Bunga-bunga hatiku belum layu sempurna.
Masih dapat mekar ketika kau sirami dengan pujian dan ungkapan sayang.
Masih dapat bertahan tumbuh walau sering terabaikan. Tidakkah kamu melihatnya?

Bungaku merona sendiri walau warnanya mulai terlihat menguning.
Aku masih bisa tertawa, masih bisa tampakan senyum di depanmu meski rasanya hatiku berusaha keras menahan pilu dan kelopak mataku bekerjasama untuk tak menumpahkan air mata.

Advertisement

Kita seperti langit dengan awan yang hanya dilihat sekilas begitu dekat tapi ternyata berjauhan. Sapaan sayang dan rindu sering kali terucap tapi masih malu untuk dinyatakan. Seringkali kita berbenturan dengan status yang tidak jelas. Bagi mereka yang melihat kita ini pasangan yang lucu. Terlihat manis ketika berdekatan karena saling ketakutan menggumbar kemesraan.

Ada perasaan rindu yang meledak begitu hebat ketika kita berboncengan melesat melewati koridor panjang jalan raya. Tahukah kamu jika aku tak ingin melepaskan lingkaran tanganku di pinggangmu?
Tak ingin membiarkan punggungmu dinikmati wanita lain.
Entah kenapa semakin inginku merengkuhmu erat, hatiku semakin di rundung ketakutan yang tidak biasa.

Kita ini apa? SEBASTIAN?
Sebatas teman tanpa KEPASTIAN. Iyakah?

Advertisement

Lain kali, kalau nggak sayang, ya, jujur bilang ke aku.
Jangan menumbuhkan harapan, jangan bikin aku bermimpi ketinggian.

Aku tak tahu selama ini kamu menganggapku apa.
Semua kata cinta dan sayang itu telah terlontar, tapi saat kita tak bertemu, saat semua percakaan hanya bisa terjalin lewat ponsel; di sana kurasakan dirimu yang berbeda.

Kamu yang tanpa kata sayang dan cinta,
kamu yang tidak memberi kecupan walaupun sebatas titik dua bintang,
kamu yang membalas rasa rinduku dengan dingin, dan kamu yang tak langsung menggubris pesan singkatku;
seakan kamu tak khawatir membuat aku menunggu.

Semakin kamu bersikap seperti itu, Sayang. Semakin aku mencintai dan menggilaimu.
Aku tak ingin menjauhimu, meskipun luka mulai diam-diam tergores di hatiku.
Setiap kali aku berusaha membencimu, rasa benci itu hilang seketika ketika kau embuskan lagi kata cinta lewat pertemuan kita yang jarang sekali terjalin itu.

Ingin sekali aku mengetahui perasaanmu.
Kamu boleh menyalahkan aku, untuk segala hubungan tak sehat, pertengkaran yang ajaib, rindu yang memberontak, kangen yang menjengkelkan, serta hal-hal magis lain yang selalu membuatmu berpikir aku ini perempuan yang berbeda.

Katakan saja kalau aku ini gila nomor satu, karena selalu ingin tahu kabarmu, selalu ingin menemuimu, selalu ingin merindukanmu habis-habisan.

Tetapi, aku mulai lelah. Mulai tak bersemangat. Mulai tak ingin lagi berusaha mengejarmu. Karena, langkahku mulai melambat sementara kamu masih gigih berlari dengan pasti. Aku kehilangan jejakmu.

Terakhir kali bertemu, aku bersyukur bisa mendekapmu walau tak sepenuhnya.
Bisa duduk berdua tanpa teman-teman kita. Bisa menatapmu dan menikmati kekagumanku.
Juga bisa terpekik kegirangan dan menari dalam hati ketika kau tunjukkan padaku profile LINEmu menampilkan fotoku. Aku luar biasa BAHAGIAnya malam itu.

Hanya saja, kebahagiaan itu cepat sekali pergi.
Aku kembali berteman dalam sendu. Kamu kembali dengan kesibukkanmu. Pergi begitu saja tanpa pamit.

Beberapa teman ku berkata

"Apa hebatnya dia? Lupakan."
"Kamu tolol mengharapkan pria yang jelas – jelas mempermainkanmu."
"Enggak ada gunanya mengharapkan yang tidak pasti" , dan

" Dia tidak baik untukmu."

Tahu apa mereka? Jika dengan mencintainya saja ku temukan senyumku.
Hanya saja aku harus berhenti jika mulai kurasakan sakit. Sebab, kalau sakit itu bukan CINTA.

Sampai sini saja yah? Kisah kita?
Perjumpaan kita mungkin adalah kebetulan yang manis atau juga bisa jadi takdir yang dramatis.

Terima kasih telah menjadi sosok yang begitu tangguh untuk ku cintai 🙂

SHMILY :*
-NCU

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya