Bicara soal cinta, kita pasti diingatkan tentang seseorang yang sangat berarti dalam hidup kita. Seseorang yang sangat kita kasihi hingga kita rela melakukan apapun untuknya. Tapi gagasan itu perlu saya pertanyakan lagi di paragraf berikutnya.



Tapi kenapa ya, sering sekali cinta itu selalu mengecewakan. Atau sebenarnya bukan cinta yang salah, melainkan diri kita sendiri. Ya, mungkin kita yang terlalu banyak berharap terhadap manusia. Sebaliknya, manusia tidak pernah bisa memuaskan hasrat kita yang terlalu berlebihan ini.



Mungkin kesedihan dan kekecewaan yang kita rasakan ada karena kita terlalu mencintai sesuatu yang tak abadi. Lantas, apakah cinta itu hasrat? Tidak, karena dengan cinta dasar kemanusiaan dan hati nurani manusia dapat tergerak. Tanpa cinta, toh manusia masih bisa berkembang biak. Ah, memang cinta itu rumit. Tak seperti namanya yang mudah disebutkan oleh banyak pihak, bahkan anak kecil sekalipun yang tidak tahu apa-apa.



Sekarang ini stigma tentang cinta dikaitkan dengan ketertarikan seksual, yakni menyukai lawan jenis. Banyak pihak yang menganggap jika cinta itu turun dari mata ke hati. You know, percaya atau tidak, cinta dikaitkan dengan pandangan pertama.



Memang hal ini banyak menuai kontroversi. Menurut saya, cinta itu tidak datang dari indra pengelihatan, melainkan hati. Apapun yang berbentuk ketertarikan, itu bukan cinta, melainkan hasrat semata. Mengapa saya bilang begitu? Ya, banyak faktanya kan, semisal seorang suami yang meninggalkan istrinya karena istrinya sudah tidak semenarik saat ia masih gadis.



Oh, iya.. Masyarakat hedonisme itu menilai cinta dari materi, hal-hal yang berbau kebendaan seperti uang. Coba saja lihat mata-mata berbinar di luar sana yang rela kencan dengan si "Om" hanya karena lembaran kertas yang kita kenal sebagai rupiah. Lho, di mana cintanya? Cintanya hanya sebatas di mulut. Toh, cintanya itu hanya bisa diukur dengan lembaran rupiah. Jadi, si "Om" ini harus lebih bersabar dan memperbanyak atau paling tidak mempertahankan pundi-pundinya di mesin ATM.



Kalau saya bisa jujur, cinta itu sebenarnya tidak semudah seperti ejaannya yang mudah disebutkan mulut. Katanya memang simpel, tapi maknanya yang sulit.

 

Advertisement

Seperti, bagaimana kita bisa mencintai sesuatu yang tidak berbentuk, Tuhan misalnya? Masyarakat hedon menilai Tuhan sebagai bentuk harapan saja. Tempat mencurahkan curhatan sampah tidak bermutu. Lagi-lagi Tuhan hanya dijadikan pelampiasan. Jika ditanya cinta, ya sudah pasti tidak ada.



Tahu tidak, manusia itu makhluk egosentris. Tak mengapa kan kalau dunia kita ini disamakan dengan dunia hewan? Loh mengapa tidak. Hewan itu makhluk yang tidak memiliki kesetaraan, mereka hanya mementingkan perut di bawah perut, ingin selalu mendapat keuntungan. Kita ini apa bedanya?



Hanya saja manusia mengukurnya dengan kebendaan, terus memperkaya diri, terus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, tapi lupa dengan penderitaan orang lain. Dan menganggap itu urusan pribadi masing-masing. Berharap masuk surga, karena hidupnya tidak sesengsara pengamen jalanan, atau manusia tidak beruntung lainnya.



Hanya bisa menilai moral dan tidak bermoralnya seseorang dari sebelah mata, atau bahkan dengan binokular buta. Sementara realitas tidak sedangkal itu, realitas jauh lebih luas. Seperti orang fakir miskin yang harus dipukul kenyataan karena anaknya busung lapar kekurangan gizi. Di mana rasa cintanya terhadap anak, ya orangtuanya mencuri ayam milik kampung sebelah untuk memberi makan anaknya agar setidaknya mendapatkan sedikit protein dari ayam tersebut. Tapi si ayah tak kunjung pulang karena dihakimi masa. Coba lihat dengan mata kalian, di mata nilai cintanya. Jelas di pengorbananya. Sementara kita yang sudah berkecukupan hanya bisa menghakimi tanpa tahu ke akar-akarnya. Sebab kita menilai manusia dengan bermoral dan tidak. Tapi sekali lagi, realitas tidak sesempit itu.



Jadi, cinta itu diukur dengan pengorbanan. Jika kamu memiliki pasangan yang tak pernah berkata manis dengan bualan cintanya, pertahankan! Selama tindakan dan pengorbanannya nyata. Jangan merasa paling istimewa karena sering digombalin, nanti akhirnya malah sekotor gombal buat ngepel lantai.



Dunia ini terdiskriminasi dengan stigma yang menyesatkan. Stereotip itu bagaikan perekat yang ditempelkan di relung hati dan pikiran, jika kamu menentangnya maka kamu akan dihujat. Kamu berbeda, maka kamu ditendang.



Kesimpulannya, menurut pandangan saya, cinta itu adalah kemanusiaan. Jika kamu masih punya hati untuk peduli dengan orang yang bahkan belum kamu kenal sekalipun, itulah bentuk cinta. Menolong seseorang tanpa pamrih pun itu suatu bentuk cinta, jadi jangan kaitkan cinta dengan hasrat. Jangan mengartikan cinta sedangkal pemikiran anak SD.



Kamu tidak menyakiti hati orang lain saja, itulah cinta. Tidak menjadi manusia egosentris, itu cinta. Tidak melulu menghakimi orang lain tanpa kejelasan, itu berarti cinta.



Toh, syair-syair yang digembor-gemborkan atas nama cinta hanyalah bentuk kesepian si penyair saja. Atau itu bentuk pujian kepada sesuatu yang berwujud, yang indah paras dan perawakannya, namun tak dapat dimilikinya.



Jadi mengingat tentang judul opini ini, "Perlukah cinta itu ada?"

Jelas perlu, tanpa cinta, manusia tidak bisa menjadi manusia yang seutuhnya. Tanpa cinta, mana mungkin kita memanusiakan manusia lainnya. Tanpa cinta, bagaimana kita mengenal Tuhan yang tak berwujud. Tanpa cinta, mana mungkin ada pengorbanan. Dan tanpa cinta, kita ini hanya segerombolan zombie bermuka jelek, dan berbau busuk karena memakan bangkai saudara kita sendiri.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya