Kata orang, setelah disakiti dan ditinggalkan, kita akan sulit untuk mempercayai seseorang. Ya, dan itulah aku. Hingga kemarin, aku belum menemukan satu orang pun yang mampu mengubah cara pikirku. Semuanya yang datang adalah sama. Hanya memandang aku dari fisik belaka. Sebab aku punya apa yang bisa mereka banggakan, katanya.

Sampai kemudian, aku mengenal dia.
Bukan, aku sudah lama mengenalnya. Sekitar sepuluh bulan yang lalu. Pertemuan yang tidak disengaja, diperantarai oleh seseorang yang juga kami kenal tentunya. Seseorang yang sekarang aku tidak ingin lagi menyebut namanya.

Advertisement

Dia yang aku kenal dulu adalah makhluk berjenis lelaki yang terlihat berbeda sejak aku melihatnya. Dia tidak cacat, anggota tubuhnya lengkap. Dia hanya berbeda dari caranya memandangku. Menurutku, mungkin karena saat itu aku masih menjadi hak milik temannya sendiri. Jadi, mau tidak mau dia harus bersikap secuek itu. Seakan ketika bersamaku, dia mempunyai dunia sendiri.

Hingga kemudian dia datang lagi, beberapa bulan setelah aku merayakan hari kesembuhan dari patah hati. Saat itu aku tidak menganggapnya sebagai ancaman bagi perasaanku. Namun, perlahan cara pandangnya mengubahku. Sifat dan sikapnya menyentuhku. Dia tidak melakukan usaha pendekatan seperti lelaki lainnya. Yang dia bisa lakukan hanyalah berada sejauh puluhan kilometer dari tempatku berada dan mengatakan,

"Aku ingin kamu selalu tertawa, minimal senyumlah. Biar aku tahu, berarti aku berhasil membuatmu bahagia."

Advertisement

Lihat, kan? Dia berbeda dengan spesies lelaki pada umumnya.
Dia tidak pernah memberiku rayuan gombal dan janji-janji manis yang tidak pernah bisa dibuktikan.
Dia hanya ingin aku bahagia, cita-cita yang sederhana tapi mulia.

"Aku tidak akan menyakitimu."

Suatu hari itu yang dikatakannya selepas aku menceritakan bagaimana proses aku jatuh dan menyembuhkan diri sendiri. Hasil dari perbuatan yang dilakukan oleh temannya sendiri. Apakah aku percaya dia?
Aku percaya, satu hal yang sulit aku lakukan kepada lelaki lainnya.

Prinsip kami adalah sama, tidak akan lagi sibuk dengan urusan cinta. Kami menyerahkannya kepada Tuhan saja, Dia yang akan mengurusnya. Kewajiban kami saat itu hingga saat ini adalah saling menjaga. Menjaga dari jauh lewat doa. Katanya,

"Aku ingin pacaran sama kamu, tapi setelah kita menikah."

Aku tidak bisa mengatakan tidak. Sebab dia datang dengan niat yang baik dan tujuan hidupnya adalah baik. Tidak pernah ada lelaki yang mengajakku seserius itu. Dan lagi-lagi, apakah aku mempercayainya?
Tidak, kali ini aku hanya setengah mempercayainya. Aku hanya ingin melihat usahanya.
Aku ingin tahu, sejauh mana dia akan memperjuangkannya.

Sampai suatu hari, aku mengatakan kepada dirinya.

"Buktikan kalau kamu memang ingin serius, datang ke ayahku dan katakan niatmu."

Aku saat itu hanya ingin bercanda. Tidak ingin secepat itu memutuskan bahwa aku menantangnya untuk datang ke rumah. Tapi, dia melakukan hal yang sama sekali tidak aku pikirkan. Dengan mantap, dia menjawab.

"Iya, kalau begitu kita tidak usah berhubungan dulu. Sampai aku datang ke rumahmu.
Ingat, tunggu aku."

Dan itu adalah sekitar satu bulan yang lalu. Apakah dia berhasil dengan tidak menghubungiku? Berhasil.
Apakah dia sudah datang ke tempatku? Belum.
Apakah aku masih mempercayainya? Iya, aku percaya.
Mungkin, sebab hingga saat ini aku masih mau-maunya untuk menunggu dirinya.

Jika menurut kalian, aku adalah bodoh. Maka aku akan mengatakan, aku lebih mengenal dia daripada kata kalian dan kata orang. Dia adalah orang yang berbeda. Dia adalah dia yang punya prinsip jelas dalam hidupnya. Dia adalah dia yang tidak akan menyakitiku.

Walaupun kadang aku sempat takut. Ketakutan sebab krisis kepercayaan yang aku alami sendiri.
Apakah dia benar akan datang? Apakah aku harus terus mempercayainya? Apakah aku harus terus menunggunya?

Namun, ketika ketidakpercayaanku mulai datang, selalu ada alasan yang kembali menguatkan. Di sinilah, aku mempercayai campur tangan Tuhan. Bagiku, dia hanya memberi jarak hanyalah untuk menjagaku. Hingga saat nanti dia benar-benar datang kemari.

Kalaupun dia tidak datang, itu juga bukan masalah. Sebab, aku tidak menggantungkan harapan kepadanya. Aku menautkan harapan kepada pemilik hatinya, yang entah suatu hari nanti akan mempertemukan kami dengan cara seperti apa lagi. Mungkin dengan cara tidak terduga seperti dulu ketika kami saling kenal pada awalnya, yaitu lewat seseorang yang aku masih tidak ingin menyebutkan namanya.

Tapi, agar kalian percaya bahwa skenario Tuhan itu sangat luar biasa. Aku akan menceritakan, bahwa aku mengenalnya dari seseorang yang aku sebut mantan. Yang ketika malam sebelum hari Minggu, dengan aku yang masih berstatus sebagai pacarnya saat itu. Dia, mantanku, mengajak temannya itu datang menemuiku.

Itulah awal dimana kami saling berkenalan, saling berjabat tangan. Hingga aku tidak ingat apa-apa lagi, selain:
Aku saat ini sedang menunggu dia memenuhi janjinya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya