Secuil Cerita Tentang Perasaan

Ketika kenyataan menghentikan khayalan

Runtutuan pesan sudah lebih cukup bagiku, tidak perlu temu yang akan menyebabkan halu. Khayalan akan menjadi nyata hanyalah imajinasi semata. Melihat perbedaan di antara kita menjadi faktor utama aku mengambil jarak dalam perjuangan. Tidak patut sekiranya jika aku yang bukan apa – apa menuntut seribu keingingan, tidak! Bukan keinginan, mungkin menuntut rasa yang seharusnya dilenyapkan. Mungkin itu bisa terkabul tapi hanya dalam angan – angan.

Advertisement

Lebih dari setahun aku mengenalmu. Ya, hanya mengenal saja. Kesadaran penuh dari diri sendiri sudah cukup jadi hitungan untuk mendekatkan diri lebih dari teman. Memang begini baiknya, dalam diam aku membayangkan kekosongan ruang dalam rindu. Andai rasa ingin tahu ini aku alihkan kepada hal yang bermanfaat, mungkin bukit ilmu sudah terbentuk. Bukan terfokus kepada kamu yang jelas – jelas hanyalah semu.

Notifikasi pesan darimu mengalihkan segala yang aku fokuskan padahal itu hanyal pesan teks yang berisi kebohongan. Tapi, rasa senang tidak bisa aku sembunyikan, sekalipun aku meyakinkan diri dengan berbicara sendiri ini hanyalah sebuah pesan tidak lebih, mencoba untuk tidak jatuh, ternyata medannya sudah miring. Stempel baperan mungkin sudah aku terima sebelum aku menyadarinya.

Diundang dalam sebuah pertemuan adalah hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, hati memerah tanda senang bukan main. Tapi, itu bukan sebuah kencan apalagi berdua duaan. Aku bersyukur karena itu, mungkin aku bakal bergeming jika menghadapinya sendirian. Menghadapi sosok yang kupuja ada di depanku. Walaupun aku hanyalah sampingan, terasa senang rasanya melihat langsung orang yang kupuja berbicara, bukan sebuah teks yang mengungkapkan.

Advertisement

Terasa kaku saat bertemu, memalingkan pandangan tidak berani menatap. Bukan karena takut, tapi lebih ke gugup. Ya, padahal itu hanyalah manusia, sama – sama bernafas sama – sama berpikir. Tapi beginilah yang terjadi, konyol sekali karena yang kurasakan adalah sebuah ketegangan bukan kesenangan apalagi kenyamanan. Jika harga dari sebuah pertemuan adalah perasaan seperti ini, lebih baik aku kembali pulang lalu mengarang untuk menulis lagi.

Mungkin bertukar pesan memang sesuatu yang lebih pas bagiku untuk terus menyambung ikatan denganmu. Di samping karena aku sadar secara penuh di level mana aku mampu bersaing, aku juga tidak ingin terus berkhayal. Aneh, aku sudah tahu bagaimana ujungnya tapi aku masih saja tetap berharap. Manusia makhluk yang membingungkan apalagi saat sedang kasmaran.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE