Seperti Lentera yang Menerangi Kegelapan. Aku Ingin Bermanfaat Bagimu, Sahabat


Sahabat,

Advertisement

Mengapa wajahmu dirundung kesedihan?

Terpapar kemendungan dari sinar yang kau buat-buat

Mengapa hatimu rapuh dan bergejolak?

Advertisement

Kosong isi pandangmu, terhuyung-huyung langkah kakimu..


Sahabat, matamu berbicara keperihan. Merintih penuh kesengsaraan. Aku dengar dunia mengutukmu, kau dihujani prasangka dan tuduhan. Berbagilah, luapkan beban dalam seberapapun jumlah keluhan. Bersandarlah, kamu perlu waktu merenung dalam pelukan. Sahabat, menepilah barang sesaat, istirahatlah sejenak, mari berbicara segala tentang kejujuran.

Lama aku mengenal, hanya lengkungan senyum yang kamu tampakan. Sejauh kita berteman, hanya manis yang kita perbincangkan. Sementara, renyahnya tawa tidak sekalipun mampu menutupi kegelisahan. Bahasa kebahagiaan, bukan apa yang terselimuti kepalsuan. Aku menangkap air muka kemuraman. Langkah kakimu tidak lagi ringan. Sorot matamu tidak lagi meneduhkan. Jelas kamu sedang berada dalam sudut kegelapan.


Seperti lentera yang menerangi kegelapan,

Aku ingin bermanfaat bagimu

Hadir menemani dalam buta penglihatan

Walau hanya dengan redup sinarku yang tak akan pernah mampu menggantikan cahaya surya


Menutup diri, memendam sendiri, apa tidak membuat bebanmu semakin berat? Sekalipun aku bukan pengobat luka, namun aku masih bisa menggenggam tanganmu dengan erat. Aku bersedia mendengarkan dengan baik segala curahan yang telah kamu sembunyikan dengan rapat. Jangan khawatir, air mata tidak akan mempengaruhi penilaianku atas dirimu yang hebat. Sebab, aku mengasihimu tanpa syarat.

Berat hati, aku membiarkanmu menepi dan sengsara. Sedang mereka tidak sedetikpun rela menghentikan huru-hara. Aku datang membawa air telaga pereda bara. Sungguh adalah sebuah ketulusan bila aku ingin melindungimu dengan kasih yang tak terkira. Jangan pernah lupa, sahabat adalah bukan tentang siapa yang lebih kuat, melainkan kita adalah setara. Sebab itu, lepaslah kerasnya pemikiranmu walau hanya sementara. Sudahi repotnya sandiwara. Berbagi, mari kita bicara.


“Selemah-lemah manusia ialah orang yang tak mau mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg menyia-nyiakan sahabat yang telah dicari.”

Sahabat sejati adalah belahan ruh

http://www.fiqihmuslim.com/2015/09/kata-mutiara-imam-ali-bin-abi-thalib.html


Izinkan aku mendampingi masa sulitmu. Izinkan aku menyeka butiran air yang tumpah dari matamu. Perkenankan tanganku merengkuh tubuhmu. Sahabatku, aku ingin membasuh keluh perjuanganmu. Turut merasakan getir cibir mereka yang angkuh terhadapmu. Memang aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan untukmu. Namun, demikian aku akan rela menangis bersamamu.

Sahabat bukan hanya tempat berhaha-hihi. Ayo jadikan persahabatan ini lebih berarti. Mari kita bersama banyak mencari. Melewati rintang yang serba-serbi. Menghadapi masalah yang tak kenal kondisi. Berusaha saling memperbaiki. Mendukung dan hadir memetakan solusi. Aku menawarkan pundak murni karena peduli, bukan sekedar basa-basi.


Sebaik-baik teman,

jika engkau tidak membutuhkannya,

dia akan bertambah dalam kecintaannya kepadamu,

dan jika engkau membutuhkannya,

dia tidak akan berkurang sedikitpun kecintaannya kepadamu

http://www.fiqihmuslim.com/2015/09/kata-mutiara-imam-ali-bin-abi-thalib.html


Bagiku, sahabat sebenarnya adalah mereka yang tak segan untuk saling merepotkan. Sahabat sebenarnya adalah mereka yang saling menawarkan pertolongan. Sahabat sebenarnya adalah mereka yang tidak pernah menggeraikan tabir sebagai penutup keterbukaan. Sahabat adalah mereka yang tetap tinggal setelah mengetahui kelebihan dan kekurangan. Dan dari setiap kemungkinan, semoga aku dan kamu adalah sebenarnya sahabat sebagaimana yang aku harapkan. Semoga kita saling memelihara kejujuran sebuah persahabatan.


True friendship multiplies the good in life and divides its evils.

Strive to have friends,

for life without friends is like life on a desert island…

to find one real friend in a lifetime is good fortune;

to keep is a blessing.


  • Baltasar Gracian


Dimana dan kapanpun artikel ini sampai kepadamu, aku hanya ingin menjelaskan betapa berharganya sebuah kejujuran, keterbukaan dan pengertian. Kamu masih sahabat terbaik, yang akan selalu aku percaya bahwa sejauh apapun menghilang, kamu akan pulang ke dalam pelukan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Saat matahari terbit, Aku bersembunyi.. Aku baru diperjalanan ketika senja mengantar matahari pulang keperaduan.. Diperbatasan menjelang petang, aku pelan-pelan datang.. Kemudian petang datang dan gelap membentang.. Disitulah baru aku berpendar.. Tak jarang aku datang bersama bintang dan meteor untuk sempurnakan sinar.. Akulah bulan- yang sedikit berubah menjadi wulan.. Membantumu memandang keindahan ditengah kegelapan.. Mengistirahatkan kilau yang bisa membuatmu silau.. Akulah bulan- yang memberikan kenyamanan dalam sepi... Waktu dimana kamu harus menepi.. Untuk sekedar bermimpi.. *Wulan*

CLOSE