Sebuah Cerita Tentang Kuliah dan Jalan Kehidupan

Apakah dengan menjalani perkuliahan akan mengasah kemampuanmu atau justru mengembalikan kemampuanmu.

Sebut saja namanya Nurul, teman satu perkuliahan satu tahun diatas saya. Suatu ketika dulu kala, ia sempat bercerita dan saya sempat mengingatnya. Mengenai bagaimana ia terjun dalam kegiatan ekskul majalah dinding semasa sekolah dulu. Ia menekuninya dan masih ada terpendam saat menjalan perkuliahan. Hingga akhirnya ia benar-benar terjun ke dalam dunia jurnalistik. Nyatanya, hasrat tak pernah meminta dusta.

Advertisement

Menjalani hidup kampus dalam slogan “kampus hijau” ataupun “pertanian menyelamatkan kehidupan” tidak serta merta membuat orang-orang didalamnya (termasuk saya) mengikuti jalan tersebut. Seringkali mendengar jokes pegawai bank yang ternyata lulusan pertanian. Bisa dibilang, candaan itu tak akan terbentuk bila memang tidak ada peristiwa konkritnya. Lebih umum, lulusan ini malah kerjanya itu. Lama-kelamaan dan mungkin memang akhirnya menjadi hal yang lumrah.

Setiap lulusan memiliki prospeknya masing-masing. Tapi tidak semua yang mengikuti studinya akan berakhir seperti yang diharapkan para rektor disana. Seperti orang yang saya sebutkan di awal paragraf, seperti juga orang-orang lainnya. Awal masalahnya memang berawal dari hanya ingin memasuki kampus dengan akreditasi terbaik. Itu saya. Apalagi tuntutan yang entah mengakar bagaimana caranya dalam kehidupan sosial bahwa gelar sarjana akan lebih memuluskan beberapa jalan kerja. Harus diakui, saat ini, justru bukan gelar tersebut yang memuluskan perjalanan saya.

Jika bisa menginginkan untuk mengetahui apa yang disuka dan paling dikuasai tanpa harus menerima segala hal yang tidak disuka lebih dulu, maka beruntunglah dia. Namun ada pula yang mesti melawatinya lebih dulu. Letih karena menjadi bukan apa yang ia ingin dan bosan karena merasa tidak berdaya dalam sebuah dunia yang lain, adalah seutas tali penarik untuk mulai mengetahui apa yang disukai. Layaknya obat penyebembuh, bedanya obat itu sudah ada hanya tidak terjamah saja.

Tanpa sadar, kegiatan yang saya tekuni saat senggang kuliah adalah tulis-menulis, liput-meliput. Jarang sekali terlihat di kebun percobaan atau sedang menggemburkan tanah layaknya mahasiswa (jalur benar) lainnya. Perlahan, jati diri yang dulu terpendam kembali muncul ke permukaan. Seolah menolak untuk terkubur oleh pengkhianatan yang dipaksakan. Setidaknya, saya tidak terlalu mengeluh jika pekerjaan yang dikerjakan terlampau banyak dan memakan waktu lama, seolah itu menjadi tantangan. Terpujilah Nurul, saya pun mengikuti jejaknya kemudian.

Mahasiswa dan mahasiswi baru akan berdatangan. Bukan untuk mengajarkan, ini hanyalah pengalaman, silahkan tetap gunakan keteguhan diri untuk menentukan. Memasuki dunia kuliah dengan harapan diberdayakan lewat semua studi dan pembelajaraan adalah sebuah jalan mulia. Para pujangga silahkan berbangga hati karena tuah kalian tanpa sadar dirasakan yaitu: waktu akan mengajarkan. Apakah dengan menjalani perkuliahan akan mengasah kemampuanmu atau justru mengembalikan kemampuanmu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang yang menatap langit yang sama denganmu

CLOSE