Keluarga cacing hidup di dalam pot tanaman jeruk milik Pak Warsa. Bu Enggal, Isteri Pak Warsa, menyiram semua pot tanaman di rumah, termasuk pot tanaman jeruk. Hal itu adalah saat-saat yang menyenangkan bagi keluarga cacing. Mereka suka disiram. Keluarga cacing tak mengenal waktu. Mereka hanya tahu gelap dan terang. Bulan, tanggal, atau jam bukan hal yang membuat mereka khawatir.

Satu-satunya hal yang mengkhawatirkan adalah jika tangan Sugeng, anak Pak Warsa dan Bu Enggal, menggaruk-garuk tanah tempat mereka tinggal. Itu bencana! Sugeng akan akan berteriak memanggil Pak Warsa. "BA!! CIING!" teriakan Sugeng yang tidak jelas pelafalannya itu membuat kaget tidak hanya Pak Warsa, tetapi juga Bu Enggal. Pak Warsa akan segera menemukan persembunyian keluarga cacing, menjumput mereka dari tanah, dan melemparkan mereka ke kolam lele.

Advertisement

Pilu itu pernah terjadi tiga kali. Eyang Kakung Cacing, Bulik Cacing, dan Pakde Cacing korbannya. Mujur, keluarga cacing cepat belajar. Mereka kini tahu kalau tidak boleh terlalu dekat dengan permukaan saat terang. Saat terang adalah saat-saat Sugeng asik bermain di halaman dan menggaruk-garuk tanah di dalam pot. Sebisa mungkin keluarga cacing akan menggeliat jauh ke dalam tanah, ke tempat yang nyaman dan aman.

Malam ini adalah malam yang tidak seperti biasanya. Terdengar gemuruh yang terdengar hingga ke dalam tanah tempat keluarga cacing sedang bersantai. Anak Cacing sangat penasaran mengapa saat gelap seperti ini, di atas sana sangat ramai. Maka Anak Cacing bertanya pada ayahnya yang sedang nonton TV.


"Ayah, mengapa saat gelap seperti ini, di luar sangat ramai? Ada suara seperti bom dan sorak sorai." Ayah Cacing yang merasa terusik mendengus sebal. Hanya tatapan tajam jawabannya. Anak Cacing paham, Ayahnya sedang tak ingin diganggu.


Advertisement

Maka pergilah ia kepada Ibu Cacing yang sedang menyulam. "Ibu, mengapa saat gelap seperti ini, di luar sangat ramai? Ada suara seperti bom dan sorak sorai." Ibu Cacing berhenti menyulam. Ia memandang anaknya yang penuh rasa ingin tahu. Ibu Cacing tersenyum. "Ibu tidak tahu, Nak. Mungkin kau bisa bertanya pada Ayah," jawab Ibu Cacing. "Ayah sedang tidak ingin digangu," kata Anak Cacing. Ibunya hanya tersenyum kecil dan kembali menyulam. Anak Cacing sebal. Ia tidak berhasil mendapatkan jawaban dari orang tuanya.

Didorong oleh rasa penasaran, Anak cacing menggeliat ke atas menuju ke permukaan tanah. Ketika sampai di permukaan, suara gemuruh itu semakin jelas. Anak Cacing akhirnya tahu bahwa suara seperti bom itu adalah petasan. Tak hanya itu, ia juga melihat cahaya warna-warni di langit yang gelap. Suara terompet yang tak terdengar di dalam tanah tadi, kini riuh sekali. Sorak sorai terdengar meriah. Inilah malam tahun baru 2018.

Anak Cacing tak paham karena ia tak mengenal waktu. Ia hanya tahu gelap dan terang. Bulan, tanggal, atau jam bukan hal yang membuat ia khawatir. Satu-satunya hal yang mengkhawatirkan adalah jika tangan Sugeng, anak Pak Warsa dan Bu Enggal, menggaruk-garuk tanah tempat ia tinggal. Itu bencana!

"BA!! CIING!"

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya