Sekolah Tak Melulu Soal Nilai dan Ujian. Ada Petualangan dan Kenangan yang Tak Terlupakan

Sekolah tak melulu soal nilai ujian

Takut dapat nilai jelek, tugas-tugas menumpuk, nggak punya waktu yang cukup untuk tidur, dan pusing kalau harus ikut remedial ujian. Belum lagi kalau gara-gara masalah itu uang jajan dipotong orangtua dan nggak dibolehin jalan-jalan sama temen-temen.Kira-kira begitu gambaran kehidupan remaja yang duduk di bangku sekolah atau kuliah. 

Banyak di antara kamu yang pastinya ingin buru-buru terjun ke dunia kerja. Rasanya ingin cepat lulus dari sekolah atau kampus. Tapi sebenarnya kehidupan sekolah nggak sekelam itu, loh, justru malah ngangenin dan penuh warna kalau kamu bisa melihat kehidupan sekolah dari sudut pandang yang berbeda. Aku pernah berada dalam masa itu dan berhasil menemukan sisi manis, lalu merajut petualangan tak terlupakan di sekolah.

Advertisement

Aku nggak bilang kalau kehidupan sekolahku mulus seperti jalan yang baru diaspal. Sewaktu sekolah aku tak terlalu menyukai pelajaran matematika atau segala sesuatu yang berhubungan dengan angka. Dulu, setiap kali ujian matematika datang menghantui, aku merasa takut. Namun aku memberanikan diri untuk berlatih hingga nilaiku membaik. Ternyata matematika berguna untuk keseharianku saat ini, salah satunya untuk nabung dan belajar bisnis kecil-kecilan. Dulu, butuh waktu bagiku belajar sekian jam untuk memahami mata pelajaran itu, namun perlahan aku bersahabat dengan matematika. Terkadang aku iri melihat teman-temanku yang terlihat genius seperti Albert Einstein. Saat baru disodorkan soal matematika,  ia begitu  lancar menemukan cara untuk menyelesaikan soal itu. Sementara aku selalu bertanya-tanya tentang cara memecahkan soal dan mengerutkan kening, karena bingung.

Aku sempat khawatir kalau kelak aku menjadi remaja tanpa masa depan yang nggak punya bakat dan nggak berguna. Namun suatu ketika saat mengerjakan tugas menulis buku harian untuk pelajaran Bahasa Indonesia, aku tersadar akan satu hal bahwa aku memiliki keunggulan di pelajaran tersebut. Aku unik dan ingin mengasah bakat menulisku. Semua berawal dari acara outing ke Yogyakarta dan Semarang yang diadakan sekolah. Aku memiliki 3 teman dekat. Semua orang mengenal kami sebagai sosok yang heboh dan humoris di sekolah. Selama perjalanan outing, aku menjadi orang yang tak bisa diam dan menyetel musik dengan DVD player yang ada di bus.

Aku tertipu oleh cover DVD yang bergambar band ternama asal luar negeri dan sedang hitz saat itu. Ternyata isinya  kumpulan lagu jadul yang lebih cocok untuk dinyanyikan oleh orangtua kami. Namun hal itu tak jadi penghalang kebahagiaanku. Aku memimpin lagu yang asing di telingaku dan membuat seisi bus tertawa heboh, seperti di tempat karaoke. Suara tawaku terdengar hingga mengejutkan teman-teman yang tidur di kursi bagian belakang. Kisah lain lagi saat aku dan teman-teman nyaris ditinggal bus sewaktu jalan-jalan di Malioboro dan tersesat di Candi Borobudur. Semua hal lucu itu sukses aku kemas dengan apik ke dalam tulisan. Bahkan teman-temanku memujiku karyaku dan menyemangatiku untuk terus menulis.

Advertisement

Saat itu aku berpikir, mungkin suatu saat aku bisa menjadi penulis. Terlebih, guru Bahasa Indonesia memberiku nilai A untuk tugas itu. Aku yang pernah minder untuk sekolah mulai memupuk mimpiku detik itu juga dan berkomitmen menulis apapun yang aku lalui di sekolah. Aku juga mulai menulis puisi untuk seorang laki-laki yang kutaksir dan membuat hadiah-hadiah kecil untuk teman dekatku melalui tulisan. Sehari-harinya, di sekolah aku juga rutin menulis tentang hal iseng saat memberikan surprise pada guru yang ulang tahun, tentang aku yang selalu mematung di depan papan tulis saat diminta mengerjakan soal matematika, dan betapa kacaunya percobaan yang kulakukan di laboratorium fisika bersama teman-teman kelompok.  

Ketika aku hilang semangat untuk menulis, aku bergegas mengingat kejadian lucu di sekolah yang bisa kujadikan bahan tulisan, seperti mengendap-endap membeli es krim di tengah jam pelajaran berlangsung. Kenakalan-kenakalan kecil yang terjadi selama aku sekolah mendorongku kembali menuliskan cerita dalam buku harianku. Aku tak terlalu peduli tentang kosa kataku, diksi, tata bahasa dalam menulis, tapi aku belajar untuk konsisten menulis terlebih dahulu dan memperbaiki kualitas tulisanku hari demi hari.

Aku tak menyebut diriku sempurna, namun setidaknya aku menemukan alasan untuk bahagia pergi ke sekolah. Akhirnya di sekolah aku sadar kalau setiap orang punya kelebihan yang harus diasah dan kekurangan yang wajar untuk diperbaiki. Aku menyadari bakat yang kumiliki lewat pelajaran favoritku. Senang rasanya saat menjadi orang yang maju pertama kali menjawab pertanyaan dari guru Bahasa Indonesia dan mempresentasikan sebuah topik di kelas. Itulah caraku mengekspresikan diri. Tak ada alasan bagiku untuk membenci sekolah, karena ada pelajaran yang kunantikan, ada teman-teman yang siap mendengarkan curhatanku, guru-guru yang mendukung cita-citaku, dan siap bercanda dan menghibur ketika aku mendapat nilai matematika yang jelek. Sekolah bagiku adalah waktu untuk mengeksplorasi bakat,  lebih mengenal karakter diri, bergaul dengan banyak teman, dan menyelami berbagai bidang untuk merajut cerita ke dalam tulisan.

Tak lengkap rasanya jika aku nggak bergabung di organisasi sekolah. Awalnya aku  takut, tapi seorang guru mengajak aku bergabung di OSIS. Perlahan aku menikmati prosesnya. Aku berlatih untuk berbicara di depan umum, merasakan repotnya jadi pemimpin, dan berpendapat di tengah perbedaan ide yang ada.

Aku bersyukur berhasil menemukan sisi yang berbeda dari kehidupan sekolah dan kini aku menjadi seorang penulis di sebuah perusahaan start up.  Aku juga senang karena dapat menyalurkan hobi menulis di platform Hipwee. Aku yang sekarang tak lepas dari perjalananku yang dulu. Bukan berarti nggak bisa move on. Namun aku belajar banyak dari segudang pengalaman sewaktu sekolah. Kalau bisa berani melihat sesuatu dari sisi yang positif kenapa harus dipandang negatif?

Yuk! Remaja keren, coba temukan alasan untuk menikmati petualanganmu di sekolah. Selagi masih duduk di bangku sekolah atau kuliah, berpetualanglah dan jangan batasi diri. Daripada mengeluh untuk hal-hal yang nggak perlu, lebih baik mensyukurinya dan temukan sudut pandang yang nggak biasa dari keseharian biasa di sekolah. Selamat mencoba!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE