Jalan ini tidaklah panjang, tidaklah lama, hanya mendekati membosankan. Melewati empat nama jalan tepatnya, tidaklah banyak, tidaklah sedikit, hanya mendekati membosankan. Cukup berganti dua kali angkutan, bis namanya. Tidaklah sesak, tidaklah sepi. Hanya dua insan, seperti hanya dua orang di tempat itu.

Seorang laki-laki tangannya bergelantungan di tiang pegangan bis, sesekali terkantuk, sesekali terjaga memastikan sampai di mana gerangan. Pandangannya seperti tak peduli dengan sekitar, hanya mencoba terjaga.

Seorang gadis duduk di dekat jendela, sesekali melemparkan pandangan ke arah jalanan. Melihat mobil, motor, sesekali pejalan kaki. Pandangannya seperti tak peduli dengan sekitar, hanya mencoba asik sendiri.

Pertemuan pertama

Kedua matanya saling terpaut, entah apa yang membuatnya. Namun secepat mungkin keduanya membuang pandangan ke arah lain. Ke arah di mana salah satunya menikmati jalanan yang tidaklah lama, hanya sedikit membosankan. Salah satunya lagi ke arah jalanan agar ia dapat berdiri cukup bebas, arah yang cukup longgar, arah yang cukup membosankan untuk berdiri.

Advertisement

Seorang laki-laki mencoba mecari celah untuk berdiri, setidaknya untuk menegakkan badan, untuk tidak bersenggolan dengan ketiak bau, atau kalau beruntung bersenggolan dengan wanita cukup harum. Cara berdirinya mencoba tegak, walau terlihat sesekali menekuk salah satu kakinya, seringkali kaki kanan. Mencoba mencari celah, kini celah untuk mencuri pandang yang membuat matanya sempat terpaut.

Seorang gadis duduk, mencoba santai walau sesekali terhimpit, bergantian oleh ibu-ibu atau anak-anak. Duduknya dicoba sesantai mungkin, senyaman mungkin, dipangku tas merahnya, mencoba mencari aman, didekapnya tas merahnya agar dekat dengannya. Mecoba untuk semakin mendekap, kini mencoba mendekap mata yang tadi mencuri pandang yang membuat matanya sempat terpaut.

Senyuman pertama

Entah apa yang membuat keduanya tidak ingin melepasnya, walau sebentar saja tetap keduanya ingin saling terpaut. Keduanya mencari celah untuk saling balas pandangan, keduanya mencoba saling mendekap agar semakin dekat. Sejenak saja di sepanjang jalan yang hanya sedikit membosankan ini.

Seorang laki-laki dengan baju SMA, putih abu-abu. Suka berdiri di dalam bis, bukan tanpa alasan, bukan tanpa maksud. Ia menikmati saat berhasil mencari celah, menikmati saat tanpa alasan bibirnya tersenyum, saat matanya berpaut dengan gadis tas merah.

Seorang gadis dengan baju SMA, putih abu-abu. Suka duduk bersandar dekat jendela, bukan tanpa alasan, bukan tanpa maskud. Ia menikmati saat berhasil mendekap, menikmati saat tanpa alasan bibirnya tersenyum, saat matanya berpaut dengan laki-laki yang suka menekuk kaki kanannya.

Kata pertama

Berbaris tanpa alasan, merangkai tanpa maksud. Dipikirannya telah terparkir kata-kata, bukan hanya satu, dua, atau tiga. Entah berapa kata-kata yang mengantri untuk setidaknya keluar. Keduanya tak punya alasan untuk diam lagi, atau mereka akan berdiam bersama jalan yang selalu hanya sedikit membosankan ini.

Seorang laki-laki suka tersenyum sendiri, sekiranya bukan tanpa alasan. Sesekali kaki kanan yang suka ditekuknya ingin melangkah, selangkah, dua langkah, bukan tapi lebih. Kakinya mencari celah, matanya mencari celah, pikirannya mencari celah. Ia melangkah.

Seorang gadis suka tersenyum sendiri, sekiranya bukan tanpa alasan. Sesekali membenarkan dekapan pada tas merahnya, sekali, dua kali, bukan tapi lebih. Tangannya semakin mendekap, matanya semakin mendekap, pikirannya semakin mendekap. Ia mendekap tas.

Seorang laki-laki dan seorang gadis duduk berdampingan. Entah apa yang dipikirkan keduanya, melangkah atau tetap mendekap. Keduanya mencoba mencari celah, mencoba mendekap. Mencari celah untuk mata, mendekap untuk mata. Keduanya terpaut, keduanya tersenyum, keduanya berkata “Hai”.

Genggaman pertama

Tangan laki-laki itu terasa hangat, tangan gadis juga terasa hangat. Lebih tepatnya keduanya bisa dirasakan saat tangan-tangan itu bergenggaman. Saling mengaitkan jari-jari, saling merasakan telapak tangan. Keduanya mencoba saling mengait, serapat mungkin, namun tidak mengenggam keras, supaya hangat itu mengalir.

Seorang mencoba mencari celah, kaki kanannya menekuk, dan kini kaki kirinya juga. Mencoba mencari celah untuk berpaut, tapi kini tidaklah sesulit waktu itu, kini ia hanya perlu menoleh sebentar, lalu matanya akan berpaut dan bibirnya tanpa alasan akan tersenyum. Dipikirannya, dibatinnya, kata-kata yang sempat mengantri tidaklah sebanyak dulu lagi, senyuman di seberang membebaskan antrian itu.

Seorang gadis mencoba mendekap, mendekap tas merahnya, dan kini tak perlu begitu dekat dengannya. Mencoba mendekap mata, tapi kini tidaklah sesulit waktu itu, kini ia hanya perlu menoleh, lalu matanya akan mendekap mata yang lain dan bibirnya tanpa alasan akan tersenyum. Dipikirannya, dibatinnya, kata-kata yang sempat mengantri tidaklah sebanyak dulu lagi, senyuman di seberang membebaskan antrian itu.

Seorang laki-laki dan seorang gadis, mencari celah dan mencoba saling mendekap. Keduanya berbagi senyum, melepas satu, dua, tiga, bahkan lebih dari ratusan kata-kata untuk saling berpaut. Sesekali bahasa tubuh yang bicara, ekpresi wajah yang bicara, mata yang bicara. Seorang laki-laki dan seorang gadis, entah siapa yang memulainya, keduanya mengaitkan jari-jari, merasakan hangat telapak tangan.

Cinta pertama

Bukan hanya bibir yang bicara, bahasa tubuh, ekpresi wajah, dan mata kini ikut bicara. Bukan hanya telapak yang hangat, setiap kata-kata, setiap senyuman dan setiap pautan mata kini terasa hangat. Bukan hanya jari-jari yang saling mengait, kini mata saling mengait erat.

Seorang laki-laki berdiri bergelantungan di tiang pegangan bis. Matanya bahagia, senyumnya bahagia, jari-jarinya bahagia, kata-katanya bahagia.

Seorang gadis dengan tas merahnya di dalam bis. Matanya bahagia, senyumnya bahagia, jari-jarinya bahagia, kata-katanya bahagia.

Seorang laki-laki berdiri bergelantungan di tiang pegangan bis. Tangannya mengait jari-jari.

Seorang gadis dengan tas merahnya di dalam bis. Tangannya mengait jari-jari.

Seorang laki-laki dan seorang gadis. Tangannya bergelantungan di pegangan bis, di dalam bis. Tangannya saling mengaitkan jari-jari, saling merasakan hangatnya telapak tangan. Matanya, senyumnya, kata-katanya, itu cinta.