Akhir tahun 2011, saya sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke universitas impian saya yaitu ITB. Tinggal seleksi terakhir dan berangkat. Namun sayangnya ITB belum ditakdirkan untuk saya. Saya tidak diizinkan oleh Mama dengan alasan biaya. Meski dengan beasiswa namun ada beberapa biaya yang harus dikeluarkan pribadi sementara di tahun yang sama kedua adik saya juga sama-sama masuk sekolah, satu masuk SD, satu masuk SMP. Kecewa? Sangat.

Namun dari situ saya belajar arti penting sebuah pengorbanan. Bukan bagaimana mimpi saya, tapi bagaimana kita semua (keluarga) bahagia. Tapi semangat saya belum patah. Saya mendaftar beasiswa Bidikmisi di Politeknik Negeri Batam, diterima dan fully funded. Namun 1 bulan kuliah saya memutuskan untuk berhenti. Karena Bidikmisi mengharuskan tinggal di asrama dan tidak boleh mengambil kelas karyawan.

Advertisement


Saya tidak memberitahu Mama kalau saya berhenti kuliah. Karena saya berhenti otomatis uang saku saya 400 ribu per bulan ditarik. Bingung? Sangat.


Akhirnya saya bekerja serabutan, mulai menjadi MC, ikut event organizer, menari di sanggar, sampai menjadi pramuniaga. Sampai pada suatu saat ada seorang teman menawarkan saya brosur sekolah penerbangan dan pariwisata, kuliah profesi (D1) selama 9 bulan dan dijamin dapat kerja. Sangat menggiurkan, tapi pendaftar diwajibkan membayar dimuka 15 juta.

Dalam pikiran saya kali ini saya tidak boleh gagal, saya sudah melewati banyak kesempatan. Akhirnya saya mengajukan student loan pada pihak kampus untuk dapat dibayar bertahap selama kuliah, namun pihak kampus hanya mengabulkan 40%, sisanya tetap harus dibayar diawal. Hampir pasrah, tapi belum menyerah. Saya menghubungi semua orang yang saya kenal untuk mengajukan pinjaman, dengan jaminan akan saya ganti setelah saya bekerja.

Advertisement

Tidak 1 orang pun bersedia. 1 bulan lebih mencari donatur, akhirnya Allah berikan jalan. Kak Ikke Marshella membantuku mendapatkan pinjaman dari saudaranya dan ini bagian yang tidak akan aku lupakan. Namanya dan keluarga selalu kusebutkan dalam doaku. Dengan uang pinjaman aku daftarkan diriku dan kisah sesungguhnya baru dimulai.

Selama perkuliahan saya tidak bisa bekerja dengan normal sehingga saya harus berusaha lebih keras untuk mencari part-time agar dapat membeli buku dan makan, karena Mama tahunya saya masih berkuliah di Politeknik dan mendapatkan uang saku setiap bulannya sehingga Mama tidak perlu khawatir. Untuk tempat tinggal saya menumpang sementara di rumah teman di tempat kerja saya sebelumnya, Andresta Januardi. Andres adalah orang kedua yang punya pengaruh besar.

Dia adalah sahabat pertama saya, dia yang selalu menolong saya , memberikan saya tempat tinggal, terkadang meminjamkan uangnya saat saya kehabisan uang. 2 bulan pertama sangat berat, kadang saya harus jalan kaki dari Batam Centre–Nagoya kalau saya kehabisan uang. Sampai akhirnya saya mendapatkan tawaran di salah satu sanggar besar di kota batam. Saya tidak pernah peduli apa yang orang katakan, mimpi saya adalah urusan saya. Karena tidak ada pilihan lain selain temukan cara apapun untuk bertahan.


Selain aktif di sanggar saya juga mengambil freelance MC dan event organizer. Saya pernah juga bekerja sebagai penjual ayam penyet dengan gaji 20 ribu perhari. Capek? Sangat. Tapi terlalu cepat untuk menyerah.


Sembilan bulan masa kuliah sangat menyenangkan, saya tidak pernah berfikir industri penerbangan demikian megahnya. Mempelajari ilmu-ilmu baru yang sangat luas, yang kemudian seluruhnya berotasi melahirkan mimpi baru. Industri yang megah sekaligus sangat complicated, karena dalamnya kita akan menemukan prosedur, prosedur & prosedur. Karena tidak ada yang lebih penting selain safety.

9 bulan sudah masa kuliah, setelah itu akan ada masa magang yang akan sangat menentukan. Magang dimulai di bandara Hangnadim Batam, Di gapura Angkasa. Dan Allah sangat baik, bahkan terlalu baik. Dalam 3 hari masa magang kami langsung dikontrak kerja, percaya? Kami saja hampir tidak percaya. Kami menjadi saksi perjalanan panjang Gapura Angkasa sampai sebesar hari ini.

Dibawah kepemimpin bapak David Binsar. Bapak David akan selalu menjadi memori terbaik dalam hidupku. Guru terbaik, motivator, dan best support system ever. Dia selalu bilang ”Fadli, i’m believe u i’ll be succes, u just need believe your self, that confident”. Sebagai pendatang baru di bandara internasional it was hard. Selalu dianggap sebelah mata, tapi Pak David always knew how to giving back confident. Dan proses itu dilalui dengan penuh proses belajar yang menghantarkan kami sekuat ini. Apa rasanya? Berat, kamu tahu berapa gaji pertama kami? 400. Ya kalian tidak salah dengar.


Tapi kami selalu ingat kata pak David, succes is about enjoying every process.


Fasific Royale, penerbangan pertama yang kami handle dari awal meski sebelumnya kami pernah memghandle pesawat Firefly, Travira, dan Citilink Indonesia. Tapi pada waktu itu saya dan beberapa teman memang ditugaskan di Fasific Royale, it was memorable. Karena pesawat baru kita harus mengikuti pre flight-nya dari awal. Berangkat jam 4 pagi pulang jam 12 malam dalam beberapa minggu sampai pesawat tersebut terbang secara reguler. Namun, sepertinya Fasific Royale tidak berumur cukup panjang. 3 bulan setelahnya pesawat tersebut tidak terbang lagi.

Kita kembali handle Citilink dan disini saya benar-benar belajar semua tentang penerbangan. Dimulai dari 2 flight hingga sekarang menjadi 17 flight. Sebagai orang baru di industri ini, kami dapat dibilang cukup berhasil menguasai dengan cepat. Banyak hal yang berubah, gaya hidup, cara pandang, dan tentunya prinsip. Di bandara kita bertemu banyak orang dengan latar belakang yang berbeda. Di bandara serba cepat, pesawat yang landing ataupun yang take off ada prosedurnya.

Semunya harus berpacu dengan waktu dan lambat artinya tertinggal. Semuanya sudah pernah saya lakukan mulai dari check in counter, gate, lost & found, ramp handling, departure control, hingga loadsheet.

Hampir 1 tahun sudah, Allah naikan derajat kami dengan luar biasa. Selain diberikan kemudahan dalam bidang pekerjaan, saya juga dipertemukan dengan teman-teman yang luar biasa. Sangat beruntung di usia 18 tahun dengan demikian proses panjangnya bisa berada di posisi ini. Dan begitulah kehidupan saat kita sampai pada suatu pencapaian maka dia akan berotasi melahirkan mimpi-mimpi baru. Nikita dan Debi adalah 2 orang yang paham betul apa yang saya perjuangkan. 2 manusia ini adalah dorongan terbesar untuk kembali berkuliah, meskipun saya masih ragu dengan kegagalan sebelumnya.

Tapi Nikita selalu bilang ”Tidak penting kita jadi apa nantinya, yang pasti kita akan mengubah dunia”. Ya quote yang selalu aku ucapakan kepada semua orang yang aku temui adalah pemberian Nikita dan kutulis di setiap bukuku. Debi juga begitu. Karena idenya, akhirnya kita mendaftarkan kuliah di Universitas Putera Batam jurusan Sastra Inggris dan Nikita Ilmu Komunikasi. Namun kami belum begitu kuat menjalani 2 hal sekaligus waktu itu, kerja sambil kuliah. Aku harus mengajukan cuti kuliah karena bentrok dengan jadwal kerja dan aku harus pulang ke Tanjungpinang karena sakit yang cukup serius selama 1 bulan.

Sementara Debi harus pulang dan menetap disurabaya dan Nikita diterima kerja di tempat barunya. Cerita kami selesai? Tidak. Ini hanya sebagiannya, ada banyak kenangan dan nanti akan kutulis lagi jika aku sedang merindu. Ada banyak nama yang belum kutuliskan, akan aku bagikan pada saat yang tepat.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya