Ingin sekali rasanya menyerah. Ya, jujur saja aku lelah. Aku mulai tak mampu menghadapi segala sikapmu.


Apa kamu menyadari? Kebersamaan kita bukan lagi terhitung hari. Aku mulai hafal mengenai makanan kesukaanmu. Kamu yang tidak menyukai rasa pedas, juga menghindari rasa manis. Perihal jam tidurmu yang terlalu larut, warna-warna kesukaanmu, juga lagu favoritmu. Ataupun mungkin perihal banyaknya kerut di wajahmu. Ya, aku terlalu mengenalmu. Aku pernah menjanjikanmu untuk selalu menemani. Membersamaimu dalam senang dan sedihmu. Menuntunmu dalam bangkitmu. Menceriakan harimu. Menenangkanmu setelah mimpi burukmu.

Advertisement

Namun, terkadang sikapmu enggan untuk aku selami. Masih ingatkah perihal kata berjuang bersama? Entahlah. Mungkin kamu mulai mengabaikannya. Sama dengan perasaanku, kamu memilih untuk lalai. Sayang, tahukah? Aku selalu menyembunyikan rasa sedihku. Menutupi segala rasa kecewaku. Berpura-pura aku baik-baik saja, tanpa ada luka. Aku selalu memupuk sabarku untuk dirimu.

Aku yang selalu menahan air mataku ketika kau tak memahamiku. Aku yang selalu berpura-pura tegar, berpura-pura bahagia ketika kamu tak lagi menghargai sedikit saja perasaanku. Tak ada sedetikpun dalam hidupku untuk tidak memikirkanmu.


Aku tak pernah lepas dalam hal merindu. Sayang, maafkan aku. Mungkin caraku mencintaimu tak seperti yang kau mau. Aku mengingat semuanya.


Advertisement

Perihal pertemuan kita yang pertama. Tentang kedekatan kita, juga mengenai pertengkaran-pertengkaran kita. Aku selalu mengingat hal-hal kecil darimu. Berpura-pura tertarik akan ceritamu. Ya, meskipun kamu mengulangnya berkali-kali, aku masih menyukai ceritamu itu. Di sisi lain, aku mencoba paham perihal dirimu yang pelupa. Yang tak pernah ingat apa yang seharusnya kau ingat. Berjuang sendiri itu melelahkan. Sayang, andai kau tahu itu. Bisakah sedikit saja kamu paham maksudku? Bisakah sekejap saja kamu mendengarkan sedikit nasihatku?

Terkadang aku terlalu berpikir jika apa yang kubicarakan tak pernah ada gunanya. Seolah, apa yang kukatan hanya angin lalu, tiada manfaatnya. Mungkin aku hanyalah wanita bodoh yang terlalu bersikekeh dengan perasaanku. Kau mungkin berpikir jika aku berlebihan. Untuk segala hal yang aku usahakan. Untuk setiap mimpiku yang kuharap ada kamu di masa depan.

Sayang, aku selalu berusaha untuk memahamimu. Di saat dunia mulai saja mengabaikanmu. Aku selalu berusaha menjadi penyeimbangmu, penguat langkahmu. Hanya saja, mungkin kamu tak pernah menyadarinya. Aku melakukan sebaik apa pun yang aku bisa.

Sayang, aku hanyalah wanita biasa yang butuh untuk kau hargai perasaannya. Yang butuh untuk kau dengarkan ucapannya. Yang butuh untuk kamu mengerti, bukan untuk kau sakiti. Percuma saja jika aku berusaha sekuat tenaga. Dan kamu memilih untuk diam seperti sedia kala. Sekarang aku paham. Aku harus mulai memerhatikan diriku melebihi biasanya. Mungkin pula aku harus berani untuk berhenti peduli. Aku tak akan memohon lagi. Mengiba padamu, menuruti apa yang kuingini.


Kini, bolehkah aku berhenti menaruh hati? Sedangkan, di lain posisi dirimu enggan mengerti.


Maka, jangan salahkan aku jika suatu saat aku pergi. Inginku untuk tetap bersama. Namun membuatku kembali yakin, kamu tak bisa. Terima kasih untuk hal-hal yang menyakinkan. Terima kasih telah menjadi alasanku untuk berjuang, meski aku menyerah untuk bertahan. Terima kasih untuk menjadi sosok yang kunamai sebagai tujuan. Maafkan aku. Aku yang jauh dari kata sempurna. Untukmu, untuk hidupmu, ataupun untuk menjadi sepenggal dari cerita cintamu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya