Salah satu kebiasaan kita yang buruk ialah frontal bertanya tentang masalah pribadi orang lain. Mau masuk kuliah di mana, kapan lulussekarang kerja di manakok belum nikah, udah lama nikah belum punya anak, begitu banyak pertanyaan yang terlontar hanya sebagai kebiasaan. Tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Seolah-olah hidup hanya untuk mengurusi kehidupan orang lain, jika peduli maka sebaiknya kita memberikan dukungan tanpa menghakimi. Bukankah mempertanyakan hal-hal pribadi tentang seseorang bukanlah hal yang sopan? Ataukah semua sudah menjadi kebiasaan sehingga kita berpikir sikap seperti itu menjadi lumrah dilakukan?


Advertisement

Pertanyaan menyakitkan bagi anak kuliah (semester akhir) ialah “kapan lulusnya?”. Pertanyaan yang terlihat sederhana namun menimbulkan beban ataupun memberikan efek secara emosional. Kita tidak pernah tahu apa yang sedang dihadapi oleh setiap mahasiswa semester akhir. Mungkin saja setiap malam mereka tidak terlelap karena bahan bacaan skripsi yang menumpuk, belum lagi jika pusing karena selalu membaca namun sulit mengerti.

Mungkin saja mereka bingung membahasakan berbagai macam ide yang berkecamuk di otak, sehingga kerja semalaman tak lebih dari dua lembar. Mereka juga berusaha untuk secepatnya lulus, namun lulus tidak semudah mengeluarkan pertanyaan “kapan lulusnya?”.


Alangkah lebih baiknya berkata “Semoga berhasil dalam studinya dan selalu semangat.”


Advertisement

Bagi anak semester akhir pekerjaan paling melelahkan ialah menghindari pertanyaan seputar kelulusan. Kuatkanlah hatimu karena kenyataannya masih banyak yang memiliki sikap seperti ini. Paling penting dalam perjalanan studimu ialah berusaha sebaik-baiknya untuk menyelesaikan tugas tanggung Jawab perkuliahan. Pertanyaan "Kapan lulusnya?" pasti memberi sedikit beban, apalagi pertanyaan itu datang dari orang-orang terdekat seperti keluarga, namun tetaplah berusaha karena waktu akan menjawab setiap kerja keras.

Bagimu anak kuliah yang bermain-main dengan waktu, mencintai kesempatan untuk bertemu dengan  adik-adik tingkat di kuliah yang sama setiap tahunnya, kau bisa mencapai semester akhir jika kemalasanmu bisa kau akhiri. Tidak ada kata terlambat untuk berubah, jangan berkecil hati, dan selamat berusaha lebih keras dari biasanya. Lebih baik 7 tahun kuliah, namun akhirnya lulus, daripada 7 tahun kuliah tidak menghasilkan apa-apa dan pulang kampung tanpa gelar. Tetap Semangat.

Pertanyaan “kapan lulus?” Tidak pernah memberikan kontribusi untuk membantu, namun bisa saja menyakiti harga diri seseorang. Lebih baik mendoakan yang terbaik, dunia perkuliahan dan keinginan dosen pembimbing sangat sulit di tebak, oleh karena itu dia lebih membutuhkan disemangati untuk berjuang daripada diberikan pertanyaan.

Tidak ada seorangpun mahasiswa/I yang berkuliah dan tidak berkeinginan untuk lulus. Jika nanti kau sampai pada garis akhir perkuliahan, dan namamu bertambah gelar semoga ilmu yang kau pahami dan juga hidupmu secara pribadi berguna bagi banyak orang.


Saat semua terlalu sulit, berhentilah sejenak, namun jangan menyerah. Segala sesuatu yang ingin di capai dalam hidup tidak pernah mudah, sekalipun itu pendidikan. Lelahmu dalam malam-malam panjang menyelesaikan skripsi bahkan tidak sebanding dengan kerja keras kedua orangtua yang setia menjaga, merawat, dan melindungimu dari bayi.

Apapun bebanmu hari ini, bagaimanapun sulitnya dirimu hari ini, ingatlah bahwa segala kesulitan selalu datang dengan jalan keluar dan kemudahan pada akhirnya. Bukan persoalan yang membuat seseorang menyerah akan hidupnya, namun dirinya yang menyerah menghadapi dan melewati persoalan hidup.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya