Semakin Dewasa, Ternyata Kita Semakin Dituntut untuk Menjadi Manusia

menjadi manusia

Beberapa orang terbuai dengan berbagai kesibukan, hingga malam adalah waktu yang tepat untuk mengkaji diri. Sudah sejauh mana kita melangkah? Masih sanggupkah kita merasakan lelah? Pada kenyataannya hidup memang bukan hanya milik kita, bahagianya dibagi rata begitupula dengan sedihnya. Sekeras apapun kita berjuang, yang memang untuk kita akan tetap sesuai porsinya.

Advertisement

Terkadang saking capeknya, banyak keluh yang terlontar dari mulut kita. Seperti pertanyaan


"Sebenarnya hidup bisa di jeda nggak, sih?"


Lalu, hati kecil kita menjawab

Advertisement


"Tidak. Sesakit apapun kamu, sehancur dan secapek apapun kamu waktu akan tetap berjalan"


Kalo mau nangis ya nangis aja, jangan menunggu jeda buat bisa lega. Menangis bukanlah sebuah dosa.

Sebenarnya apa sih yang kita kejar? Harta? Tahta? Atau cinta? Lucunya, manusia memang menginginkan ketiga nya. Tidak apa-apa, selama kita masih tetap menjadi manusia dalam mencarinya.

Advertisement

Jangan lupa, kalo tubuh tabah juga butuh rebah.

Istirahat bukan berarti kita berleha-leha, bukankah juang juga perlu ruang?

Katanya, orang sibuk itu nggak akan pernah ngerasain yang namanya sepi. Padahal yang paling riuh itu kan isi kepala, dan yang nggak bisa berhenti bicara itu hati. Jadi lebih capek mana? Diam dengan riuh, atau bergerak sambil bersorak? Aku rasa, yang kedua lebih nyata sakitnya.

Semakin dewasa kita akan semakin akrab dengan yang namanya kecewa. Padahal mau kenal aja nggak, tiba tiba waktu membuat kita akrab dan terbiasa. Makin sini makin harus tegas sama diri sendiri, bilangin kalo emang yang paling sayang, yang paling peduli, dan yang selalu ada buat kita ya kita sendiri. Orang lain cuma kasih donasi, sifatnya hanya sementara dan bisa hilang kapan saja.

Tidak apa-apa, menjadi manusia bukan berarti kamu harus selalu baik baik saja. Jika luka memang bagian dari hidup kita, salah satu cara untuk menguranginya dengan tidak menaruh harap pada sesama manusia. Inget, kita emang butuh orang lain, tapi bukan berarti kita selalu bergantung pada mereka.

Bisa kan membedakan butuh dan bergantung?

Untuk kamu yang sedang tidak baik-baik saja, merasa capek, merasa hidup sudah tidak bisa dihadapi, kemarilah! Kamu sedang butuh rumah. Jika tidak ada telinga, masih ada kertas dan pena. Luapkan segala lelah, beri waktu untuk merebah, pejamkan mata, nikmati nafas yang masih diberikan-Nya, lalu bangkit dengan semangat yang melejit.

Menjadi dewasa memang berat, namun kita cukup kuat. Semangat!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Menulis dengan hati, semoga mewakili, meskipun tidak semua pengalaman pribadi.

Editor

une femme libre