kita yang autentik.

Anda mungkin seorang boss yang dapat memberi perintah, namun jangan berharap akan terjadi sebuah perubahan. Perubahan hanya dapat dilakukan oleh seorang Mahatma Gandhi, bukan seorang Adolf Hitler. Bila ingin mengasah pisau kepemimpinan, maka bacalah. Seberapa jauh prinsip-prinsip keyakinan anda bermanfaat tidak hanya untukmu, tetapi juga bagi orang lain. Apakah pengetahuan anda cukup memadai untuk menyongsong hari esok?

Advertisement

Kebenaran justru di mulai dari bertanya. Mereka yang enggan bertanya akan terbelenggu oleh masa lalu dan tidak mungkin memperoleh hikmah dari kehidupan ini. Konteks pembahasan kepemimpinan adalah kepribadian yang mencakup intelektual dan karakter atau akhlak.

Manusia adalah makhluk intelek karena Tuhan melengkapinya dengan otak yang merupakan ciptaan yang sungguh mengagumkan. Otak manusia memiliki jutaan miliar sel dan jaringan saraf-saraf yang sangat halus yang memiliki multifungsi merupakan ciptaan yang tidak akan pernah tertandingi. Tetapi, manusia juga adalah makhluk yang berkarakter dan makhluk yang berakhlak.

Pemimpin yang baik memainkan peran kepemimpinan dengan menjadikan intelek sebagai alatnya dan akhlak sebagai tuannya. Intelek harus melayani akhlak. Ia harus menjadi instrumen kepribadian karena manusia intelek, tetapi tidak berakhlak akan menjadi binatang buas yang sangat berbahaya. Mereka menjadi makhluk intelek tetapi tidak bermoral.

Nuklir serta teknologi lainnya merupakan pekerjaan intelek. Dan ketika akhlak tidak memainkan perannya, maka penemuan teknologi itu akan menjadi bahan pemusnah eksistensi manusia. Intelektual berkaitan erat dengan rasio dan logika, sedangkan akhlak lebih berkaitan dengan suasana hati, prinsip-prinsip moral, dan emosi manusia.


“Kita harus berhati-hati agar kita tidak mendewakan intelek. Tentu saja intelek memiliki daya kekuatan yang dahsyat, tetapi intelek tidak memiliki kepribadian. Intelek tidak dapat memimpin, intelek hanya dapat melayani” (Albert Einstein)


Memimpinlah dengan tulus dan semangat. Anggota tim akan senantiasa memperhatikan dan juga mengawasi bagaimana pemimpin mereka bertindak. Jangan pernah mempermainkan perasaan dan ketulusan anggota tim. Ketulusan hanya layak dibalas dengan ketulusan pula.