Awal bertemu, aku tak pernah menyangka akan terjadi hal seperti ini. Dulu, aku hanya menganggapmu sebagai senior yang harus kuhormati. Dirimu memang tidak sesempurna ketua organisasi yang lain, tapi aku melihat aura kepemimpinanmu semakin kuat sekarang.

Aku tahu, menjadi ketua organisasi tidak semudah yang dibayangkan. Kau pun berani mengakui kalau kau sempat beberapa kali melepas tanggung jawab dan menyerahkan tugasmu pada yang lain. Sejujurnya aku merasa lucu saat mendengarnya.

Advertisement

Dulu aku selalu bertemu denganmu di koridor sekolah.

Kau yang meminta para junior baru untuk saling menyapa jika bertemu, termasuk pada senior sepertimu, aku pun menurut dan memanggil namamu ketika melihatmu. Sambil memasang wajah jutek, kau menjawab dengan anggukan kepala. Aku tersenyum senang dan tidak mempermasalahkannya.

Advertisement

Ternyata ketua menyadari keberadaanku, pikirku waktu itu.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai mengenal sisi dirimu yang lain.

Meski sering terlihat jutek, namun kau tetap berusaha melakukan yang terbaik sebagai ketua organisasi. Bahkan saat aku menangis karena kalah lomba, kau dan senior yang lain mencoba menenangkanku. Tapi tetap saja, aku merasa kau sedikit kecewa. Padahal kau sudah memberiku waktumu untuk menjadi teman latihanku.

Maafkan aku yang tidak berpengalaman ini.

Perlahan cara pandangku pun berubah.

Seandainya aku punya kakak laki-laki sepertimu, mungkin hidupku tidak monoton, pikirku setelah kau resmi lulus. Saat itu, dalam hati aku merasa sedikit sedih karena tak bisa menyapamu lagi di koridor atau mendengar leluconmu yang terkadang tidak lucu di ruang ekskul. Namun sekitar satu bulan kemudian, kau pun muncul lagi dan mulai rutin berkunjung tiap hari Sabtu.

Di tahun keduaku, kau mulai bersikap aneh.

Malam itu, entah kenapa kau berbicara seolah sedang merayuku dengan ucapan penuh gombal. Aku pun langsung merinding. Kau kesurupan setan apa? Tapi aku tidak menyuarakannya dan hanya tertawa lalu mengambil jarak. Itulah awal dari semuanya.

Pada penghujung tahun, hati ini sudah dicuri oleh seseorang yang tak kuduga.

Persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu tak ada yang benar-benar terjadi. Banyak orang bilang demikian, begitu juga denganku. Aku tak pernah mengira jika hati ini memilih teman yang sudah kuanggap sahabat baik di organisasi. Bahkan di saat aku belum lama putus dari pacar pertamaku.

Rasa itu membutakanku seketika.

Walau bukan yang pertama, tapi aku merasa seperti baru pertama kali jatuh cinta. Aku pun bercerita pada temanku dan tidak menyangka jika hal itu mampu menyakiti tiga hati sekaligus. Termasuk dirimu. Aku yang buta arah memilih untuk tidak peduli meski temanku sudah memberi petunjuk tentangmu. Hatiku masih percaya jika dia memiliki rasa yang sama denganku. Aku tahu ini egois, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa ketika hati dan pikiranku berteriak memanggil namanya.

Di malam musim kemarau, kau pun mengutarakan isi hatimu.

Kau membuatku tak bisa berkata apa-apa. Aku diam sejenak kemudian membaca isi chat yang kau kirim. Berulang kali kubaca tetap tidak berubah. Aku tidak menjawab perasaanmu tapi aku yakin kalau kau tahu tentang perasaan terpendamku untuk seseorang. Walaupun di saat itu aku juga mulai menyadari sesuatu di antara dia dan temanku, tapi aku tetap tidak bisa menerimamu.

Sejak malam itu, kau mulai berusaha meyakinkanku.

Usahamu tidak sia-sia, kau tahu. Bukan perasaan, tapi tingkah laku dan cara penampilanku berubah jadi seperti yang sekarang. Secara tidak langsung kau sudah merubahku, aku berterimakasih pada sentilanmu itu. Di saat yang sama, aku semakin sadar jika dia tidak menyukaiku. Hanya menganggapku sebagai teman biasa. Di hatinya sudah ada orang lain yaitu temanku.

Untuk yang kedua kali aku merasa sakit hati atas cintaku yang tak berbalas. Itu lebih menyakitkan dari yang sebelumnya. Aku tak bercerita apa-apa padamu, tapi kau bersikap seolah tak melihatku yang sedang terpuruk. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang kau pikirkan dan apa tujuanmu dengan berusaha membuatku menyukaimu.

Timing-mu tidak pas, pikirku kemudian.

Mungkin ini yang namanya karma.

Setelah satu tahun lebih aku menolakmu untuk kuanggap lebih dari seorang senior biasa, kau pun menyerah. Ada rasa sedikit lega di hatiku ketika melihat dirimu yang sekarang. Satu per satu keinginanmu mulai terwujud. Aku turut senang. Sejak awal memang tak ada hubungan apa-apa di antara kau dan aku. Walaupun ada, aku tak tahu nama apa yang cocok dengan hubungan di mana tidak ada kata ‘kami’ di dalamnya. Tapi asam manis kenangan itu menjadi kenangan yang akan kujaga seumur hidup.

Mungkin rasa itu ada tanpa kusadari. Namun aku tidak banyak berharap kalau kau akan membalasnya kelak atau hanya sekedar tahu. Setelah semua yang terjadi, aku sadar. Aku telah melukaimu lebih dari yang kutahu. Meski aku sudah meminta maaf, tapi aku tahu kalau itu tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Aku harap kau bisa hidup bahagia dengan orang-orang yang mencintai dan menyayangimu setulus hati. Bukan setengah hati seperti yang kulakukan dulu.

Terima kasih sudah muncul dalam hidupku yang terasa monoton ini, Senpai.

Apapun yang terjadi, aku akan selalu doakan yang terbaik untukmu.

Dari kouhaimu yang tidak tahu diri.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya