Menjadi dewasa itu sulit bagi semua orang dan tentunya menjadi dewasa tidak selamanya sama waktunya bagi semua orang, ada yang memulainya pada masa kuliah, ada yang memulainya pada masa mencari kerja, ada yang memulainya lebih awal, ada yang lebih lambat, dan ada yang tidak menjadi dewasa sama sekali.
Hei, menjadi dewasa itu berbeda bagi setiap orang namun untukku proses menjadi dewasaku adalah ketika melalui masa-masa Gap Year. Masa dimana aku merasakan kesendirian di tempat yang penuh dengan orang, masa dimana validasi eksternal tidak lagi berfungsi, dan bertemu dengan teman hidup didalam prosesnya. Aku melewati itu semua dan sekarang berada di salah satu universitas dengan fakultas yang kuharapkan.
Gap year itu sebenarnya apa sih? Gap year adalah sebutan untuk mengambil masa jeda dari pendidikan formal dimana orang mempersiapkan diri entah itu untuk memasuki dunia perkuliahan maupun pekerjaan. Walaupun begitu istilah ini lebih identik dengan para pelajar yang berusaha memasuki dunia perkuliahan. Banyak hal yang dikonotasikan dengan gap year, ada yang positif dan tentunya banyak juga yang negatif. Mengapa banyak konotasi negatif yang mengikuti gap year sendiri tentunya karena gap year secara realistis merupakan masa yang mengawang atau tidak jelas eksistensi dan kemungkinan yang ada di dalamnya, tidak seperti pada masa bangku sekolah yang secara jelas memampangkan kemungkinan tidak naik kelas dan naik kelas dengan acuan nilai sebagai patokan untuk menentukan kemungkinan tersebut, gap year tidak memberikan kepastian seperti itu.
Terdengar mengerikan kan? Itu hal yang wajar karena pada dasarnya manusia tidak suka pada ketidakpastian dan kemungkinan yang terlalu luas, itulah mengapa kata gap year lebih banyak memberikan kesan atau konotasi negatif dibandingkan positifnya.
Pada kenyataannya tidak seseram itu, gap year hanya menjadi kesempatan layaknya pilihan orang pada umumnya memberikan kemungkinan, tentunya hasil dari kemungkinan itu tergantung dari individu itu sendiri. Disini aku akan memberikan pendapat jujurku terhadap stigma dari gap year itu sendiri dan tentunya aku berharap akan membantu menambahkan insight dari pembaca terhadap gap year itu sendiri. Beberapa pendapat populer diantaranya adalah :
1. Gap year itu menguji mental
Hei, aku disini ingin bilang kalau jadi manusia gap year itu memang menguji mental kok, tapi disitu kita belajar jadi dewasa, disitu kita belajar buat sadar kalau dalam hidup tidak selamanya kita menang, tidak semua berjalan sesuai rencana kita. Di masa gap year inilah kita belajar kalau kemungkinan kita menang atau kalah itu tidak pernah 50%, justru kemungkinan kita gagal itu 99% tapi di gap year juga kita diajarkan untuk menurunkan presentase itu seperti menguji diri sendiri sampai mana kemampuan kita, menilai apakah minat kita disana sudah benar, menilai kegagalan kita karena apa, dan masih banyak lagi. Segala tantangan di masa gap year itu yang membuat kita semakin dewasa.
2. Gap year itu susah fokus
Jujur aku sendiri memang merasakan hal ini di awal masa gap yearku karena aku pertama kali merasakan kegagalan dalam hidupku, tapi aku pakai kesempatan ini untuk menulai passion atau minatku di bidang akademik yang aku incar karena pada masa ini aku tidak lagi memiliki bias terhadap apapun. Masalah fokus itu kembali kepada tujuan kalian, jika kalian sudah memang tahu apa yang kalian inginkan lebih baik menguji niat dan melanjutkan niat tersebut ketika sudah mantap dibandingkan melawan dengan keras niat tersebut.
3. Gap year bikin aku overthinking
Iya, gap year memang membuat aku banyak memikirkan tentang masa depan terutama karena masa itu sendiri tidak sejelas dulu ketika masih dibangku sekolah. Tapi aku menghadapinya dengan banyak membaca buku pengebangan diri terutama buku psikologi, selain menambah wawasan buku – buku itu juga yang membuatku lebih mengenal diriku sendiri dengan baik sehingga menghadapi masalah yang berkaitan dengan diriku lebih mudah.
4. Gap year itu susah atur waktunya
Aku sendiri tidak merasakan adanya masalah dengan pengaturan waktu karena sisa – sisa karakter disiplin waktu yang ditanamkan semasa sekolah masih tertanam dengan baik di dalam diriku. Jika tidak terbiasa dengan mengatur waktu bisa dengan masuk les yang memang jadwalnya sesuai dengan kebutuhanmu, jangan masuk les hanya karena tempat tersebut terkenal tapi lebih kepada kenyamanan dan kebutuhanmu.
5. Gap year itu serem banget
Pada awalnya memang begitu, lagipula apa sih yang tidak menakutkan ketika kita hadapi pertama kalinya. Sama halnya dengan gap year juga begitu, tapi setelah menghadapi gap year aku jadi banyak belajar realistis dalam menghadapi hidup dan lebih kepada fleksibel dalam menentukan pilihan. Tentu beberapa pertanyaan dari lingkunganku juga sebenarnya membuat gap year tampak semakin mengerikan tapi dengan komunikasi yang baik ternyata hal yang menyakiti hatiku dapat dihindari dengan baik.
Itu adalah beberapa hal yang kupelajari dari gap year selama menjalani masa – masa yang menarik itu, banyak hal positif yang kudapatkan setelah melaluinya seperti insight tentang pilihan hidup seseorang, menjadi fleksibel dalam menentukan jalan hidup, beristirahat ketika membutuhkan, gagal itu bukan berarti kalah, dan waktu orang berbeda-beda jadi jangan samakan dirimu dengan orang lain. Terima kasih sudah membaca kisahku, semoga membantu pembaca dalam menghadapi masanya saat ini.
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”