Single merupakan status yang banyak memiliki penganutnya di berbagai zaman. Begitu pula di zaman now yang meski terlihat banyak bukti keromantisan antar pasangan di media sosial. Masih ada saja para penikmat kesendirian yang kian lama membuat nyaman. Kita, sekaligus mengakui bahwa saya salah satu termasuk ke dalam golongan itu (single), sebenarnya bukannya tak ingin berpasangan dan menjalin hubungan. Tapi terkadang ada alasan yang membuat kami bertahan dalam status tanpa pasangan.

Segala sesuatu memang diciptakan berpasangan. Sendal yang kanan pun memiliki pasangan sendal kiri yang bersebelahan. Pun begitu pula setiap orang. Hanya kadang waktu saja yang belum mempertemukan. Bicara masalah kepastian, Tuhan sudah memastikan bahwa nanti mungkin saja pasanganku adalah kamu yang sedang membaca tulisan ini, yang perempuan tentunya. Ngomong masalah penantian, terkadang larut dalam kesendirian jauh lebih menenangkan. Di saat kami sendiri seolah kami bermesraan dengan alam, menjadi penikmat udara pagi dan hangatnya sinar mentari.

Advertisement


Kesendirian menawarkan ketenangan yang mana mungkin tidak didapatkan dari hasil sebuah hubungan, bahkan pula hubungan pertemanan. Kami hanya butuh waktu untuk jiwa ini merasa tenang dan kadang merenung dalam kesendirian.


Adakah hasrat itu muncul ke permukaan? Untuk sekedar mencicip manisnya sebuah hubungan? Momen-momen itu kerapkali datang mengetuk perasaan. Bayangkan bagaimana rasanya ketika kau makan sendirian dan tiba tiba di dekatmu ada pasangan yang lagi kasmaran sambil suap-suapan. Kadang ketika jalan, melihat pasangan yang begitu dekat pelukan seakan akan naik halilintar dufan. Menyakitkan? Tidak juga. Pastinya para single memandang sebuah hubungan bukan hanya sekedar bermesraan dan saling melontarkan kalimat sayang.

Pilihan menjadi penikmat kesendirian terkadang berdasar pada pengamalan. Hubungan yang dulu tak berjalan mulus sampai sekarang masih meninggalkan sobekan khusus serta harapan yang pupus. Tak ingin mengulangi untuk merasakannya lagi, memilih sendiri menjadi obat yang manjur sekali. Karena saat kita mencintai sepenuhnya dan cinta itu hancur begitu saja, pandangan tentang cinta tak lagi sama. Pandangan akan sebuah kebahagiaan tak lagi seutuhnya. Rasa kewasapadaan dan berhati hati mulai ikut andil dalam kata cinta yang dulu hanya sebatas romantisme keintiman.

Advertisement


Mengerti bahwa semua sudah akan ada pasangannya. Jodoh tak akan lagi kemana mana. Masalahnya adalah "dimana". Karena hal itu merupakan sebuah misteri, akan jauh lebih indah jika tetap menjadi misteri.


Menjadi sendiri bukan berarti cukup hanya menunggu dan bergalau diri. Sendiri menjadi waktu yang tepat untuk membenah diri. Tak melulu soal cinta, cita juga perlu untuk diurusi. Selagi masih muda, kapan lagi untuk benar benar mengeksplorasi diri. Mencari pengalaman keberbagai tempat dimuka bumi dan menjadi pribadi yang siap kelak untuk anak dan istri. Toh masa muda hanya sekali, nanti nanti sudah nggak bakalan muda lagi.

Single dan kesendirian bukanlah sebuah musibah yang perlu untuk ditangisi. Mungkin saja ini adalah cara Tuhan untuk membuat kita lebih mendekat kepada-Nya. Dia juga cemburu, saat kita selalu mengabari tiap jam yang kita sukai, kita lupa untuk sekedar mengabari-Nya tak lebih dari lima kali sehari. Saat kita begitu berharap akan cintanya, kita lupa akan besarnya cinta dari-Nya. Karena harap kita terlalu besar kepada insan, maka timbullah kepedihan, hingga akhirnya kita sadar bahwa harapan yang benar hanya kepada Tuhan.

Sendirian adalah cara Tuhan untuk membuat kita lebih sayang kepada diri sendiri. Untuk kembali mendekatkan diri pada illahi. Untuk paham, bahwa dengan mengerti makna kesendirian maka kita akan lebih menghargai arti sebuah keberadaan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya