Di hari bahagiamu, aku sertakan sejumlah doa untukmu. Doaku semoga kau selalu dalam lindunganNya dan teruslah berbaik sangka padaNya atas segala peristiwa yang diijinkanNya terjadi pada hidupmu. Kadang kau harus dikecewakanNya berkali-kali, agar hidupmu mampu menjadi kesaksian bagi orang lain.

Dan sekarang, sudah nyata pada dirimu. Dirimu telah bersaksi banyak hal padaku, hingga itu telah menjadi kado terindah ulang tahunku, ketika kau berpura-pura menyuruhku menunggu beberapa menit lalu kau kirimkan sepaket doa tepat di jam 12 malam. Kita tidak tinggal di kota dan waktu yang sama, hingga saat itu kau masih menyempatkan waktu di tengah kesibukanmu untuk mengirimkan sepaket doa yang sok romantis tapi berhasil meromantiskan suasana hening di tengah malam.

Advertisement

Karna hari ini adalah hari bahagiamu, ijinkanlah aku mengisahkanmu kira-kira setahun yang lalu sebelum kita memutuskan untuk bersama. Kau menerobos batas yang sudah aku ciptakan, namun tak pernah aku sadari. Berbekal kegigihanmu kau memanjat lalu dengan gesit mematahkan tembok itu, tembok pembatas yang aku ciptakan. Kau mengisi hariku dengan jadwal yang tak pernah aku kira, hingga menjadi suatu kebiasaan yang sama-sama kita nikmati.

Kau tanpa pernah merayu, tanpa pernah tak berkata jujur, tanpa pernah menutup segala kejadian semuanya kau curahkan ketika kita berdua. Semua harapan yang terbaik, telah kita semogakan di setiap pertemuan kita berdua. Ada sesak yang menyesakan bilamana kita saling tak berkomentar, namun tetap akan ada pencerahan atas hal itu. Kau dengan segala keengananmu akan kau tinggalkan bila bersamaku, karna kau tahu bahwa yang punya besar keengganan sebesar dunia ini adalah aku.

Karnanya, kau lebih sering mengalah. Itu pada awalnya, hingga sekarang kita telah saling terbiasa atas seluruh sikap kita yang menggambarkan watak kita. Kau adalah orang paling sabar dan penyayang, sedang aku adalah orang paling banyak bicara dan menciptakan suasana aneh di percakapan kita. Aku juga adalah gadis congkak dan terlalu berpura-pura tak peduli atas keadaanmu, bahkan ketika kau sedang mengiba padaku. Kadang kecongkakanku telah mencongkel seluruh ketulusan.

Advertisement

Yang tadinya telah ada di depan mata seketika mundur ratusan langkah karna tak betah atas kecongkakanku. Tapi ada yang berbeda dalam dirimu, kau punya langkah seribu menepis kecongkakanku, kau punya keberanian yang sedalam lautan mengimbangi kecongkakanku, kau punya sejuta pemanis ketika kecongkakanku memahitkan suasana kita, semuanya sudah kau tunjukan untuk menunjukan dirimu yang sebenarnya.

Dirimu yang sebenarnya adalah penuh dengan kehangatan. Dirimu penuh dengan belas kasih dan tak pernah sungkan untuk berkata soal rindu. Aku mengira itu adalah kegombalan paling umum di setiap awal hubungan, namun hingga sekarang kau terus berkata demikian. Dirimu juga penuh dengan kejujuran dan ketulusan. Seluruh duniamu bisa kau sandingkan dengan duniaku, kau bisa berlelah untuk menuruti seluruh permintaanku walau tak jarang aku kewalahan mengajarkannya padamu namun selalu kau katakan bahwa segala usahamu akan membuatku bangga memilikimu.

Dan iya, aku bukan saja bangga, bertambah pula rasa beruntungku telah memilikimu dan dipilih olehmu. Bagaimana rasanya ketika dahulu meyakinkanku ketika telah aku buat batasan diantara kita? Pasti tak menyenangkan bukan? Aku juga membayangkan di posisimu saat itu dan sempat aku hakimi diriku sendiri sebab aku terlalu berlebihan padamu. Namun aku sekarang mengerti, mengapa kau segigih itu kala itu. Karna kau memang pantas menunjukannya padaku, supaya aku tahu bagaimana caramu memperlakukanku.

Sejak awal kita berjanji untuk tak saling melukai, hingga sekarang kau masih tak pernah melukai. Hanya aku yang terus melukaimu, hingga kau pernah berhenti. Namun perhentianmu hanya bertahan sehari, karna setelahnya kau datang dengan sejumlah kata maaf dan meminta untuk diberi kesempatan. Saat itu, aku merasa sangat disakiti namun aku sadar bahwa akulah yang bersalah. Keinginan untuk bersamamu terlalu kuat, hingga aku mengangguk tanpa sadar.

Kau tersenyum dan mengenggam jemariku, lalu berjanji untuk tak bersikap seperti itu lagi. Setelah kejadian itu, kita semakin dewasa mengarungi hubungan kita. Kau memintaku untuk tak pernah bersembunyi atas segala keluh atas dirimu dan meminta kita untuk sama-sama terus memperbaiki diri untuk kenyamanan bersama.

Segala kekonyolanmu selalu terbalut dengan keseriusan hingga obrolan kita memang selalu menjadi kenyamanan abadi. Kau menggadaikan seluruh sikapmu yang tersipu di hadapanku bahkan ketika kau menghubungiku, ibumu sempat bertanya-tanya siapa yang membuatmu sibuk di luar.

Ketika kau mengisahkan itu, aku tersipu sendiri. Belum lagi kado-kado seperti “aku mencintaimu” selalu dituntut olehmu, sebagai kado dariku. Kau menunjukan cinta dengan cara paling sederhana. Tangan kita terlalu jarang untuk saling mengenggam, namun namaku selalu kau genggam dalam ingatanmu ketika hendak berbicara secara pribadi dengan Tuhan. Pertemuan kita hanya sebatas ponsel lima inchi yang akan terus terkuras dayanya bila kita berlebihan mengobrol di sana, namun tak sedikitpun aku merasa kurang.

Semakin ke sini, semakin aku sadar bahwa betapa baiknya Tuhan menghadiahi engkau dalam hidupku ketika aku sudah lelah berharap. Aku tahu, kau pria yang sangat membosankan. Tapi membosankannya dirimu, telah membuatku terkesan jutaan kali dalam sehari dengan perlakuanmu padaku.

Caramu yang hanya bertanya menu makanan apa yang aku makan, mengapa hari ini aku terlambat menjawab pesanmu? Mengapa hari ini aku tidur lebih awal? Apa kau sedang berbuat kesalahan hingga aku tak menjawab pesanmu? Pertanyaan-pertanyaanmu itu yang seketika membuatku mengerti apa itu perhatian yang sederhana, itulah dirimu.

Ini adalah sekecil ungkapan bahagia yang kurasa, karna telah bersamamu dan kutuliskan ini tepat di hari ulang tahunmu. Bila kau membacanya, jangan berterima kasih padaku. Sebab inilah ungkapan terima kasihku karna terlalu berbahagia memilikimu, dicintai olehmu, dan dipilihmu diantara semua gadis yang pernah maupun yang mendekatimu. Sekali lagi, selamat ulang tahun, Kekasihku!.


Aku mencintaimu. Dari Gadis Kecil, milikmu.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya