Hai masa laluku,
Bagaimana kabarmu tanpaku?
Hai, aku masih menyukaimu sejak dulu, tidakkah kamu menyadarinya?


Sepatah kalimat tersebut ingin ku ucapkan jika aku menemuimu.

Advertisement

Inginku sentuh pundakmu dan mengatakannya tapi bibir ini tak mampu berucap.

Bisakah kamu saja yang mendengarkan apa yang hatiku ucapkan?

Advertisement

Teruntuk kamu, masa laluku

Tak berkurang sedikitpun perasaanku terhadapmu.

Masihkah aku menyukaimu?

Masihkah aku mengagumimu?

Masihkah aku merindukanmu?

Masihkah aku menunggumu?

Tentu. Bahkan perasaan ini semakin bertambah setiap harinya.

Rasa sesal dalam hati tak pernah hilang jika teringat keegoisanku memutuskan hubungan kita yang masih belia dan melepaskanmu begitu saja.

"Cinta Monyet", begitu ucap orang dewasa menyebut hubungan kita.

Dua sejoli yang menjalin cinta tanpa keseriusan dan tanpa dampak apapun ketika kita menyudahinya.

Tapi tidak, aku sungguh menyesalinya.

Kenapa saat itu tidak ku pertahankan saja "Cinta Monyet" itu menjadi kisah kita yang sesungguhnya.

Waktu terus berlalu.

Aku tetap menunggumu meskipun ada dia yang singgah di hatimu.

Ingin rasanya aku saja yang menggantikannya.

Tapi tiada sedikit pun niatku untuk merusak kebahagiaanmu.

Hingga tibalah saat dimana kamu sendiri.

Tanpa seorang bidadari, tanpa seorang pendamping, tanpa adanya tangan perempuan yang melingkar di tanganmu.

Aku memberanikan diri untuk menjalin komunikasi denganmu yang sempat terputus sejak beberapa tahun lalu.

Aku menghabiskan waktuku untuk bercengkrama denganmu melalui sosial media.

Bahkan kita sempat bertemu kembali setelah 5 tahun tak bersua.

Meski tanpa kesan, ku jadikan hari itu menjadi kenangan singkat tak terlupakan.

Setelah beberapa hari berlalu, aku merasa kamu jauh lebih bersahabat setelah pertemuan singkat itu.

Tetapi setelah itu…

Mengapa tiba-tiba saja kamu berubah menjauhiku?

Apa yang terjadi? Apa yang salah?

Kamu menanyakan hal yang sulit ku mengerti, hal yang sulit ku jelaskan.

Kamu membuatku kecewa, kamu membuatku ingin mundur saja.

Kamu merasa tidak nyaman akan kehadiranku yang seolah-olah seperti mata-mata hingga aku mengetahui seluk beluk tentangmu.

Hai masa laluku,

Aku adalah masa lalumu.

Aku mengenalmu sejak lama.

Aku memperhatikanmu sejak kita masih bersama hingga berpisah.

Kamu bukanlah orang asing bagiku.

Namamu pun tidaklah asing di telinga teman-temanku.

Beritamu selalu sampai di telingaku entah darimana datangnya.

Wajar saja jika aku mengetahui beberapa hal baru tentangmu.

Mengapa kamu merasa tidak nyaman atas kehadiranku?

Mengapa aku terlihat sebagai orang asing bagimu?

Mengapa kamu bertingkah seolah aku tidak pernah ada di kehidupanmu?

Mengapa kamu bertingkah seolah kita memang tidak pernah bertemu sebelumnya?

Hai, kita menjalin hubungan diawali dengan perkenalan yang terlalu singkatl.

Hingga banyak yang belum masing-masing kita pahami.

Kamu terlalu dingin sedangkan aku terlalu terbuka.

Tidak heran jika sikapku seolah tidak wajar untukmu, karena baru saat ini kita sadar bahwa kita berbeda.

Hai masa laluku.

Begitu banyak pria yang aku kagumi selama kau pergi.

Aku pun menyukai beberapa dari mereka.

Tetapi, entah mengapa perasaan itu hanya sebatas kagum dan hanya sementara.

Mereka tak pernah berhasil menggantikan tempatmu di hatiku.

Hai, aku memimpikanmu beberapa hari yang lalu.

Aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu dalam tidurku.

Tetapi mimpi ini berbeda.

Dekapanmu, raut wajahmu dan panggilan sayangmu.

Menunjukkan bahwa hubungan kita baik-baik saja dan seolah terasa nyata.

Jika aku menyadari bahwa saat itu aku hanya bermimpi.

Takkan kubiarkan mataku terbuka sampai cerita berakhir dengan sendirinya.

Hai masa laluku.

Begitu banyak dari mereka yang bersedia menjadi pendengarku.

Tak bosan mereka mendengarkan namamu dalam ceritaku.

Tak henti-hentinya mereka memaksaku untuk mengungkapkan perasaanku kepadamu, demi melepas beban yang selama ini kutahan sendiri.

Enam tahun bukanlah waktu yang singkat.

Bagi mereka ini sudah terlalu lama dan mereka menasihatiku untuk menghentikan semua ini dengan berbagai macam solusi yang mereka tawarkan kepadaku.

Aku mendengarkan mereka.

Aku membenarkan apa kata mereka.

Tetapi hatiku masih berkata “jangan tinggalkan dia”.

Hai masa laluku,

Kamu bisa datang kembali kepadaku kapan saja tanpa harus berjuang keras untuk membuka pintu hatiku.

Karena kamu memiliki kuncinya. Tapi saat ini kamu menghilangkannya.

Lekas cari kunci itu, jadikan aku sebagai tujuanmu.

Aku menunggumu karena aku percaya kamu tau arah jalan pulang.

Hai masa laluku,

Apakah kamu percaya akan takdir?

Aku percaya kita pernah disatukan, dipisahkan, dipertemukan kembali hingga dipisahkan kembali karena takdir.

Kita memiliki tujuan yang belum kita ketahui akhirnya akan seperti apa.

Sampai saat ini seringkali namamu terucap dalam doaku.

Aku selalu berdoa yang terbaik untukmu.

Aku selalu berdoa semoga takdir mempertemukan kita kembali dengan tujuan hidup yang sama.

Jika kelak memang kamu takdirku, semoga kita disatukan untuk mencapai masa depan yang baik.

Jika bukan kamu, yakinlah bahwa takdir yang kita miliki sesungguhnya jauh lebih baik.

Hai masa laluku.

Ingin rasanya kuceritakan kisah yang tak kamu ketahui selama kita berpisah beberapa tahun lamanya.

Bahkan begitu banyak kata maaf yang ingin kusampaikan kepadamu yang sampai ini belum sempat aku berucap.

Maafkan aku yang dulu begitu mudahnya melepaskanmu.

Maafkan aku yang tampak seperti telah melupakanmu meski sebenarnya aku masih saja mengaharapkanmu.

Maafkan aku yang kembali sebagai seseorang yang tidak sesuai harapanmu.

Maafkan aku yang masih setia menunggumu meski kamu tidak mengetahuinya.

Maafkan aku yang belum sempat mengungkapkan perasaan ini yang bahkan masih ada ketika aku menuliskan surat ini untukmu.

Maafkan aku yang bahkan menuliskan surat ini untukmu tanpa sepengetahuanmu

Maafkan aku..

Hai masa laluku..

Masihkah aku menyukaimu?

Masihkah aku mengagumimu?

Masihkah aku merindukanmu?

Masihkah aku menunggumu?

Tentu

Bahkan sampai detik ini pun, rasa ini untukmu tak pernah hilang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya