Hai, hallo. Apa kabar? Ah, terasa sangat canggung bukan? Entah apa yang harus aku katakan padamu, aku tak punya banyak keberanian bahkan hanya sekedar untuk menyapamu. Iya kamu, kamu masa depan yang aku impikan belum lama ini. Rasanya baru kemarin kita bahagia, menghirup aroma kebahagiaan yang sama di tiap detiknya. Rasanya baru kemarin pula kita melukis cita-cita dan harapan di tengah derasnya air hujan yang berjatuhan.

Kita tertawa bahagia saat itu. Saat air hujan menjadi saksi kenangan indah kita.

Advertisement

Rasanya semua tentangmu adalah kebahagiaan untukku. Sampai aku merasa bahwa di hari dan detik ini kamu masih menjadi miliku. Ya, diriku gagal menyadari bahwa kenyataannya kita telah berpisah. Kenyataannya kita tak lagi berjuang di jalan yang sama untuk mewujudkan mimpi itu. Nyatanya hanya aku yang terdiam di sini. Melihatmu berjalan terus tanpa menoleh kepadaku, membuat aku semakin menyadari bahwa apa-apa diantara kita telah usai. Maaf, maaf aku yang belum terbiasa dengan semua ini, maaf aku masih merasa cemburu melihatmu dengan yang lain, maaf aku masih merasa memilikimu. Untuk semua itu, aku minta maaf.

Karena tak ada satupun orang yang akan terbiasa dengan sebuah kehilangan, termasuk di dalamnya adalah aku.

Aku butuh lebih dari sekedar waktu untuk bisa memahami bahwa kita sudah tidak seperti dulu lagi. Bahwa aku sudah tak seberarti dulu lagi, bahwa jalan kita sudah tidak berdampingan, bahwa kamu telah berjalan lebih jauh dari tempatku berdiri. Untuk semua itu, aku minta maaf. Dan jalan ini, belum terbayang oleh ku apa yang akan terjadi kedepannya. Kulihat kau baik-baik saja tanpaku, kau terlihat biasa saja, tak seperti merasa kehilangan, kau bahkan dapat melanjutkan hidup dengan baik. Untuk semua itu, aku turut berbahagia, meski bagiku itu bagaikan sebuah tamparan keras karena ternyata ada atau tidak adanya diriku tak berpengaruh dalam kehidupanmu.

Advertisement

Untuk semua itu, aku turut berbahagia, meski bagiku itu bagaikan sebuah tamparan keras

Dan aku? Aku masih berdiri di sini, di tengah relung hati yang terus menampakan bayang-bayangmu. Tidak pernah ku sangka, akhirnya akan tiba hari ini. Hari yang dulu selalu kita tunggu-tunggu kedatangannya, hari yang dalam bayanganku kita akan melewatinya bersama dalam keadaan bahagia yang sebahagia-bahagianya. Kini ku dapati hanya diriku yang menunggu, ya hari ini hanya menjadi hari yang ditunggu olehku saja. Hari di mana aku mengetahui semua tentangku, perasaanku, dan penantianku hanya seperti nyanyian seekor burung tak bernyawa tak berarti dan bahkan tidak ada yang peduli sama sekali.

Dan untuk semua itu aku tahu bahwa aku hanyalah semacam rintik hujan bagimu, yang jatuh lalu jejaknya akan segera hilang.

Ingin rasanya aku menuangkan semua kata yang mewakili kerinduan ini, betapa aku merindukan kebahagiaan menyapaku seperti dulu. Ingin aku menyapamu, mengetahui kabarmu, bercerita ini itu kepadamu, berlindung di balik tubuhmu, bersandar di bahumu, tertawa bersamamu, bercanda denganmu, dan masih banyak hal yang ingin ku lewati bersamamu.

Tapi kini yang terjadi hanyalah, sebuah senyuman kecil yang dapat aku persembahkan untuk mengantarkanmu menuju kebahagiaan.

Mungkin bagimu, masa lalu kita memang telah terhapus dan bahkan sudah tak tersisa. Semoga kamu selalu baik-baik saja dan bahagia seperti sekarang, semoga dia atau siapapun yang ada disampingmu saat ini, bisa selalu membuatmu bahagia. Semoga kamu tidak pernah mengecewakan siapapun yang menyayangimu, dan semoga kebahagiaan tidak pernah menjauh dari kehidupanmu.

Tuhan salamkan rinduku padanya, pada dia yang dulu pernah ku perjuangkan. Sampaikan pesanku padanya "happy 1st aniversarry" selamat satu tahun pertama kebersamaan kita yang sekaligus menjadi bulan kedua kita saling melupakan. Melupakan harapan, angan, masa depan, serta kenangan saat kita bahagia.

Salam, dariku yang gagal menyadari bahwa ternyata kita telah berpisah.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya