[CERPEN] Bacalah! Semoga Kau Pahami Isi Hati Ini

Kamu akan tetap menjadi bagian terhangat dalam dekap rindu pada untaian doa yang masih tak terhingga.

Siang itu hari dimana untuk pertama kalinya kita bertemu setelah kira-kira setahun lamanya hanya berteman melalui dunia maya. Sebenarnya kita berada di kota yang sama. Tapi hanya biasa saling menyapa lewat maya, tepatnya dalam dunia yang tak nyata. Kata orang, dunia maya takkan seindah dunia nyata. 

Advertisement

Namun, hal itu sepertinya tidak berlaku bagiku. Karena bagiku pertemuan kita saat itu adalah awal rasaku padamu. Meski pada hari itu ada beberapa kejadian yang sempat membuatku takut. Hah. Untuk dua kejadian itu rasanya tak ingin kuingat lagi. Tapi itu telah menjadi bagian alur yang mengawali hariku bersamamu diakhir Desember 2018.

Sekitar 30 menit sebelum event sharing session bisnis online dimulai, aku berangkat naik ojek online menuju lokasi. Kupikir waktu yang sudah diperhitungkan akan pas. Aku akan sampai di lokasi tepat 10 menit atau maksimal 5 menit sebelum acara dimulai. Nyatanya perhitunganku salah. 

Ojek online yang kutumpangi melewati jalur yang berbeda dari biasanya. Katanya demi menghindari kemacetan, tapi akhirnya jalur perjalanan yang kami lalui memakan waktu yang semakin lama. Entahlah saat itu pikiranku sudah menjalar keman-mana. Takut kalau-kalau driver berniat jahat, maklumlah saat itu sedang rawan kejahatan. Untunglah saat itu jalanan yang kami lewati sudah kukenal. Jadi ketakutanku sedikit berkurang. 

Advertisement

Rasanya perjalanan hari ini teramat panjang. Dan benar akhirnya aku terlambat. Suasana di dalam ruangan lantai dua sudah ramai, tinggal sedikit kursi kosong yang tersedia. Sebelum menuju ke lantai dua, langkah kakiku sempat terhenti sejenak. Sepertinya disana tengah berdiri seseorang yang sudah lama kukenal. Dia sedang asyik bercerita dengan beberapa temannya. Ah tapi sudahlah. Nanti saja kusapa dirinya. Toh sekarang juga aku harus registrasi ulang.

“Kak Rio?” Sapaku setelah kulihat dia kini tepat berada di depanku.

Advertisement

“Ehm.. Feli?” Jawabnya sedikit ragu.

“Iya Feli Kak. Eh, aku naik dulu ya Kak bentar. Mau ke kamar kecil.”

“Oh iya. Nanti langsung cari tempat duduk aja ya.”

“Iya Kak, makasih.”

Event berlangsung kurang lebih sekitar tiga jam. Tak banyak saat itu yang bisa kami bicarakan. Karena sebagai panitia dia punya tugas sendiri yang harus dia lakukan. Tapi sesekali dia menghampiri tempat dudukku sambil sedikit berbincang tentang event yang tengah berlangsung. Kupikir wajar saja, karena mungkin diantara para peserta event yang dia kenal hanya aku. Dan aku, sesekali melirik ke arahnya mencari tahu apa yang tengah dia lakukan sembari mendengarkan penjelasan dari pemateri.

***

Entah sudah hari keberapa kita tak pernah lagi bersua. Sejak saat itu kami hanya kembali berteman lewat maya. Ingin sekali rasanya kusapa dirinya. Tapi sudahlah, ini masih terlalu pagi jika hanya kan kukatakan rindu kepadamu. Maka, kubiarkan saja sebersit angin di pagi ini kan membisikan rindu ini ke telingamu dengan sendirinya. 

Pun tentang siapa yang memiliki rindu paling utuh, kini tak perlu kau pertanyakan atau kau banding-bandingkan lagi. Karena bagiku merindukanmu menjadi bagian terberat yang harus kulalui setiap waktu.

Kumendambakanmu, mendambakanmu

Bila kau butuh telinga tuk mendengar

Bahu tuk bersandar

Raga tuk berlindung

Akulah orang yang selalu ada untukmu

Meski hanya sebatas teman

Lagu Garis Terdepan – Fiersa Besari menemani pagiku yang tengah berseluncur di dunia maya.menunggu update dari story atau feed instagrammu. Maklumlah hanya itu yang bisa kulakukan agar aku tahu bagaimana keadaan dirimu. Aku tahu pada akhirnya ini takkan baik untuk hatiku. Tapi sisi hatiku yang lainnya berkata tak apa-apa. Toh aku hanya ingin tahu, bukan bermaksud ingin menggangu. Dan kali ini aku mengikuti kata hatiku yang kedua. 

Ya, aku masih menjadi stalker terbaik yang diam-diam mendoakanmu meski tak pernah berani mengungkapkan rasa. Aku yang diam-diam merindu meski tak jua pernah bertemu. Kadang kupikir begitu lucunya ketika diam-diam kuamati foto-fotomu tanpa kau tahu. Namun, kadang aku juga berpikir bahwa mungkin saja di luar sana ada juga beberapa wanita lain yang melakukan hal sama seperti yang kulakukan ini atau bisa jadi lebih.

“Astaghfirullah, mau jadi apa aku ini yaa Allah? Maafkan aku yaa Allah.” Aku bergumam sendiri.

Entah sejak kapan aku mulai merasakan hal seperti ini terhadapmu. Kupikir sejak pertemuan kita dihari itu rindu ini mulai merasuk perlahan di hati. Ya, kupikir sebelumnya aku tak pernah merindukan seseorang setabah ini. Aku pun sungguh tak pernah mendoakan seseorang sekhusyu’ ini.

“Fel, jangan suka melamun gitu ah. Nggak baik. Masih pagi loh ini. Udah hampir setahun loh kamu nggak ketemu, tapi kok kamu masih suka kepo ya sama Kak Rio?” Tiba-tiba suara Dira menghamburkan lamunanku.

“Hahaha… nggak kok, aku nggak melamun. Aku juga nggak kepo Ra. Aku cuma liat-liat updatean instagramnya aja.”

“Huh dasar kamu. Udahlah bilang aja sana ke Kak Rio kalo kamu suka sama dia.”

“Nggak ah Ra. Malu aku tuh. Aku bukan siapa-siapa Ra. Aku juga nggak punya apa-apa. Coba kamu lihat Kak Rio. Siapa coba yang nggak suka sama dia? Udah kaya, nggak sombong, ramah, ganteng pula. Lah aku?” Kuhela nafas panjang sambal tertunduk lesu.

“Fel, siapa bilang kalo jodoh harus sama-sama punya segalanya. Kan kamu sendiri yang bilang gitu ke aku kemarin-kemarin. Kok sekarang kamu yang down.”

“Iya Ra, aku kadang suka down kalo lagi kepikiran gitu. Aku banyakin doa aja kali ya Ra. Biar Allah yang atur. Allah kan lebih tahu apa yang terbaik buat kita.”

“Nah gitu dong, itu baru Feli yang aku kenal. Kamu harus tetep nunggu jawaban terbaik dari Allah. Nggak usah cari perhatian lebih ke dia. Biar Allah yang tunjukin kalau Kak Rio baik atau nggak buat kamu. Posting aja terus tulisan-tulisan menarik tentang apa yang kamu pikirin kayak biasanya di instagram. Siapa tahu nanti dia baca, terus dia peka kalau yang selama ini seseorang yang jadi inspirasi tulisanmu itu adalah Kak Rio.”

“Makasih ya Ra supportnya. Meskipun kamu tahu kan aku belum terlalu jauh kenal sama Kak Rio. Tapi aku tahu kok kalau dia laki-laki baik.”

“Iya Fel, aku juga berpikir gitu kok. Nanti siapapun itu yang bakal jadi pendampingmu, kan nggak perlu pacaran sebelum menikah buat mengenalnya.  Tetap berpikir positif sama Allah ya sembari kamu menunggu jawaban dari Allah lewat sholat malammu.”

“Bener Ra. Nanti ta’arufan aja biar lebih Allah ridhoi jalannya.” Aku dan Dira pun bergegas pergi ke kantor setelah tersenyum bersama.

Pada akhirnya, penantian ini hanyalah setumpuk rindu yang tertahan diantara lirihnya doa dalam sujud yang panjang.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang perempuan penyuka hujan, puisi, dan penikmat fotografi.

CLOSE