Saya Penyuka Teh, namun juga Suka Senja dan Berdiksi Indah

Catatan seorang penikmat senja tanpa kopi

Awalnya saya tak begitu percaya dengan isu kekinian mengenai kopi, senja dan puisi. Ketiga unsur kehidupan tersebut nyatanya tak memiliki hubungan erat satu sama lain, baik dari makna filosofis ataupun kesamaan sifat kata. Kemudian, society juga menambahkan kata ‘indie’ ke dalam trio kata tersebut.

Advertisement

Entah dengan maksud apa, sepertinya hanya sebagai penggunaan kata keterangan untuk menyebutkan ketiga unsur tersebut agar lebih mudah diingat. Dengan asumsi bahwa ketika mendengar kata indie, maka yang terbayang adalah orang yang sedang duduk menikmati rona jingga langit ditemani secangkir kopi espresso di mejanya bersama secarik kertas yang betuliskan kalimat berirama.

Kira-kira seperti itulah. Kemudian mosi tidak percaya saya mulai luntur ketika mendapati sebuah subjek yang menggambarkan keseluruhan masalah itu. Seorang teman saya adalah penyuka kopi. Meski tidak terlalu mewah, hanya sachet-an, dalam sehari ia bisa menghabiskan 3 bungkus kapal api. Kemudian, ia juga suka menulis hal-hal yang ada dikepalanya, berujung pada penulisan kata bijak yang datang dari inspirasi buku atau dengan sendirinya.

Kemudian, kata bijak itu tak lupa ia bagikan ke masyarakat dunia lewat statusnya. Berupa tulisan yang berlatar langit jingga. Senja. Akhirnya saya yakin memang ada jenis orang yang rantai hidupnya terdapat kopi, senja dan puisi yang kerapkali dipanggil indie. Bertolak belakang dengan jalan hidup yang saya tempuh, saya tidak terlalu menggemari kopi. Justru saya lebih suka teh.

Advertisement

Terkadang hal ini juga membuat orang lain selalu menilai saya dengan stigma. Orang yang minum teh adalah orang tua, orang yang minum teh itu jadul, orang yang minum teh adalah orang yang kesehatannya terganggu, orang yang minum teh bacaanya itu koran. Begitulah dunia menilai saya. Semesta pun pasti bingung akan hal ini.

Anggapan umum sering dijumpai dan muncul begitu saja belakangan ini. Tapi tak apa. Saya sebagai penyuka teh tak dirugikan sama sekali mengenai fenomena indie ini. Hanya saja mungkin akan ada masa ketika saya mulai membuat sebuah kalimat atau tulisan yang terlampau indah dan kemudian dianggap sebagai penikmat kopi.

Advertisement

Padahal saya hanya menganggap kopi sebagai minuman untuk menghilangkan kantuk, jadi sesekali diminum kalau memang ada perlunya. Bukan barang konsumsi harian. Sebagai penyuka teh dan kalian sebagai penikmat kopi, kita berbagi hal yang sama. Kita  menikmati indahnya senja dan mewariskan ide lewat kata-kata.

Tak jauh dari sana, kita bahkan membuat langit yang jingga seolah menyapa lewat untaian frasa. Selain itu, perlu kita sepakati bahwa senja bukan pagar dari taman untuk kita berkreasi lewat kata yang ketika senja itu lewat, kita kehabisan makna. Kamu yang dianggap indie atau aku yang dianggap tua keladi tetap berpuisi dan merangkai diksi tatkala langit mulai meredup berselimut bintang dan bulan di angkasa.

Sebagai orang yang suka teh, aku menikmati aromanya yang menenangkan. Cocok untuk meredakan badai di pikiran. Sebagai seorang indie penikmat aroma kopi, kamu paham betul bagaimana menyampaikan rumitnya pikiran lewat sebuah tulisan. Dalam satu garis singgung yang bertemu, kesamaan kita sungguh menyatu.

Kita menatap pada langit untuk mencari ilmu yang terbenam dalam benak. Kemudian, seduhan dari biji dan daun pucuk yang hangat itu mencairkan makna sebenarnya pada memori yang beku. Mengulang kembali ingatan tentang hidupmu dan hidupku. Rangkaian yang sama dalam menghirup air hangat pada cangkir itu masih terasa hangat dirasa.

Kamu memulai untuk bercerita, kemudian aku memulai dengan mendengarkan seksama. Satu cangkir kopimu telah habis menyisakan kosong. Satu cangkir tehku habis beserta hati yang tetap kosong. Penyuka teh seperti saya bacaannya bukan koran saja yang terbit pagi hari. Senja juga bukan juga milik mereka yang sedang meratapi hidup seharian dengan lesu.

Merangkai kata indah juga bukan hanya ada pada indie muda yang beraroma arabika. Saya penyuka teh, saya juga suka senja dan akan menghadiahimu karya terindah diksi yang belum pernah ada. Buktinya sudah kamu baca pada paragraf sebelumnya. Selamat menyeduh kembali minuman favorit kita.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang yang menatap langit yang sama denganmu

CLOSE