Kembali Patah – Semoga Ini Adalah Patah Hati Terakhirku

Jika boleh aku meminta, semoga ini adalah patahku yang terakhir dan tidak ada patah yang berikutnya.

Setelah perpisahan hari itu, kupeluk diriku juga luka-luka yang masih basah dan menganga. Batinku berteriak merasakan kesakitan yang begitu hebat. Air mata juga seolah tak mau kalah, ia menampakkan dirinya dengan begitu deras dan tak mau berhenti. Berulang kali dikecewakan oleh seseorang yang aku percaya dia adalah rumah, aku masih bisa memaafkan dan menerimanya kembali.

Advertisement

Tapi, untuk hal yang satu ini rasanya sangat sulit untuk aku memberinya maaf apalagi menerima dia kembali. Apalagi kalau bukan pengkhianatan. Bagiku, aku tidak perlu menunggu berulang kali dikhianati untuk pergi. Cukup satu kali saja.

Hari demi hari aku rawat luka-luka itu. Kupeluk diriku sendiri. Kubiarkan air mataku mengalir begitu saja sampai benar-benar habis. Kutumpahkan semua luka dan rasa sakit yang dia berikan ke dalam goresan-goresan tinta yang seakan tak pernah habis. Dengan begitu, aku merasa lega meskipun hanya untuk sesaat. Jika sedih dan tangisanku kembali, maka aku kembali goreskan tinta sampai aku merasa tenang. Dalam batinku juga aku tanamkan rasa percaya bahwa waktu yang akan menyembuhkan semuanya, meskipun terasa begitu sulit.

Aku tutup pintu rapat-rapat dan aku tak mengizinkan seorangpun untuk masuk. Kupalingkan wajahku kepada siapa saja yang aku temui. Rasanya masih begitu sakit untuk memulai kembali. Aku hanya ingin nyaman dengan diriku sendiri. Aku tak ingin luka-luka yang sudah susah payah aku sembuhkan kembali basah. Aku tak ingin lagi membuat cerita dengan siapapun. Akhu benar-benar hanya ingin sendiri dan mencintai diriku sendiri.

Advertisement

Tapi semua itu berubah. Saat aku tak sengaja bertemu dengannya. Pintu yang tadinya aku tutup rapat, perlahan-lahan aku buka untuknya. Aku memberanikan diri untuk menolehkan wajahku. Kuizinkan dia masuk mendalami aku dan semua tentangku. Pun aku juga demikian.

Aku semakin lupa bahwa aku pernah patah. Aku nyaman saat berada di dekatnya. WhatsApp tak lagi menjadi lembaran kosong yang tak berarti. Notifikasi darinya selalu memberi warna dan menggetarkan.

Advertisement

Namun ternyata, patah hati tidak hanya sekali. Pun aku juga tidak bisa menghindarinya. Ya, aku kembali dipatahkan oleh seseorang yang aku anggap sebagai obat. Namun nyatanya dia justru menorehkan luka yang lebih dalam lagi. Aku kembali kecewa dan terpuruk dalam kesedihan. Kepergiannya yang begitu saja meninggalkan luka yang begitu perih. Hadirnya memang singkat tetapi kenangannya begitu melekat dan hangat.

Aku kembali berjalan sendirian, tertatih menyusuri jalan tanpa arah dan tujuan pasti, sembari menghapus kenangan bersamanya. Jika boleh aku meminta, semoga ini adalah patahku yang terakhir dan tidak ada patah yang berikutnya. Aku sudah cukup lelah jika harus kembali mengulang dan harus terluka karena perihal mencintai. Aku ingin hidup bersama seseorang yang memang benar-benar ditakdirkan untukku. Tapi bukan untuk sekarang, lukaku masih menganga. Untuk saat ini aku hanya ingin sembuh dan pulih agar jika nanti seseorang itu datang aku tak menyakitinya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pemimpi yang sedang belajar mengubah rasa menjadi kata~