Menjalani kehidupan 'nyata' setelah menghabiskan jatah pendidikan, rasanya sangat kompleks jika dipikir-pikir.

Masih kuingat jelas bagaimana aku pernah dengan sangat rinci menggambarkan skema 'ingin-jadi-apa-aku-beberapa-tahun-ke-depan'. Saat duduk di bangku sekolah, bermimpi menjadi apa dan siapa seolah menjadi hal yang harus kulakukan. Rangkaian ekspektasi yang melambung tinggi menjadi modal utamaku untuk terus menyambungkan titik-titik skema cita-citaku itu serumit mungkin.

Dan demi menggapainya, aku hanya harus bekerja ekstra keras untuk memahami puluhan mata pelajaran yang tentu saja tak semuanya bisa masuk dengan mulus di dalam serabut-serabut otakku, yang barangkali sudah tercemar banyak hal tak berguna ketimbang rumus-rumus dan huruf-huruf Hiragana-Katakana.

Advertisement


Kemudian, perlahan aku menyadari, bahwa hidupku sejatinya adalah sekumpulan ekspektasi yang tumbuh dari peranku sebagai pengamat dan pemikir. Aku mengamati banyak orang, menerjemahkan kesuksesan dalam buku-buku mereka, dan membuat definisi sukses lewat pencapaian mereka. Saat itu, aku masih sangat remaja untuk memahami bahwa kehidupan sesungguhnya akan dimulai ketika kakiku menapak ubin kelulusan dari bangku pendidikan formal yang menghabiskan hampir di seluruh angka umurku.


Perjalanan mencari cita-cita itu belum berhenti sampai di kelulusan SMA. Saat kuliah, aku menjalani segalanya dengan sempurna. Aku berusaha totalitas, sebab aku menyadari bahwa yang kujalani saat itu bukanlah bidang yang ingin kudalami sejak masih mengenyam bangku Madrasah Ibtidaiyah. Pendidikan di bidang kesehatan sama sekali tidak terlintas dalam skema cita-cita yang kugambar saat SMA.

Meski begitu, aku memutuskan untuk menjalaninya dengan baik. Kubuktikan bahwa meski aku tidak menjalani bidang yang ingin kutekuni sejak kecil, aku mampu untuk bertahan sampai akhir. Empat tahun perjalanan mencari 'cita-cita' itu terus berlanjut sampai aku dinyatakan wisuda dengan toga sebagai simbolisnya.

Advertisement

Lalu, apa? Saat kuliah, aku menjalani segalanya dengan teratur layaknya mahasiswa pada umumnya. Aku bahkan sempat menggambar lagi skema cita-citaku yang baru dan itu benar-benar berubah drastis dari skema cita-cita lamaku sejak jaman SMA. Kupastikan segalanya berjalan sesuai rencana. Menjadi tenaga kesehatan yang mumpuni, sukses, dan berjaya di bidangnya.


Padahal, itu sebuah pemikiran yang terlalu angkuh bahwa segalanya berjalan selaras dengan gambaran skema cita-citaku yang sudah rapi kususun sepenuh hati. Aku lupa, bahwa selalu ada variabel lain yang mengubah titik-titik skema yang sudah kuhubungkan dengan baik. Aku lupa, bahwa idealismeku terlalu gegabah untuk berpikir bahwa segalanya pasti berjalan sesuai rencana.


Aku dihantam realita yang langsung menghadangku tepat saat aku berbahagia menikmati gelar sarjanaku. Pertanyaan tentang, "Apa yang sebenarnya aku inginkan?" selalu mengantui hampir di setiap waktu. Satu per satu skema cita-citaku jaman kuliah berguguran, menyisakan beberapa rencana yang masih di awang-awang, antara bisa menjadi kenyataan atau hanya berakhir menjadi gambaran titik-titik yang sudah kuhubungkan. Semua rencana yang sudah kubuat matang-matang, berubah diluar perkiraan.

Orang-orang yang telah menonton euforiaku yang begitu angkuh sliwar-sliwer di timeline akun media sosial ku, terus mencecar pertanyaan serupa,"Sibuk apa sekarang?" yang merupakan sebuah pertanyaan halus dari "Sudah kerja apa sekarang?". Lalu dengan hati dongkol aku mengalihkan fokus pembicaraan. Lalu, kemana perginya idealisme yang dulu selalu dielu-elukan sejak menempuh pendidikan formal?


Lalu aku kembali sadar. Bahwa sekali lagi, hidup adalah sekumpulan ekspektasi. Aku sibuk merencanakan banyak hal, memastikan segalanya berjalan dengan baik bahkan hingga di titik akhir perkuliahan. Aku tidak menyiapkan mental untuk kemungkinan terburuk dari segalanya, bahwa idealismeku benar-benar tidak berguna ketika sudah menyandang gelar sarjana. Bahwa sebenarnya gelar sangat tidak bernilai apa-apa jika hanya dibanggakan tanpa ada realisasi nyata. Pada akhirnya, aku bergerak keluar dari dunia idealisme yang kubangun dengan sangat arogan. Aku bergerak mencari jalan, menjalani segala hal yang bisa kulakukan demi menjawab pertanyaan,"Apa yang benar-benar aku inginkan?"


Aku bergerak menciptakan realita yang lebih nyata dari sekedar kata-kata semata. Aku tidak lagi ingin dikungkung oleh idealisme yang menyulitkanku sendiri untuk mengejar kesempurnaan sebagai hasil dari kerja kerasku bersekolah sejak delapan belas tahun yang lalu. Aku memilih berbaur bersama berbagai kemungkinan yang lebih kentara, bahwa sebenarnya tujuan lulus adalah untuk menerapkan sekecil apapun ilmu yang kupunya. Bahkan jika aku belum menemukan jawaban dari pertanyaan,"Apa yang sebenarnya aku inginkan?", aku telah menjalani banyak hal, mempelajari banyak keadaan, dan menentukan apa yang ingin kulakukan.

Pada akhirnya, tidak peduli akan jadi apa kamu setelah lulus, kamu akan tetap jadi seseorang. Tergantung ingin punya nilai sebagai apa kamu di dalam dunia yang lebih nyata ini, semuanya ditentukan dari gerakmu sekarang. Kamu hanya perlu mengacuhkan berbagai komentar sinis mengenai pendidikanmu yang sia-sia jika kamu mengambil keputusan untuk menekuni bidang yang berbeda saat di dunia kerja. Maha benar netizen dengan segala ke-nyinyir-annya, kan? Kamu harus sadar bahwa kamu lah pemeran utama dari kehidupanmu sen-di-ri. Ya, ini hidupmu. Semestinya kamu lebih tahu apa yang benar-benar kamu perlukan untuk berjalan mencapai beberapa hal dalam hidup.

Selamat menemukan jawaban! Apapun prosesmu, semoga selalu bahagia menjalaninya sekarang. Teruslah bergerak untuk menciptakan realita daripada sekedar menyusun ekspektasi. Ingatlah, setiap keputusan yang kamu jalani sekarang adalah sebuah perjalanan penting untukmu di masa depan, bukan kesia-siaan!


Jadi, sudah siap move on dari zona nyaman, wahai kaum fresh graduate yang budiman? Aku ada di antara kamu, jadi, bersemangatlah! Mari samakan langkah untuk menumpas kenyinyiran kaum maha benar yang sok tahu tentang hidupmu. Fighting!


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya