Sampai saat ini aku tak habis pikir entah apa yang membuatmu berubah secepat kilat. Sejak kamu bertemu dengan perempuan itu, perempuan yang mengisi waktu liburanmu di kota tempat asalmu.

Sudah jauh hari kamu pamit kepadaku untuk kembali pulang ke kota tempatmu berasal, bertujuan silaturahmi dengan sanak saudaramu disana. Entah mengapa firasatku buruk saat mendengarnya, dan beberapa hari sebelum kamu berangkat aku bermimpi kamu menghilang begitu saja. Aku selalu berdoa agar kamu selamat sampai tujuan hingga kamu kembali lagi ke Jakarta.

Advertisement

Yah, aku rasa mimpiku itu suatu pertanda. Namun bukan pertanda buruk untuk mu, melainkan pertanda akan menggoreskan luka di hatiku. Saat kamu memberi kabar sudah tiba disana dengan selamat, betapa senang aku mendengarnya. Selang beberapa hari kamu lost contact dengan dalih sulit signal di perkampungan. Aku coba memaklumi.

Namun, malam itu betapa terkejutnya aku saat melihat social mediamu mengunggah foto dan video dengan seorang perempuan. Kamu berdalih lagi dia saudara yang membajak handphonemu, namun kali ini aku ada rasa keraguan. Apa wajar jika seorang saudara menulis caption dengan ungkapan cinta, rindu, merajuk manja dan mesra ? Kamu pikir itu sebuah candaan ? Aku tidak semudah itu pasrah meski aku terlalu dalam mencintai mu.

Puncaknya kamu menuduh aku tidak percaya lagi lalu lebih memilih untuk stay dengan perempuan itu. Apa kamu tahu ? betapa sakitnya aku saat harus menerima kenyataan itu semua. Sungguh aku tidak percaya, dalam sekejap kamu bukan lagi lelaki yang aku kenal. Bahkan ini semua terjadi saat hubungan sudah berjalan 32 bulan dan kita sepakat untuk berkomitmen.

Advertisement


Hati manusia memang cepat dan mudah berubah, yang semula takut kehilangan namun kenyataannya dia yang meninggalkan.


Ketahuilah sayang, kesalahan apapun yang pernah kamu perbuat aku selalu memaafkan, dan tidak segan aku memberi kesempatan berkali-kali dengan harapan kita mampu menjalani hubungan ini lebih baik lagi.

Aku hancur dan aku masih tidak terima, sehingga dengan bodohnya aku menyalahkan diriku sendiri atas apa yang telah terjadi. Namun itu dahulu sayang, kali ini aku bangkit, aku tidak akan berharap lagi untuk seorang yang mendua.

Sekarang aku sadar bahwa perlakuanmu dengan perempuan yang kamu bilang "saudara" itu bukanlah sebuah candaan. Namun itu kenyataan, sampai saat ini pun perlakuan kalian lebih dari sekedar saudara tepatnya seperti sepasang kekasih, bahkan teman-temanmu pun sudah mengakui dia pendampingmu yang baru. Baiklah sayang, kali ini aku mengalah. Tidak ada yang perlu aku paksakan untuk diperjuangkan lagi.

Aku selalu perpikir positif, mungkin kamu tidak bahagia selama bersama ku. Aku ikhlas jika perempuan itu membuat kamu bahagia. Aku selalu yakin bahwa Tuhan akan memberikan kebahagian yang lebih untukku. Dan tak perlu aku balas perlakuanmu dengan hal yang serupa.


Terima kasih atas pengalaman berharganya. Aku bersyukur itu semua pernah terjadi, dengan demikian aku lebih mencintai diriku sendiri dan aku bahagia saat ini aku lebih dekat dengan Tuhan.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya