Sebuah Pesan untuk Malam, Terimakasih Sudah Menjadi Ruang yang Lapang

Untuk malam yang bersedia menjadi teman

Ketika malam mulai mencapai puncaknya, tiba-tiba dunia terasa lebih bersahabat. Entah kenapa, akupun merasa lebih hidup. Dan jika kuingat-ingat kembali, barangkali banyak sekali pembicaraan berat yang tercipta karena heningnya yang pekat. 


Malam, adalah tempat kita semua berpulang dari lelahnya siang dan isi bumi yang merepotkan.


Advertisement

Dia akan memelukmu dalam tangismu yang diam. Dia akan mendengarmu di tengah heningnya yang sakral. Pertukaran isi kepala, ide-ide gila, keputusan sulit, pertengkaran, percintaan, kerja keras, penyesalan. Malam ternyata telah menjadi saksi dari begitu banyaknya cerita penduduk bumi yang kadang menggelikan. 


Dan ia tetap diam, ia tetap memelukmu tanpa penghakiman.


Kurasa jika malam adalah manusia, dia akan menjadi salah satu dari mereka yang percaya, bahwa tidak ada yang betul-betul baik dan betul-betul jahat di bumi ini. Tidak ada yang betul-betul bodoh dan betul-betul pintar. Pun tidak ada yang betul-betul nakal dan betul-betul budiman.

Advertisement

Jika dia adalah manusia, barangkali malam akan menjadi pendengar yang baik. Ia tidak akan pernah bertanya kapan nikah, kok gendutan, kenapa pindah keyakinan, dan pertanyaan-pertanyaan memusingkan lainnya yang sebetulnya basi.

Entah kenapa, jika malam adalah manusia, aku yakin ia akan menjadi sesuatu yang jarang dimiliki manusia-manusia jaman sekarang. 


Kadang, aku ingin sekali melihat malam menjadi seseorang yang betul-betul bisa diajak berbincang.


Aku ingin bertanya tentang banyak hal. Seperti apakah Pithecanthropus gampang ngambek, berapa banyak orang gila yang pernah ia lihat, ataukah ia pernah berbicara dengan Poseidon dan menanyakan jumlah penyu yang mati dililit plastik? Agak konyol memang. Tapi sepertinya akan mengasyikkan.

Di beberapa waktu, malam kadang menjadi begitu panjang. Dadanya yang lapang tiba-tiba terasa menghimpit. Sesak sekali. Ia juga berubah dingin. Dingin yang betul-betul dingin dan menyebalkan. Aku bahkan harus merepotkan diri dengan mengenakan jaket, kaus kaki, selimut tebal, dan hati yang lebih manusiawi.

Pada saat-saat seperti itu, malam sering sekali mengajari manusia tentang cara memeluk diri sendiri. Walau cara-caranya agak rese', pada akhirnya ia akan tetap sama: kembali menjadi ruang lapang yang memelukmu tanpa penghakiman. Ia akan membuatmu tidak malu menjadi seutuhnya manusia yang memang lemah dan terbatas.

Pada akhirnya, aku tersadar.

Siapapun kamu, jika menyadari keberadaan malam dengan heningnya yang tenang, ia adalah teman yang akan meyadarkan banyak hal.

Dan malam, sampai kapanpun sebelum kiamat, ia adalah satu-satunya teman yang tidak akan hilang dan meninggalkanmu tanpa alasan masuk akal. 

Hingga sekarang, aku pun masih belum paham bagaimana cara yang tepat untuk berterimakasih pada malam, yang bahkan mungkin tidak merasa perlu diberi ucapan demikian.


Tapi pokoknya, terimakasih malam, atas ruang lapang yang selalu kau sediakan saat bumi disesaki manusia dan isi kepalanya!


Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

hai, saya outgoing-introvert yang kepalanya selalu bising, masih belajar banyak dan ingin berbagi perspektif dengan kepala-kepala lain

CLOSE