Senja itu masih senja yang sama. Di atas cakrawala, ia senang memamerkan jubah keemasannya. Meski terkadang jubah itu tertutupi oleh awan kelabu, namun ia tetap menyambut datangnya tangisan dari langit dengan hati riang.

Senja itu masih senja yang sama. Menemani setiap insan yang tengah dilanda kerinduan, juga bagi mereka yang sedang merasa sepi. Banyak yang menitipkan pesan dan salam kepadanya, berharap diterima oleh mereka yang nun jauh di sana. Namun, ia tetap bergeming. Segan berkata kalau ia tak mampu menyampaikannya.

Advertisement

Senja itu masih senja yang sama. Menjadi saksi atas kedua anak cucu Adam yang tengah dimabuk asmara. Terkadang, ia iri, ingin merasakan kehangatan sebuah pelukan dan bercumbu mesra dengan kekasihnya. Ia juga risau setiap kali mendengar cerita, harapan, impian bahkan doa yang sering dilontarkan kepadanya. Bukan apa-apa, ia hanya takut tidak bisa menyampaikannya kepada Sang Penguasa Langit.

Senja itu juga masih senja yang sama. Menjadi teman bagi seseorang yang bertahan dalam kesendiriannya. Berharap agar selimut emasnya mampu menghibur banyak hati yang sedang merasai kepedihan. Namun, sekali lagi, ia hanyalah senja. Bukan pelipur lara apalagi duka.

***

Advertisement

Wajahnya putih seperti mutiara. Rambut hitam panjangnya diikat rapi dengan pita berwarna merah. Sesekali, ia lepas ikatan itu agar rambutnya dapat terbang bebas ditiup angin. Hidungnya yang mancung terlihat cocok dengan wajah ovalnya. Bibir mungilnya juga nampak menarik, apalagi dengan lipstik berwarna merah favoritnya. Terlihat ada lesung pipit ketika ia tersenyum, manis sekali. Sorot matanya begitu sayu, namun tidak mengurangi kecantikan yang dititipkan para Dewi Langit kepadanya.

Di sampingnya, berdiri seorang Lelaki berwajah oval. Rambut hitam cepaknya ditutupi oleh topibaseball. Sesekali bibirnya mendedangkan sebuah nada, meskipun tak terlalu terdengar dengan jelas. Tatapan matanya kosong, sekosong isi hatinya. Entah apa yang harus ia katakan pada Gadis cantik di samping kirinya ini.

“Akhirnya, aku tahu akan begini,” kata Gadis itu, memecah keheningan di antara keduanya. “aku tahu kamu akan segera pergi kan?”

Lelaki itu terkejut, tak menyangka Gadis itu begitu berani menanyakan hal yang ditakutkannya selama ini.

“Maafkan aku,” ucapnya, dan hanya itu saja yang bisa ia ucapkan.

Si Gadis pun tersenyum, berusaha menutupi kegundahannya selama beberapa hari ini. “Tak apa, aku bisa mengerti bahwa itu untuk kebaikanmu sendiri,”

“Terima kasih atas pengertianmu,” balas Lelaki itu. “aku janji, aku akan segera pulang.”

Dan senja pun menjadi saksi atas ketulusan hati Gadis yang tengah dirundung kepedihan itu.

***

Seorang gadis terlihat duduk termangu di tepi pantai. Rambut hitam panjangnya berkibar dititup angin. Kedua tangannya terlihat memeluk betisnya, bersikap seakan itulah hal yang paling membahagiakan bagi dirinya. Sorot matanya tajam, namun terlihat sayu. Seolah-olah mengekspresikan apa yang ada di hatinya selama ini.

Kala itu, ia masih mengira senja itu masih senja yang sama. Senja yang membawa kenangan indah bersama Lelaki yang sangat ia rindukan. Perbedaan waktu dan jarak membuat mereka tak bisasering-sering berkabar, apalagi bersua.

“Aku janji, aku akan segera pulang,” rupanya kalimat itu masih terngiang di benaknya, sebuah janji dari lelaki yang selalu dirindukannya. Kini, janji itu tidak lagi bermakna.

***

Mungkin ini hanyalah cerita tentang sebuah penantian yang tiada seorang pun tahu kapan akan segera berakhir. Menanti, satu hal yang paling dihindari setiap manusia. Tidak berhitung lagi betapa banyak harapan telah pupus hanya karena sebuah penantian. Meski tak dimungkiri, ada juga yang tetap menyimpan harapan itu, merajutnya satu demi satu dan kemudian disampaikan kepada Sang Penguasa Langit.

Ya, menanti. Entah sampai kapan akan berdamai dengan waktu demi sebuah penantian.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya